Konservasi atau Pertumbuhan Ekonomi? Penelitian Ungkap Kita Tak Harus PIlih Salah Satu

Bimo Aria Fundrika

Rabu, 10 Juni 2026 | 15:05 WIB
Konservasi atau Pertumbuhan Ekonomi? Penelitian Ungkap Kita Tak Harus PIlih Salah Satu
Potret Hamparan Lahan Pertanian (Pexels/Cak Pan)

Suara.com - Selama ini, perlindungan lingkungan kerap dianggap sebagai hambatan bagi pertumbuhan ekonomi. Di banyak negara, termasuk Indonesia, upaya konservasi sering dipandang bertentangan dengan kebutuhan meningkatkan produksi pangan, membuka lapangan kerja, atau memperluas investasi.

Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa kedua tujuan tersebut tidak selalu harus dipertentangkan.

Penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti dari University of Minnesota dan dipublikasikan dalam jurnal Science menemukan bahwa pengelolaan lahan yang lebih efisien dapat memberikan manfaat ganda, yakni meningkatkan nilai ekonomi sekaligus memperkuat perlindungan lingkungan.

Peneliti utama studi tersebut, Stephen Polasky, mengatakan bahwa krisis iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati sering dianggap terlalu mahal untuk diatasi.

Padahal, menurutnya, terdapat berbagai strategi yang memungkinkan kedua tantangan tersebut ditangani secara bersamaan.

“Salah satu alasan utama melakukan penelitian ini adalah untuk menunjukkan bahwa ada cara-cara yang lebih efisien untuk mengatasi perubahan iklim dan kehilangan keanekaragaman hayati tanpa membuat masyarakat mengalami kerugian ekonomi,” ujar Polasky.

Dalam penelitian tersebut, para ilmuwan menganalisis data dari 146 negara dengan menggabungkan informasi ekonomi dan lingkungan. Model yang dikembangkan digunakan untuk mengidentifikasi pola pemanfaatan lahan yang mampu menghasilkan nilai ekonomi lebih tinggi tanpa mengorbankan fungsi ekologis.

Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar negara masih memiliki peluang besar untuk mengoptimalkan penggunaan lahan. Dengan tata kelola yang lebih baik, negara-negara tersebut dapat meningkatkan konservasi keanekaragaman hayati, memperkuat mitigasi perubahan iklim, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi.

Secara global, penelitian ini memperkirakan bahwa pengelolaan lahan yang lebih strategis berpotensi meningkatkan kapasitas mitigasi iklim lebih dari 200 miliar ton gas rumah kaca atau lebih dari 20 persen dibandingkan kondisi saat ini.

Selain itu, nilai ekonomi dari sektor pertanian, peternakan, dan kehutanan diperkirakan dapat meningkat lebih dari 350 miliar dolar Amerika Serikat tanpa mengurangi target konservasi maupun produksi pangan.

Menurut para peneliti, salah satu kunci untuk mencapai tujuan tersebut adalah mengalokasikan kembali penggunaan lahan berdasarkan nilai ekonomi dan ekologinya.

Kawasan yang memiliki nilai konservasi tinggi dapat diprioritaskan untuk restorasi dan perlindungan, sementara produktivitas lahan pertanian yang sudah ada ditingkatkan agar kebutuhan pangan tetap terpenuhi tanpa harus membuka kawasan baru.

Pendekatan ini dinilai relevan bagi Indonesia yang memiliki kekayaan hayati tinggi sekaligus menghadapi tekanan akibat perubahan penggunaan lahan. Berbagai upaya seperti restorasi hutan, rehabilitasi lahan kritis, pengembangan agroforestri, hingga peningkatan produktivitas pertanian di lahan eksisting dapat menjadi bagian dari strategi pembangunan yang lebih berkelanjutan.

Ilmuwan Utama Keanekaragaman Hayati Global di World Wildlife Fund, Becky Chaplin-Kramer, menilai hasil penelitian ini memperkuat bukti bahwa perlindungan alam dan pertumbuhan ekonomi tidak harus berjalan berlawanan.

“Penelitian ini membuktikan bahwa anggapan adanya pertukaran antara melindungi alam dan pertumbuhan ekonomi adalah salah,” ujarnya.

