Militerisasi Masuk Sektor Agraria, Konflik Lahan Naik 300 Persen pada 2025

Vania Rossa

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:15 WIB
Militerisasi Masuk Sektor Agraria, Konflik Lahan Naik 300 Persen pada 2025
Jumpa media bertajuk "Militerisme Menguat, Pembela HAM Dibungkam", Jakarta, Selasa (23/6/3026). (Suara.com/Cornelius Juan Prawira)
baca 10 detik
  • Konsorsium Pembaruan Agraria mencatat lonjakan konflik agraria sektor militer sebanyak 24 kasus sepanjang tahun 2025 di Indonesia.
  • Presiden Prabowo hingga Juni 2026 telah meresmikan 28 Kodam dan 155 Batalyon Teritorial Pembangunan di berbagai wilayah.
  • Imparsial menyoroti keterlibatan militer dalam ranah sipil dan kebijakan publik yang dinilai menyimpang dari semangat reformasi TNI.

Suara.com - Dampak militerisasi dinilai semakin meluas hingga sektor agraria. Ekspansi teritorial Tentara Nasional Indonesia (TNI) melalui pembentukan Komando Teritorial (Koter) disebut memicu meningkatnya konflik agraria di berbagai daerah.

Catatan Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) pada 2025 menunjukkan adanya lonjakan konflik agraria pada sektor fasilitas militer. Sepanjang tahun tersebut tercatat 24 kasus konflik, naik 300 persen dibanding 2024 yang hanya mencatat 6 kasus.

Secara keseluruhan, konflik agraria sepanjang 2025 disebut berdampak pada lebih dari 68 ribu keluarga di berbagai wilayah Indonesia.

KPA juga mencatat sedikitnya 70 tindakan kekerasan yang melibatkan TNI dalam penanganan konflik agraria. Angka ini meningkat 89 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat 37 kasus.

Peneliti Imparsial, Riyadh Putuhena, menilai ekspansi teritorial TNI telah menyimpang dari semangat reformasi TNI. Ia menyebut meningkatnya konflik agraria tidak dapat dilepaskan dari proses remiliterisasi.

“Konflik agraria terjadi akibat remiliterisasi. Militerisme tidak bisa dipahami sebagai dwifungsi saja,” ujar Riyadh di Jakarta, Selasa (23/6/2026).

Imparsial juga mencatat hingga Juni 2026, Presiden Prabowo telah meresmikan 28 Komando Daerah Militer (Kodam) dan 155 Batalyon Teritorial Pembangunan (BTP) yang tersebar dari Aceh hingga Papua.

Sebaran BTP terbanyak berada di Sumatera dengan 48 batalyon, disusul Papua sebanyak 28 batalyon.

Menurut Riyadh, konflik agraria muncul karena perubahan karakter militer yang kini bekerja melalui pengaburan batas antara ranah sipil dan militer.

baca juga

Dalam konteks Indonesia saat ini, ia menilai militerisasi juga merambah kebijakan ekonomi dan pembangunan infrastruktur publik yang tampak teknokratis, namun tetap mengusung pendekatan keamanan militeristik.

Perubahan Peran Militer
Riyadh menjelaskan perubahan peran tersebut berkaitan dengan Pasal 7 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2025 tentang TNI. Dalam aturan itu, pelaksanaan Operasi Militer Selain Perang (OMSP) disebut berada di bawah kendali eksekutif atau Presiden.

“Frasa ‘kebijakan dan politik negara’ dihapus,” ujarnya, merujuk pada perubahan dari UU Nomor 34 Tahun 2004 yang sebelumnya menekankan kontrol legislatif dalam OMSP.

Selain itu, keterlibatan militer juga meluas ke ranah sipil seperti pendidikan. Hal ini terlihat dari perekrutan lebih dari 4.000 ASN sebagai Komponen Cadangan (Komcad), serta pelibatan TNI dalam pembekalan penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Riyadh juga menyoroti keterlibatan militer dalam birokrasi dan regulasi pemerintah, yang menurutnya terlihat dari sejumlah instrumen hukum.

Di antaranya Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 5 Tahun 2025 tentang Penertiban Kawasan Hutan (PKH) serta Perpres Nomor 66 Tahun 2025 tentang Pelindungan Negara terhadap Jaksa dalam pelaksanaan tugas dan fungsi Kejaksaan RI.

Imparsial menilai fenomena ini menunjukkan menguatnya militerisasi dalam pemerintahan Prabowo-Gibran, yang mempertegas arah ideologis militerisme di ruang sipil.

