Jakarta Core: Ketika Anak Muda Belajar Jatuh Cinta pada Kotanya Sendiri

Bella, Adiyoga Priyambodo

Selasa, 16 Juni 2026 | 18:26 WIB
Jakarta Core: Ketika Anak Muda Belajar Jatuh Cinta pada Kotanya Sendiri
Matahari terbenam di atas kota Jakarta dengan lanskap kota (Pexels/Tom Fisk)
baca 10 detik
  • Fenomena Jakarta Core merupakan tren konten sinematik di media sosial yang menampilkan sisi estetis kota Jakarta.
  • Generasi Z menciptakan konten visual tersebut sebagai mekanisme pertahanan psikologis dalam menghadapi kerasnya realitas kehidupan urban.
  • Romantisasi ruang publik ini dipengaruhi oleh perbaikan infrastruktur kota serta dorongan algoritma platform media sosial digital.

Ruang Publik sebagai Panggung

Pemandangan di Kota Jakarta, Senin (18/9/2023). [Suara.com/Alfian Winanto]
Pemandangan di Kota Jakarta, Senin (18/9/2023). [Suara.com/Alfian Winanto]

Salah satu benang merah Jakarta Core adalah peran ruang publik yang kian terasa. Kawasan Dukuh Atas, yang menjadi titik temu MRT, KRL, TransJakarta, dan berbagai moda transportasi lain, kini seolah menjadi landmark estetis baru. Orang datang bukan hanya untuk transit, tetapi juga untuk membuat konten.

Hal serupa terjadi di trotoar kawasan Sudirman-Thamrin yang kini lebih ramah bagi pejalan kaki, atau di bawah rindangnya pepohonan di sepanjang jalur sepeda. Ruang-ruang ini bertransformasi menjadi panggung visual bagi warganya, tempat identitas kota dan identitas diri bertemu dalam satu frame.

Hal ini menarik, karena selama ini Jakarta justru dikritik karena minimnya ruang publik yang layak. Kemunculan Jakarta Core dapat dibaca sebagai respons positif terhadap perubahan fisik kota yang, meski masih jauh dari ideal, mulai terasa nyata bagi warganya.

Reklamasi Visual dan Jebakan Algoritma

Di balik estetika itu, Andreas melihat ada mekanisme yang lebih kompleks yang sedang bekerja. Dengan menggunakan kamera ponsel dan aplikasi penyuntingan seperti VSCO atau CapCut, anak-anak muda itu sesungguhnya sedang melakukan apa yang ia sebut sebagai "reklamasi visual": menyeleksi realitas, memotong bagian kabel yang semrawut atau tumpukan sampah, lalu menyisakan sudut yang enak dipandang.

"Ini adalah bentuk pertahanan psikologis. Mengubah ruang yang bikin stres, menjadi ruang yang bisa ditoleransi," ujarnya.

Namun, proses itu tidak sepenuhnya bebas. Andreas mengingatkan bahwa platform digital seperti TikTok dan Instagram memiliki peran besar dalam menentukan selera estetika anak muda.

Algoritma media sosial, menurutnya, secara aktif mengarahkan pengguna untuk memproduksi visual yang membangkitkan emosi tertentu, seperti romantis, nostalgis, dan sinematik, demi mendorong engagement berupa likes dan shares. "Secara sadar atau tidak, anak-anak muda itu memproduksi konten yang sesuai dengan selera algoritma," katanya.

Artinya, romantisasi ini tidak murni lahir dari refleksi personal, melainkan juga digerakkan oleh apa yang ia sebut sebagai attention economy atau ekonomi perhatian digital yang mengomodifikasi estetika demi keuntungan platform.

Romantisasi atau Pelarian?

