Suara.com - Ketika membahas sumber emisi metana, perhatian publik umumnya tertuju pada sektor pertanian, peternakan, energi, atau limbah.
Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa ada sumber emisi lain yang selama ini kurang mendapat perhatian, yakni lahan basah berukuran kecil yang tersebar di berbagai wilayah dunia.
Temuan tersebut dipublikasikan dalam studi berjudul The Underappreciated Importance of Small Wetlands in Global Methane Emissions. Penelitian ini mengungkap bahwa jutaan lahan basah kecil yang sebelumnya tidak terpetakan ternyata memiliki kontribusi yang signifikan terhadap emisi metana global.
Melalui pemanfaatan citra satelit beresolusi tinggi, para peneliti berhasil mengidentifikasi sekitar 160 juta lahan basah kecil yang sebelumnya tidak tercatat dalam berbagai inventarisasi global. Meski berukuran relatif kecil dan tersebar, kawasan-kawasan ini menyumbang sekitar 24 persen emisi metana dari lahan basah non-hutan di dunia.
Penelitian tersebut juga mencatat bahwa kontribusi emisi dari lahan basah kecil meningkat sekitar 9,9 persen selama periode 2003 hingga 2022.
Penulis utama penelitian, Fa Li, mengatakan bahwa peran lahan basah kecil selama ini kerap terabaikan karena sulit dipetakan.
“Lahan basah kecil mudah terlewatkan di peta, tetapi jumlahnya tidak sedikit dalam anggaran metana,” ujar Fa Li.
Peran Mikroorganisme di Balik Emisi Metana
Lahan basah menghasilkan metana melalui proses alami yang terjadi di dalam tanah yang tergenang air. Ketika tanah berada dalam kondisi jenuh air, pasokan oksigen menjadi sangat terbatas.
Dalam lingkungan minim oksigen tersebut, mikroorganisme tertentu menguraikan bahan organik dan menghasilkan metana sebagai produk sampingan. Semakin luas area yang mengalami kondisi tersebut, semakin besar pula potensi emisi yang dihasilkan.
Metana merupakan salah satu gas rumah kaca yang memiliki dampak besar terhadap perubahan iklim. Menurut berbagai penelitian iklim, metana mampu memerangkap panas sekitar 80 kali lebih kuat dibandingkan karbon dioksida (CO2) dalam periode 20 tahun pertama setelah dilepaskan ke atmosfer.
Karena itu, meskipun konsentrasinya di atmosfer lebih rendah dibandingkan CO2, metana tetap menjadi salah satu faktor penting yang mempercepat pemanasan global.
Relevan bagi Indonesia yang Kaya Lahan Basah
Temuan ini menjadi penting bagi Indonesia yang memiliki kawasan lahan basah sangat luas, mulai dari gambut, rawa, hingga mangrove.
Berdasarkan data Global Wetlands yang dikutip Satya Bumi pada Juni 2026, Indonesia memiliki sekitar 37,68 juta hektare lahan basah atau menjadi negara dengan kawasan lahan basah terluas kedua di dunia setelah Brasil. Dari jumlah tersebut, sekitar 59,26 persen merupakan lahan gambut.
Ekosistem lahan basah selama ini dikenal memiliki peran penting dalam menyimpan karbon. Data yang dikutip Jejakin menunjukkan bahwa lahan gambut menyimpan lebih dari 30 persen karbon tanah dunia, sehingga berfungsi sebagai salah satu benteng alami dalam mitigasi perubahan iklim.
Namun, penelitian terbaru ini menunjukkan bahwa lahan basah tidak hanya berperan sebagai penyerap dan penyimpan karbon. Dalam kondisi tertentu, ekosistem tersebut juga dapat menjadi sumber emisi metana yang perlu diperhitungkan dalam kebijakan iklim.
Area Kecil Tidak Boleh Diabaikan
Para peneliti menilai temuan ini menunjukkan pentingnya memperluas pemantauan emisi hingga ke area-area lahan basah berukuran kecil yang selama ini sering luput dari inventarisasi.
Selama ini, pemantauan dan kebijakan konservasi lebih banyak berfokus pada kawasan lahan basah berskala besar. Padahal, jika dikumpulkan secara keseluruhan, jutaan lahan basah kecil dapat memberikan kontribusi yang signifikan terhadap emisi metana global.
Dengan data yang lebih lengkap, pemerintah dan pemangku kepentingan dapat menghitung emisi gas rumah kaca secara lebih akurat sekaligus merancang strategi pengelolaan lahan basah yang lebih efektif. Temuan ini juga menjadi pengingat bahwa dalam upaya menghadapi perubahan iklim, kawasan yang tampak kecil sekalipun dapat memiliki dampak yang besar terhadap sistem iklim global.
Penulis: Natasha Suhendra