Temuan tersebut memberikan gambaran bahwa pembangunan ekonomi dan pelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan, asalkan didukung oleh perencanaan tata guna lahan yang lebih tepat, berbasis data, dan mempertimbangkan manfaat jangka panjang bagi manusia maupun alam.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Membaca Jakarta dari Ruang Hijau: Catatan Sehari Bersama Ayo ke Taman

Membaca Jakarta dari Ruang Hijau: Catatan Sehari Bersama Ayo ke Taman

Lifestyle | Rabu, 10 Juni 2026 | 14:05 WIB

Mengapa Lahan Basah Kecil Perlu Diperhitungkan dalam Upaya Mitigasi Perubahan Iklim?

Mengapa Lahan Basah Kecil Perlu Diperhitungkan dalam Upaya Mitigasi Perubahan Iklim?

News | Rabu, 10 Juni 2026 | 13:45 WIB

Sampah Plastik Dibakar untuk Memasak: Solusi Murah atau Ancaman Diam-Diam?

Sampah Plastik Dibakar untuk Memasak: Solusi Murah atau Ancaman Diam-Diam?

Your Say | Rabu, 10 Juni 2026 | 13:25 WIB

Terkini

Hanya Kirim PDF Tanpa Balasan, Polres Jakpus Jelaskan Soal Aksi BEM UI Tak Ajukan Izin Resmi

Hanya Kirim PDF Tanpa Balasan, Polres Jakpus Jelaskan Soal Aksi BEM UI Tak Ajukan Izin Resmi

News | Minggu, 14 Juni 2026 | 12:55 WIB

3 Fakta Dugaan Korupsi MBG: Kejagung Geledah Enam Lokasi, DPR Minta Program Dihentikan

3 Fakta Dugaan Korupsi MBG: Kejagung Geledah Enam Lokasi, DPR Minta Program Dihentikan

News | Minggu, 14 Juni 2026 | 12:50 WIB

Jangan Adu Rakyat vs Rakyat, TB Hasanuddin Tegaskan Komcad Tak Boleh Hadapi Demo Mahasiswa

Jangan Adu Rakyat vs Rakyat, TB Hasanuddin Tegaskan Komcad Tak Boleh Hadapi Demo Mahasiswa

News | Minggu, 14 Juni 2026 | 12:47 WIB

Nasib 21 Ribu Motor Listrik Era Dadan, Jadi Besi Tua atau Dipaksa Jalan Demi MBG?

Nasib 21 Ribu Motor Listrik Era Dadan, Jadi Besi Tua atau Dipaksa Jalan Demi MBG?

News | Minggu, 14 Juni 2026 | 12:33 WIB

Divonis 13 Tahun Penjara, Sejumlah Pakar Duga Ada Kejanggalan di Putusan Hukum Arief Pramuhanto

Divonis 13 Tahun Penjara, Sejumlah Pakar Duga Ada Kejanggalan di Putusan Hukum Arief Pramuhanto

News | Minggu, 14 Juni 2026 | 12:00 WIB

Partai Gelora Desak Penghapusan Threshold, Klaim DPR Buka Ruang Diskusi

Partai Gelora Desak Penghapusan Threshold, Klaim DPR Buka Ruang Diskusi

News | Minggu, 14 Juni 2026 | 11:50 WIB

Anis Matta Akui Partai Gelora Terganjal Logistik, Urusan Pendanaan Jadi Persoalan Besar

Anis Matta Akui Partai Gelora Terganjal Logistik, Urusan Pendanaan Jadi Persoalan Besar

News | Minggu, 14 Juni 2026 | 11:40 WIB

ICW: Vonis Rendah Pejabat BPK Tak Beri Efek Jera, Korupsi Terus Berulang

ICW: Vonis Rendah Pejabat BPK Tak Beri Efek Jera, Korupsi Terus Berulang

News | Minggu, 14 Juni 2026 | 11:21 WIB

Warga Jakarta Bisa Masuk Gratis ke Ancol dan Ragunan, Cek Jadwal dan Caranya

Warga Jakarta Bisa Masuk Gratis ke Ancol dan Ragunan, Cek Jadwal dan Caranya

News | Minggu, 14 Juni 2026 | 10:47 WIB

Evaluasi MBG dan Krisis Regenerasi Petani Jadi Sorotan, Dudung Akui Program Perlu Ditata Ulang

Evaluasi MBG dan Krisis Regenerasi Petani Jadi Sorotan, Dudung Akui Program Perlu Ditata Ulang

News | Minggu, 14 Juni 2026 | 09:20 WIB