- Massa menolak eksekusi lahan Hotel Sultan di Jakarta Pusat pada Kamis, 18 Juni 2026 dengan melakukan blokade.
- Situasi memanas saat massa melempar benda keras ke arah aparat keamanan yang bertugas mengawal pengosongan lahan.
- Aparat gabungan berhasil mengamankan beberapa provokator di tengah eskalasi konflik yang terjadi di area Hotel Sultan.
Suara.com - Ketegangan di area Hotel Sultan, kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (18/6/2026) memuncak.
Situasi pengosongan lahan semakin tidak kondusif saat sejumlah massa melakukan perlawanan terhadap aparat keamanan.
Massa yang menduduki kawasan hotel mulai menunjukkan sikap agresif ketika aparat mendekati blokade.
Aparat keamanan yang bertugas di lokasi terpaksa berhadapan dengan lemparan berbagai benda dari arah massa.
"Ya rapikan lagi barisannya, rapikan lagi," teriak komandan aparat dalam barikade pengamanan.
Benda-benda yang dilemparkan massa di antaranya botol plastik hingga benda keras seperti batu.

Aksi lemparan tersebut dilakukan massa tepat ke arah barisan aparat yang berada di balik pagar duri blokade.
"Ya rapikan lagi barisannya, rapikan lagi!" seru sang komandan barikade, kembali memberikan instruksi.
Hingga saat ini, upaya pengosongan lahan masih terus berlangsung di tengah eskalasi konflik antara kedua belah pihak.
Beberapa anggota dari kelompok pendukung pemilik lahan yang diduga sebagai provokator kericuhan pun mulai diamankan aparat.
Sejak pagi, rencana pengosongan lahan memang sudah ditentang massa yang mendukung R.M. Koesen yang diklaim sebagai pemilik tanah.
Mereka memadati area depan Hotel Sultan, sekaligus memasang pagar berduri sebagai tanda dilarang masuk bagi siapa saja yang bermaksud melakukan eksekusi lahan.
Pelaksanaan eksekusi pun dikawal ketat oleh aparat, mulai dari perwakilan Polda Metro Jaya, Polres Metro Jakarta Pusat, Polsek Tanah Abang, Kodim 0501 Jakarta Pusat, Danramil Tanah Abang, Satpol PP DKI Jakarta, hingga Pemerintah Kota Jakarta Pusat.