“Pemerintahan Prabowo berhasil menormalisasi kehadiran militer dalam ranah-ranah non-pertahanan. Sehingga pada akhirnya publik perlahan melihat kehadiran militer bukan sebagai ancaman bagi demokrasi, melainkan sebagai kewajaran ideologis,” ujar Riyadh.

Reporter: Cornelius Juan Prawira

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Konflik PT Mayawana Disorot: Kuburan Digusur, Warga Dipidana, Rantai Pasok APRIL Group Dipertanyakan

Konflik PT Mayawana Disorot: Kuburan Digusur, Warga Dipidana, Rantai Pasok APRIL Group Dipertanyakan

News | Selasa, 23 Juni 2026 | 14:07 WIB

Duka Masyarakat Adat di DPR: Tanah Warisan Leluhur Hilang, Anak Buta Huruf karena HGU

Duka Masyarakat Adat di DPR: Tanah Warisan Leluhur Hilang, Anak Buta Huruf karena HGU

News | Senin, 22 Juni 2026 | 18:48 WIB

Mandalika hingga Rempang: Hak Rakyat Tergilas Proyek Negara, Pemulihan Cuma Janji?

Mandalika hingga Rempang: Hak Rakyat Tergilas Proyek Negara, Pemulihan Cuma Janji?

News | Minggu, 21 Juni 2026 | 10:00 WIB

Terkini

Indonesia Punya Potensi PLTS Besar, tapi Kenapa Baru Sedikit yang Terpakai?

Indonesia Punya Potensi PLTS Besar, tapi Kenapa Baru Sedikit yang Terpakai?

News | Rabu, 24 Juni 2026 | 12:20 WIB

JC Ditolak Kejagung, Kubu Sony Sonjaya Tetap Ancam Bongkar 'Dosa' Pejabat di Kasus MBG

JC Ditolak Kejagung, Kubu Sony Sonjaya Tetap Ancam Bongkar 'Dosa' Pejabat di Kasus MBG

News | Rabu, 24 Juni 2026 | 12:20 WIB

Bukan Atas Nama Cinta, MUI Tegaskan Penganiaya YTR di Bandung Tak Boleh Lolos dari Hukuman Berat

Bukan Atas Nama Cinta, MUI Tegaskan Penganiaya YTR di Bandung Tak Boleh Lolos dari Hukuman Berat

News | Rabu, 24 Juni 2026 | 12:01 WIB

Waduk di Dunia Diam-Diam Kehilangan Kapasitas Air: Sedimentasi Jadi Ancaman yang Sering Terabaikan

Waduk di Dunia Diam-Diam Kehilangan Kapasitas Air: Sedimentasi Jadi Ancaman yang Sering Terabaikan

News | Rabu, 24 Juni 2026 | 11:50 WIB

BEM UBK Ngaku Terima Uang, PSI Bela Gibran: Tak Mungkin Mas Wapres Main-main dengan Mahasiswa

BEM UBK Ngaku Terima Uang, PSI Bela Gibran: Tak Mungkin Mas Wapres Main-main dengan Mahasiswa

News | Rabu, 24 Juni 2026 | 11:38 WIB

Skandal Suap BEM UBK Usai Bertemu Gibran di Istana, Siapa Bermain?

Skandal Suap BEM UBK Usai Bertemu Gibran di Istana, Siapa Bermain?

News | Rabu, 24 Juni 2026 | 11:35 WIB

2 Calon Manajer Kopdes Merah Putih Tewas saat Latihan Militer, Ini Penyebabnya

2 Calon Manajer Kopdes Merah Putih Tewas saat Latihan Militer, Ini Penyebabnya

News | Rabu, 24 Juni 2026 | 11:33 WIB

Teriak 'Kaki Saya Patah' saat Jaga Demo di DPR, Ternyata Ini Diagnosis Medis AKBP Adri Desas

Teriak 'Kaki Saya Patah' saat Jaga Demo di DPR, Ternyata Ini Diagnosis Medis AKBP Adri Desas

News | Rabu, 24 Juni 2026 | 11:32 WIB

Kritik Pedas Mobilisasi Siswa Batam Demi Program MBG: Menyesatkan dan Tak Mendidik

Kritik Pedas Mobilisasi Siswa Batam Demi Program MBG: Menyesatkan dan Tak Mendidik

News | Rabu, 24 Juni 2026 | 11:04 WIB

Buntut Kasus Gus Yaqut, KPK Periksa Dirjen PHU Kemenag Hilman Latief

Buntut Kasus Gus Yaqut, KPK Periksa Dirjen PHU Kemenag Hilman Latief

News | Rabu, 24 Juni 2026 | 11:02 WIB