Kenaikan Pertamax Wajib Diiringi Perbaikan Layanan dan Mutu!

Muhammad Yasir

Kamis, 11 Juni 2026 | 17:25 WIB
Kenaikan Pertamax Wajib Diiringi Perbaikan Layanan dan Mutu!
Pengendara sepeda motor mengisi bahan bakar minyak (BBM) di SPBU di Jakarta, Rabu (10/6/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]
baca 10 detik
  • Kenaikan BBM nonsubsidi Pertamax menjadi Rp16.250 per liter dipicu tekanan harga minyak dunia dan pelemahan rupiah.
  • YLKI menuntut pemerintah dan Pertamina meningkatkan kualitas layanan serta transparans, sebagai timbal balik atas kenaikan harga BBM.
  • Kebijakan penyesuaian harga dilakukan guna menekan beban fiskal APBN serta menjaga stabilitas ekonomi nasional akibat tekanan energi global.

Suara.com - Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menilai keputusan pemerintah menaikkan harga BBM nonsubsidi Pertamax menjadi Rp16.250 per liter perlu diiringi peningkatan kualitas produk dan layanan.

Sekretaris Eksekutif YLKI Rio Priambodo mengatakan, harga BBM nonsubsidi memang dipengaruhi oleh dinamika harga minyak dunia dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Karena itu, penyesuaian harga dinilai sebagai konsekuensi yang sulit dihindari.

Meski demikian, menurut Rio, konsumen berhak memperoleh manfaat yang setara dari kenaikan harga yang mereka bayar.

"Konsumen tidak boleh hanya diminta menerima kenaikan harga tanpa memperoleh peningkatan manfaat dan kualitas layanan yang sepadan," kata Rio kepada wartawan, Kamis (11/6/2026).

Ia menegaskan, masyarakat berhak mendapatkan jaminan kualitas BBM yang baik, kemudahan akses, keandalan distribusi, akurasi takaran, hingga pelayanan yang lebih baik di seluruh SPBU.

Selain soal kualitas layanan, YLKI juga mendorong Pertamina dan pemerintah meningkatkan transparansi dalam menyampaikan informasi terkait perubahan harga BBM.

Menurut Rio, komunikasi publik yang terbuka penting agar masyarakat memahami alasan di balik kebijakan penyesuaian harga tersebut.

Daftar Harga BBM Pertamina per 10 Juni 2026. Desain Suara.com/AI
Daftar Harga BBM Pertamina per 10 Juni 2026. Desain Suara.com/AI

Pandangan serupa disampaikan Pengamat Kebijakan Publik Universitas Padjadjaran (Unpad), Bonti Wiradinata.

Ia menilai kenaikan harga Pertamax sebenarnya sudah terlambat dilakukan mengingat tekanan harga energi global dan pelemahan rupiah telah berlangsung sejak awal tahun.

baca juga

Menurut Bonti, selama beberapa bulan terakhir pemerintah memilih menahan harga BBM nonsubsidi demi menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas ekonomi nasional.

"Indonesia memang cenderung memiliki frekuensi penyesuaian yang lebih jarang dan bertahap," ujar Bonti.

Ia menjelaskan, harga Pertamax sebagai BBM nonsubsidi pada dasarnya mengikuti perkembangan harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah. Ketika kedua faktor tersebut terus mengalami tekanan, pemerintah pada akhirnya harus melakukan penyesuaian untuk menghindari beban fiskal yang lebih besar.

Bonti menilai langkah pemerintah menahan harga selama beberapa bulan terakhir memberi ruang bagi masyarakat dan pelaku usaha untuk beradaptasi. Namun, ia mengingatkan bahwa semakin lama penyesuaian harga ditunda, semakin besar pula tekanan yang harus ditanggung negara maupun badan usaha energi.

"Urgensi menaikkan harga BBM ini saya perkirakan terkait dengan strategi pemerintah dalam mempertahankan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS serta mengatasi tekanan APBN yang terjadi sebagai akibat pelemahan rupiah tersebut," katanya.

Menurut Bonti, mempertahankan harga BBM nonsubsidi di bawah harga keekonomian dalam waktu lama berisiko membebani arus kas dan memperbesar kebutuhan kompensasi energi.

"Dengan menyesuaikan harga, pemerintah meminimalisir potensi pembengkakan biaya kompensasi energi. Ini adalah upaya untuk memastikan bahwa APBN tetap fokus pada pembiayaan prioritas lain," ujarnya.