Suasana di Bundaran Hotel Indonesi (HI), Jakarta, Selasa (23/4/2024). [Suara.com/Alfian Winanto]
Suasana di Bundaran Hotel Indonesi (HI), Jakarta, Selasa (23/4/2024). [Suara.com/Alfian Winanto]

Di sinilah pertanyaan yang lebih jujur perlu diajukan.

baca juga

Apakah Jakarta Core muncul karena Jakarta memang sudah benar-benar nyaman untuk dihuni? Atau justru karena realitas sehari-harinya terlalu berat, sehingga warganya perlu menciptakan narasi alternatif agar sanggup bertahan di sana?

Jawabannya kemungkinan besar: keduanya benar secara bersamaan.

Jakarta memang sedang berubah. Infrastruktur transportasi publik membaik dan beberapa kawasan kian tertata.

Namun, Jakarta belum berubah cukup jauh untuk benar-benar disebut sebagai kota yang nyaman secara merata. Masih ada kemacetan, masih ada banjir, dan masih ada ketimpangan yang mencolok antara kawasan yang "viral" dan kawasan lain yang tidak pernah masuk ke dalam frame konten siapa pun.

Jakarta Core, dalam arti tertentu, adalah kota yang dikurasi. Ia memilih angle terbaiknya, memotong bagian yang tidak enak dipandang, lalu menawarkan versi Jakarta yang bisa dicintai. Pengakuan Fandi mencerminkan paradoks itu dengan jujur: di balik "hiruk pikuk" yang ia sebut sendiri, justru di situlah ia menemukan alasan untuk merasa hidup.

Dan mungkin itu tidak sepenuhnya buruk. Sebab, dari rasa cinta itulah, meski dimulai dari sebuah video pendek berdurasi 30 detik, muncul keinginan untuk ikut menjaga, ikut bersuara, dan ikut merasa bahwa kota ini juga miliknya.

Jakarta Core, pada akhirnya, bukan tentang Jakarta yang sempurna. Ia adalah tentang generasi muda yang sedang belajar untuk tidak menyerah pada kotanya sendiri. Meski demikian, para sosiolog tetap mengingatkan bahwa di balik setiap frame yang indah, ada realitas yang masih menunggu untuk benar-benar dibenahi.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Taman Bendera Pusaka, Alternatif Wisata Keluarga di Jantung Ibu Kota

Taman Bendera Pusaka, Alternatif Wisata Keluarga di Jantung Ibu Kota

Foto | Selasa, 16 Juni 2026 | 18:01 WIB

KPK Temukan Sederet Proyek Strategis Jakarta Tak Optimal, Ini Daftarnya

KPK Temukan Sederet Proyek Strategis Jakarta Tak Optimal, Ini Daftarnya

News | Selasa, 16 Juni 2026 | 16:19 WIB

KPK Pelototi Proyek Strategis DKI Jakarta Senilai Rp 4,25 Triliun

KPK Pelototi Proyek Strategis DKI Jakarta Senilai Rp 4,25 Triliun

News | Selasa, 16 Juni 2026 | 16:13 WIB

Wangi Popcorn Khas Bioskop Menggoda di Jakarta Fair, Pengunjung Bisa Racik Sesuai Selera

Wangi Popcorn Khas Bioskop Menggoda di Jakarta Fair, Pengunjung Bisa Racik Sesuai Selera

Lifestyle | Selasa, 16 Juni 2026 | 14:51 WIB

Datang ke Jakarta Fair Bisa Sekalian Bayar Pajak Kendaraan, Begini Caranya

Datang ke Jakarta Fair Bisa Sekalian Bayar Pajak Kendaraan, Begini Caranya

News | Selasa, 16 Juni 2026 | 14:06 WIB

Mal Jakarta Mulai Sepi, Kunjungan Turun 10 Persen Akibat Daya Beli Masyarakat Melemah

Mal Jakarta Mulai Sepi, Kunjungan Turun 10 Persen Akibat Daya Beli Masyarakat Melemah

