- Dinas Pendidikan Kota Batam menuai kritik setelah mengerahkan siswa sekolah melakukan aksi demonstrasi dukungan program Makan Bergizi Gratis.
- Pengamat menilai pengerahan siswa di jalan raya berisiko dipolitisasi dan merusak citra positif dari program pemerintah tersebut.
- Siswa diimbau menyampaikan aspirasi melalui metode edukatif seperti konten kreatif atau partisipasi dalam parade perayaan hari daerah.
Suara.com - Menyuarakan dukungan terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak melulu harus dengan mengerahkan siswa SD dan SMP ke jalan raya.
Para pelajar sebenarnya tetap diperbolehkan menyampaikan aspirasi mereka, namun melalui jalur yang lebih aman dan edukatif, seperti membuat konten kreatif atau mengikuti parade perayaan daerah.
Sorotan ini mengemuka setelah Dinas Pendidikan Kota Batam menginisiasi aksi di jalanan yang melibatkan anak-anak sekolah dasar dan menengah dengan mengenakan atribut sekolah di depan Kantor Wali Kota dan DPRD Batam.
Langkah tersebut menuai kritik karena dinilai keliru dalam menempatkan anak-anak di ruang publik.
Pengamat Kebijakan Publik, Trubus Rahardiansah, menjelaskan bahwa penyampaian dukungan oleh anak di bawah umur memiliki batasan aturan yang ketat.
Alih-alih melakukan aksi demonstrasi khusus, siswa dapat memanfaatkan media digital atau membuat karya tulis bersama di kelas.
![Para siswa membawa menu Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk dibagikan ke kelas masing-masinh di SMPN 1 Tamansari, Bogor, Jawa Barat, Selasa (16/12/2025). [Suara.com/Alfian Winanto]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/12/16/67323-mbg-makan-bergizi-gratis-ilustrasi-mbg.jpg)
"Dukungannya ini aja, misalnya tertulis atau bikin video, itu masih boleh karena bagian dari aspirasi. Misalnya (membuat konten) karena merasa terbantu tidak perlu repot disiapkan sarapan lagi oleh orang tua. Itu boleh saja," kata Trubus kepada Suara.com melalui panggilan telepon pada Kamis (23/10/2025).
Trubus menambahkan, kehadiran anak-anak sekolah di jalan raya sebenarnya sah-sah saja selama berada dalam konteks parade perayaan hari besar daerah, bukan demonstrasi khusus untuk mendukung suatu program pemerintah.
"Kalau memperingati hari ulang tahun daerah, itu boleh saja sekolah-sekolah mengadakan pawai. Di situ nanti disisipkan pesan 'kami senang dapat MBG', itu boleh karena konteksnya bukan demo khusus," lanjutnya.
Ia mengingatkan bahwa pengerahan siswa secara khusus untuk aksi dukungan MBG di jalan raya justru berpotensi dipolitisasi dan memicu citra buruk terhadap program tersebut.
"Jangan arak-arakan yang tujuannya khusus untuk MBG, itu salah. Nanti malah kontraproduktif dan merusak citra program itu sendiri," tegas Trubus.