-
Iran mengizinkan seorang tahanan wanita asal Amerika Serikat untuk segera meninggalkan negaranya.
-
Donald Trump memuji pembebasan tersebut dan menyebutnya sebagai sebuah gestur iktikad baik.
-
Militer Amerika Serikat tetap menggempur aset tempur Iran di kawasan Selat Hormuz.
Suara.com - Iran secara mengejutkan bebaskan seorang warga negara Amerika Serikat yang ditahan sejak Desember 2024 untuk meninggalkan wilayah mereka. Keputusan sepihak ini diambil tepat ketika militer Washington meluncurkan gelombang serangan udara kedua ke Teheran.
Pembebasan tahanan ini menjadi babak baru di tengah kecamuk kontak senjata yang sedang membara. Langkah diplomasi tak terduga tersebut berpotensi mengubah arah konfrontasi bersenjata kedua negara di wilayah Teluk.
Presiden AS Donald Trump langsung mengonfirmasi status terkini warganya yang sempat mendekam di penjara asing itu. Dikutip dari Al Jazeera, Komando Pusat AS (CENTCOM) juga memastikan operasi militer tetap berjalan untuk melumpuhkan aset musuh.
![Kolase foto Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi (kiri) dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kanan). [Suara.com]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/07/28528-abbas-araghchi-donald-trump.jpg)
Melalui unggahan di media sosial Truth Social, Donald Trump mengumumkan bahwa perempuan tersebut kini sudah berada di tempat aman. Tokoh nomor satu di Amerika Serikat itu mengapresiasi keputusan sepihak dari Teheran tersebut.
Trump secara terbuka menyebut tindakan pembebasan ini sebagai sebuah gestur iktikad baik. Ia juga memastikan bahwa kondisi kesehatan warganya tersebut berada dalam keadaan yang baik.
Di sisi lain, konflik bersenjata di jalur perdagangan internasional justru semakin tidak terkendali. Angkatan bersenjata Amerika Serikat terus menggempur titik-titik strategis pertahanan udara milik Iran.
Serangan terbaru ini sengaja dirancang untuk melumpuhkan unit tempur yang kerap mengancam kapal-kapal dagang. CENTCOM menyatakan tindakan tegas ini diambil karena mereka “menargetkan kemampuan militer Iran yang digunakan untuk mengancam kapal-kapal yang transit secara bebas melalui Selat Hormuz”.
Respons keras langsung datang dari petinggi parlemen sekaligus negosiator ulung di Teheran. Pihak Iran menegaskan posisi mereka yang tidak akan tinggal diam jika kedaulatannya terus diusik.
Ketua Parlemen Iran, Mohammed Bagher Ghalibaf menyatakan bahwa negaranya tidak pernah menyambut perang, begitu pula sekarang. Pernyataan ini menegaskan bahwa posisi Teheran sebenarnya menghindari opsi pertumpahan darah yang lebih luas.
"Kita harus selalu siap untuk bertempur dan berdiri teguh demi melindungi keamanan dan kepentingan nasional kita,” kata Mohammed Bagher Ghalibaf.
Pernyataan tegas ini menjadi sinyal bahwa diplomasi pembebasan sandera bukan berarti Iran menyerah kalah.
Hubungan diplomatik antara Washington dan Teheran kembali berada di titik nadir dalam beberapa bulan terakhir. Penahanan warga negara AS pada akhir tahun lalu telah memicu kemarahan publik Amerika Serikat.
Situasi semakin rumit karena jalur pasokan logistik global di Selat Hormuz kerap menjadi arena pertempuran. Amerika Serikat mengklaim tindakan militernya murni untuk melindungi hak kebebasan navigasi internasional di perairan tersebut.