- Fenomena Jakarta Core merupakan tren konten sinematik di media sosial yang menampilkan sisi estetis kota Jakarta.
- Generasi Z menciptakan konten visual tersebut sebagai mekanisme pertahanan psikologis dalam menghadapi kerasnya realitas kehidupan urban.
- Romantisasi ruang publik ini dipengaruhi oleh perbaikan infrastruktur kota serta dorongan algoritma platform media sosial digital.
Ruang Publik sebagai Panggung
![Pemandangan di Kota Jakarta, Senin (18/9/2023). [Suara.com/Alfian Winanto]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2023/09/18/20662-ilustrasi-jakarta-ilustrasi-kota-jakarta.jpg)
Salah satu benang merah Jakarta Core adalah peran ruang publik yang kian terasa. Kawasan Dukuh Atas, yang menjadi titik temu MRT, KRL, TransJakarta, dan berbagai moda transportasi lain, kini seolah menjadi landmark estetis baru. Orang datang bukan hanya untuk transit, tetapi juga untuk membuat konten.
Hal serupa terjadi di trotoar kawasan Sudirman-Thamrin yang kini lebih ramah bagi pejalan kaki, atau di bawah rindangnya pepohonan di sepanjang jalur sepeda. Ruang-ruang ini bertransformasi menjadi panggung visual bagi warganya, tempat identitas kota dan identitas diri bertemu dalam satu frame.
Hal ini menarik, karena selama ini Jakarta justru dikritik karena minimnya ruang publik yang layak. Kemunculan Jakarta Core dapat dibaca sebagai respons positif terhadap perubahan fisik kota yang, meski masih jauh dari ideal, mulai terasa nyata bagi warganya.
Reklamasi Visual dan Jebakan Algoritma
Di balik estetika itu, Andreas melihat ada mekanisme yang lebih kompleks yang sedang bekerja. Dengan menggunakan kamera ponsel dan aplikasi penyuntingan seperti VSCO atau CapCut, anak-anak muda itu sesungguhnya sedang melakukan apa yang ia sebut sebagai "reklamasi visual": menyeleksi realitas, memotong bagian kabel yang semrawut atau tumpukan sampah, lalu menyisakan sudut yang enak dipandang.
"Ini adalah bentuk pertahanan psikologis. Mengubah ruang yang bikin stres, menjadi ruang yang bisa ditoleransi," ujarnya.
Namun, proses itu tidak sepenuhnya bebas. Andreas mengingatkan bahwa platform digital seperti TikTok dan Instagram memiliki peran besar dalam menentukan selera estetika anak muda.
Algoritma media sosial, menurutnya, secara aktif mengarahkan pengguna untuk memproduksi visual yang membangkitkan emosi tertentu, seperti romantis, nostalgis, dan sinematik, demi mendorong engagement berupa likes dan shares. "Secara sadar atau tidak, anak-anak muda itu memproduksi konten yang sesuai dengan selera algoritma," katanya.
Artinya, romantisasi ini tidak murni lahir dari refleksi personal, melainkan juga digerakkan oleh apa yang ia sebut sebagai attention economy atau ekonomi perhatian digital yang mengomodifikasi estetika demi keuntungan platform.
Romantisasi atau Pelarian?
![Suasana di Bundaran Hotel Indonesi (HI), Jakarta, Selasa (23/4/2024). [Suara.com/Alfian Winanto]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2024/04/23/57707-daerah-khusus-jakarta-dkj-jakarta-ilustrasi-jakarta-ilustrasi-dkj-ilustrasi-bundaran-hi.jpg)
Di sinilah pertanyaan yang lebih jujur perlu diajukan.
Apakah Jakarta Core muncul karena Jakarta memang sudah benar-benar nyaman untuk dihuni? Atau justru karena realitas sehari-harinya terlalu berat, sehingga warganya perlu menciptakan narasi alternatif agar sanggup bertahan di sana?
Jawabannya kemungkinan besar: keduanya benar secara bersamaan.
Jakarta memang sedang berubah. Infrastruktur transportasi publik membaik dan beberapa kawasan kian tertata.
Namun, Jakarta belum berubah cukup jauh untuk benar-benar disebut sebagai kota yang nyaman secara merata. Masih ada kemacetan, masih ada banjir, dan masih ada ketimpangan yang mencolok antara kawasan yang "viral" dan kawasan lain yang tidak pernah masuk ke dalam frame konten siapa pun.
Jakarta Core, dalam arti tertentu, adalah kota yang dikurasi. Ia memilih angle terbaiknya, memotong bagian yang tidak enak dipandang, lalu menawarkan versi Jakarta yang bisa dicintai. Pengakuan Fandi mencerminkan paradoks itu dengan jujur: di balik "hiruk pikuk" yang ia sebut sendiri, justru di situlah ia menemukan alasan untuk merasa hidup.
Dan mungkin itu tidak sepenuhnya buruk. Sebab, dari rasa cinta itulah, meski dimulai dari sebuah video pendek berdurasi 30 detik, muncul keinginan untuk ikut menjaga, ikut bersuara, dan ikut merasa bahwa kota ini juga miliknya.
Jakarta Core, pada akhirnya, bukan tentang Jakarta yang sempurna. Ia adalah tentang generasi muda yang sedang belajar untuk tidak menyerah pada kotanya sendiri. Meski demikian, para sosiolog tetap mengingatkan bahwa di balik setiap frame yang indah, ada realitas yang masih menunggu untuk benar-benar dibenahi.