- Anggota DPR RI sekaligus pengusaha, Rachmat Gobel, dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata pada Jumat, 10 Juli 2026.
- Pihak keluarga menegaskan bahwa almarhum meninggal dunia secara mendadak tanpa memiliki riwayat penyakit atau kondisi sakit tertentu.
- Prosesi pemakaman dilakukan menggunakan keranda adat khas Gorontalo berukuran besar sebagai bentuk pemenuhan wasiat serta penghormatan mendiang.
Suara.com - Suasana haru menyelimuti Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan, pada Jumat (10/7/2026) siang, saat prosesi pemakaman Anggota DPR RI sekaligus pengusaha, Rachmat Gobel, berlangsung.
Di tengah duka mendalam, sang putra, Muhammad Arif Gobel, memberikan keterangan terkait kepergian ayahnya yang mengejutkan publik.
Arif menegaskan bahwa ayahnya meninggal dunia bukan karena menderita penyakit tertentu. Kepergian Rachmat Gobel, menurutnya, terjadi secara mendadak dalam kondisi yang sangat baik.
"Ya memang waktu gak ada yang tahu, tapi alhamdulillah almarhum kembali dengan keadaan yang paling ideal, nggak sakit," kata Arif ditemui usai pemakaman ayahnya.
Ia kembali menekankan bahwa tidak ada riwayat penyakit yang diderita sang ayah sebelum mengembuskan napas terakhir.
"Tidak, tidak ada sakit," tegasnya singkat.
![Keluarga mengusung keranda jenazah anggota DPR Rachmat Gobel di Jakarta, Jumat (10/7/2026). [ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/bar]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/07/10/31441-rachmat-gobel-meninggal-dunia.jpg)
Bagi keluarga, sosok Rachmat Gobel bukan sekadar kepala keluarga. Arif mengenang ayahnya sebagai figur yang memiliki banyak peran dalam kehidupan anak-anak dan kerabatnya.
"Beliau ini seperti ayah, seperti paman, kakak, adik, tapi juga sebagai guru dan mentor bagi kami semua. Hari ini kami keluarga sangat merasa kehilangan," ungkapnya.
Ia pun memohon doa dari seluruh masyarakat agar amal ibadah almarhum diterima dan ditempatkan di tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa.
Prosesi pemakaman Rachmat Gobel menarik perhatian karena kental dengan nuansa adat Gorontalo. Jenazah dibawa menggunakan keranda khas daerah asalnya yang berukuran besar sehingga harus diangkut menggunakan truk menuju liang lahat.
Arif menjelaskan bahwa hal tersebut merupakan wasiat sekaligus bentuk dedikasi almarhum terhadap tanah kelahirannya.
"Itu memang asal kami dari Gorontalo. Almarhum sangat menjunjung tinggi adat Gorontalo, dan kami keluarga pasti akan terus melestarikan adat-adat tersebut," jelasnya.
Terkait penggunaan truk untuk membawa keranda, Arif menyebutkan hal itu dilakukan karena ukuran keranda adat yang memang besar (big size), sehingga membutuhkan kendaraan khusus untuk mobilisasinya.