Suara.com - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi kembali mendorong perhatian terhadap pengembangan sumber energi alternatif di tingkat lokal.
Tekanan terhadap sektor energi domestik belakangan semakin terasa setelah nilai tukar rupiah melemah, harga minyak dunia naik akibat konflik geopolitik di Timur Tengah, dan biaya distribusi meningkat. Per 10 Juni 2026, harga Pertamax tercatat naik menjadi Rp16.250 per liter dan Pertamax Green 95 menjadi Rp17.000 per liter.
Di tengah situasi tersebut, pendekatan waste to energy atau pengolahan sampah menjadi energi mulai dilihat sebagai salah satu opsi untuk memperluas sumber pasokan energi sekaligus mengurangi timbulan sampah.
Salah satu inisiatif tersebut dikembangkan oleh Kertabumi Recycling Center di Tangerang Selatan melalui teknologi pirolisis yang mengolah sampah plastik, termasuk popok sekali pakai, menjadi bahan bakar alternatif.
Namun, pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa pengembangan teknologi ini menghadapi tantangan yang tidak hanya bersifat teknis.
Pendiri sekaligus CEO Kertabumi, Ikbal Alexander, mengatakan kendala terbesar justru muncul dari kualitas bahan baku yang tersedia.
Menurut dia, proses pirolisis membutuhkan sampah plastik yang telah dipilah dengan baik agar pengolahan tetap efisien.
“Tantangan utama adalah tingkat pemilahan sampah yang rendah karena masyarakat belum mau memilah. Apabila sampah plastik terkontaminasi sampah makanan, itu sudah tidak dapat didaur ulang karena biaya pencucian dan pengeringan akan lebih mahal dibandingkan nilai plastiknya,” kata Ikbal.
Kondisi tersebut membuat pengembangan teknologi tidak bisa berdiri sendiri tanpa dukungan sistem pengelolaan sampah di tingkat masyarakat.
Selain persoalan bahan baku, penerimaan sosial juga menjadi tantangan lain.
Menurut Ikbal, tidak sedikit warga yang awalnya menolak keberadaan fasilitas pengolahan karena khawatir akan menimbulkan tumpukan sampah dan bau di lingkungan sekitar.
“Mereka pikir akan ada tumpukan sampah dan bau. Tapi setelah kami edukasi dan menunjukkan contoh pusat daur ulang yang bersih, mereka akhirnya mengerti dan setuju,” ujarnya.
Karena itu, strategi pengembangan yang dilakukan Kertabumi tidak dimulai dari memperbanyak mesin, tetapi dengan mencari wilayah yang belum memiliki sistem pengelolaan sampah yang memadai dan membangun kolaborasi dengan pemerintah, komunitas, perusahaan, serta masyarakat setempat.
Menurut mereka, indikator keberhasilan tidak hanya diukur dari kemampuan mesin menghasilkan bahan bakar, tetapi juga dari sejauh mana produk tersebut benar-benar digunakan oleh masyarakat.
Saat ini, operasional mesin pirolisis Kertabumi masih terbatas di Tangerang Selatan. Ke depan, organisasi tersebut juga menargetkan pengembangan teknologi untuk mengolah limbah tekstil dan pakaian yang volumenya terus meningkat di wilayah perkotaan.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pengembangan energi berbasis sampah tidak berhenti pada inovasi teknologi. Ketersediaan bahan baku, perubahan perilaku masyarakat, dan penerimaan sosial menjadi faktor yang menentukan apakah teknologi dapat diterapkan dalam skala yang lebih luas.
Penulis: Vicka Rumanti