Ia juga menilai risiko gejolak sosial akibat kenaikan Pertamax relatif lebih kecil dibandingkan apabila pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi. Sebab, pengguna Pertamax umumnya memiliki lebih banyak pilihan untuk menyesuaikan pola konsumsi energinya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Harga Pertamax Naik, Buruh Khawatir Kuota Pertalite Tak Mampu Menampung Lonjakan Pengguna

Harga Pertamax Naik, Buruh Khawatir Kuota Pertalite Tak Mampu Menampung Lonjakan Pengguna

News | Kamis, 11 Juni 2026 | 17:18 WIB

Legislator PDIP Kecewa Pertamax Naik Diam-diam: Tanpa Sosialisasi, Tanpa Penjelasan

Legislator PDIP Kecewa Pertamax Naik Diam-diam: Tanpa Sosialisasi, Tanpa Penjelasan

News | Kamis, 11 Juni 2026 | 15:08 WIB

Bahan Pokok Naik tapi Rokok Dimurahkan, Koalisi Sipil Geruduk Kemenkeu Protes Kebijakan Purbaya

Bahan Pokok Naik tapi Rokok Dimurahkan, Koalisi Sipil Geruduk Kemenkeu Protes Kebijakan Purbaya

News | Kamis, 11 Juni 2026 | 14:38 WIB

Terkini

Buka Suara Soal Pemeriksaan KPK, Wabup Bogor Jaro Ade: Kita Harus Taat Hukum

Buka Suara Soal Pemeriksaan KPK, Wabup Bogor Jaro Ade: Kita Harus Taat Hukum

Jabar | Kamis, 29 Oktober 2026 | 05:05 WIB

Dihadiri Para Menteri dan Ketua MPR, EIGER Nature Resmi Diluncurkan di Kabupaten Bogor

Dihadiri Para Menteri dan Ketua MPR, EIGER Nature Resmi Diluncurkan di Kabupaten Bogor

Jabar | Kamis, 29 Oktober 2026 | 03:10 WIB

Dari Cisarua ke Dramaga, Dugaan Keracunan MBG di Bogor Belum Temukan Titik Terang

Dari Cisarua ke Dramaga, Dugaan Keracunan MBG di Bogor Belum Temukan Titik Terang

Bogor | Kamis, 29 Oktober 2026 | 02:10 WIB

Kronologi Kericuhan Malioboro Usai Demo Sumpah Pemuda, Massa Tak Dikenal Serang Gedung DPRD DIY

Kronologi Kericuhan Malioboro Usai Demo Sumpah Pemuda, Massa Tak Dikenal Serang Gedung DPRD DIY

Jogja | Kamis, 29 Oktober 2026 | 01:18 WIB

20 Tahun Mengabdi, Irsan Jadi Calon Tunggal Ketua BPC Gapensi Kabupaten Bogor

20 Tahun Mengabdi, Irsan Jadi Calon Tunggal Ketua BPC Gapensi Kabupaten Bogor

Bogor | Kamis, 29 Oktober 2026 | 01:05 WIB

Dari Serang, Jakarta hingga Sukabumi: Kronologi Polresta Serang Kota Gagalkan Peredaran 8,8 Kg Sabu

Dari Serang, Jakarta hingga Sukabumi: Kronologi Polresta Serang Kota Gagalkan Peredaran 8,8 Kg Sabu

Banten | Kamis, 29 Oktober 2026 | 01:00 WIB

Persib Kalahkan Melbourne Victory 2-0, Igor Tolic: Grup Belum Usai

Persib Kalahkan Melbourne Victory 2-0, Igor Tolic: Grup Belum Usai

Jabar | Kamis, 29 Oktober 2026 | 00:35 WIB

Umuh Muchtar Buka Suara Usai Pelaku Pembacokan Bobotoh Ditangkap: Mohon Bobotoh Jangan Dendam

Umuh Muchtar Buka Suara Usai Pelaku Pembacokan Bobotoh Ditangkap: Mohon Bobotoh Jangan Dendam

Jabar | Kamis, 29 Oktober 2026 | 00:21 WIB

Polda DIY Pastikan Malioboro Dalam Kendali Penuh Usai Kerahkan Water Cannon dan Gas Air Mata

Polda DIY Pastikan Malioboro Dalam Kendali Penuh Usai Kerahkan Water Cannon dan Gas Air Mata

Jogja | Kamis, 29 Oktober 2026 | 00:14 WIB

Mahasiswa Kemah di Kantor Gubernur Sumsel saat Sumpah Pemuda, Desak Transparansi Anggaran Karhutla

Mahasiswa Kemah di Kantor Gubernur Sumsel saat Sumpah Pemuda, Desak Transparansi Anggaran Karhutla

Sumsel | Rabu, 28 Oktober 2026 | 23:44 WIB

×