-
Amerika Serikat membekukan aset kripto senilai 130 juta dolar AS yang diduga terkait dengan jaringan Iran.
-
Langkah pembekuan melibatkan perusahaan Tether dan menyasar dompet digital milik Bank Sentral Iran.
-
Tindakan ini diambil setelah nota kesepahaman damai antara kedua negara resmi mengalami kegagalan.
Suara.com - Amerika Serikat mengambil langkah ekstrem dengan membekukan aset kripto senilai lebih dari 130 juta dolar AS (Rp 2,3 triliun) yang diduga kuat terafiliasi dengan jaringan pemerintahan Iran.
Tindakan tegas ini diumumkan langsung oleh Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent, sebagai bagian dari strategi baru untuk memperketat tekanan ekonomi terhadap Teheran.
Langkah pembekuan dana digital ini bergulir tepat setelah nota kesepahaman antara Amerika Serikat dan Iran yang dirancang untuk mengakhiri konflik justru berakhir berantakan. Akibat kegagalan diplomasi tersebut, Washington langsung meluncurkan rentetan sanksi baru termasuk melancarkan serangan udara militer pada hari Selasa.
![Ilustrasi kripto [Unsplash/Maria]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/13/20944-ilustrasi-kripto.jpg)
Departemen Keuangan Amerika Serikat secara resmi menyasar puluhan dompet digital yang dituduh memiliki hubungan khusus dengan Bank Sentral Iran. Kebijakan ini juga menyasar lebih dari 50 target lain yang diduga kuat menjadi bagian dari sindikat penyelundup sanksi internasional.
Berdasarkan informasi dari sumber yang memahami persoalan ini, raksasa mata uang digital dunia, Tether, ikut terlibat aktif dalam proses eksekusi pemblokiran aset tersebut. Keterlibatan perusahaan penyedia infrastruktur kripto global ini menjadi krusial untuk memastikan seluruh akses transaksi ilegal Iran benar-benar lumpuh.
Melalui pernyataan resmi di media sosial X, Scott Bessent menegaskan komitmen pemerintahannya dalam memburu aliran dana gelap tersebut.
Bessent menyatakan bahwa pemerintah akan "melanjutkan untuk secara agresif mengikuti aliran uang dan menolak akses rezim Iran terhadap hasil dari skema pendapatan terlarang mereka."
Aksi pembekuan ini bukan pertama kalinya terjadi sepanjang tahun ini di bawah pemerintahan Donald Trump. Sebelumnya pada bulan April lalu, Washington juga telah melumpuhkan aset kripto bernilai fantastis mencapai 344 juta dolar AS yang terafiliasi dengan Teheran.
Tekanan bertubi-tubi ini menjadi respons nyata atas pergeseran cara negara-negara terisolasi dalam menggalang kekuatan finansial. Negara dengan sanksi berat seperti Iran, Rusia, dan Korea Utara kini semakin mengandalkan mata uang kripto untuk bergerak di luar radar.
Sistem cryptocurrency yang minim regulasi dibandingkan perbankan konvensional dimanfaatkan oleh negara-negara tersebut untuk memutar pendapatan. Instrumen digital ini menjadi pilihan utama mereka demi menghindari jerat sanksi ekonomi global yang dipimpin oleh Amerika Serikat.