News | Selasa, 16 Juni 2026 | 13:52 WIB

1.350 RTLH di Jakarta Barat Antre Program Bedah Rumah

1.350 RTLH di Jakarta Barat Antre Program Bedah Rumah

News | Selasa, 16 Juni 2026 | 12:51 WIB

Temui PM Singapura, Pramono Jual Potensi Investasi di Jakarta

Temui PM Singapura, Pramono Jual Potensi Investasi di Jakarta

News | Selasa, 16 Juni 2026 | 12:45 WIB

Jakarta Fair Kemayoran 2026 Jadi Surga Belanja dan Kuliner, Banyak Promo yang Sayang Dilewatkan

Jakarta Fair Kemayoran 2026 Jadi Surga Belanja dan Kuliner, Banyak Promo yang Sayang Dilewatkan

Lifestyle | Selasa, 16 Juni 2026 | 12:28 WIB

Capek Sedikit, Checkout Banyak: Emotional Spending Gen Z di Era Digital

Capek Sedikit, Checkout Banyak: Emotional Spending Gen Z di Era Digital

Your Say | Selasa, 16 Juni 2026 | 16:00 WIB

Terkini

Ekonom Ungkap Baik Buruk harga Pertalite Naik

Ekonom Ungkap Baik Buruk harga Pertalite Naik

Bisnis | Selasa, 15 September 2026 | 17:25 WIB

15.722 Gempa Susulan Terjadi Usai Flores Diguncang M7,7, BMKG Ungkap Kondisi Terkini

15.722 Gempa Susulan Terjadi Usai Flores Diguncang M7,7, BMKG Ungkap Kondisi Terkini

News | Selasa, 15 September 2026 | 17:23 WIB

Jadi Takut Makan karena Tayangan di Media Sosial? Waspadai Konten Kesehatan yang Menakut-nakuti

Jadi Takut Makan karena Tayangan di Media Sosial? Waspadai Konten Kesehatan yang Menakut-nakuti

Health | Selasa, 15 September 2026 | 17:20 WIB

Industri Telekomunikasi Diminta Perkuat Kolaborasi, Kepercayaan Publik Jadi Taruhan

Industri Telekomunikasi Diminta Perkuat Kolaborasi, Kepercayaan Publik Jadi Taruhan

Tekno | Selasa, 15 September 2026 | 17:19 WIB

Di Mana Nusron Wahid? Absen Rapat DPR Usai Pejabat Kementerian ATR Kena OTT KPK

Di Mana Nusron Wahid? Absen Rapat DPR Usai Pejabat Kementerian ATR Kena OTT KPK

News | Selasa, 15 September 2026 | 17:19 WIB

Review Film Agensi Rumah Tangga: Saat Isu Kerasnya PHK Dibalut Komedi Segar

Review Film Agensi Rumah Tangga: Saat Isu Kerasnya PHK Dibalut Komedi Segar

Your Say | Selasa, 15 September 2026 | 17:18 WIB

Media Asing Sorot Perasaan Purbaya Dipecat Prabowo, Singgung Krisis Kepercayaan Investor

Media Asing Sorot Perasaan Purbaya Dipecat Prabowo, Singgung Krisis Kepercayaan Investor

News | Selasa, 15 September 2026 | 17:17 WIB

Hari ke-8 Pencarian Rombongan Jurnalis: Kabut Tebal, Ombak 2,5 Meter dan Bahaya Erupsi Krakatau

Hari ke-8 Pencarian Rombongan Jurnalis: Kabut Tebal, Ombak 2,5 Meter dan Bahaya Erupsi Krakatau

News | Selasa, 15 September 2026 | 17:13 WIB

IHSG Makin Anjlok Setelah Purbaya Dicopot dari Menkeu, Betah di Level 6.400

IHSG Makin Anjlok Setelah Purbaya Dicopot dari Menkeu, Betah di Level 6.400

Bisnis | Selasa, 15 September 2026 | 17:09 WIB

Kementan Targetkan Ekspor 10.000 Ton Beras ke Palestina

Kementan Targetkan Ekspor 10.000 Ton Beras ke Palestina

Bisnis | Selasa, 15 September 2026 | 17:06 WIB

×