-
Militer Amerika Serikat sukses menghancurkan puluhan target pertahanan dan logistik strategis di Iran.
-
Presiden Donald Trump memerintahkan langsung operasi udara yang telah berlangsung selama enam malam berturut-turut.
-
Sebanyak 50.000 tentara Amerika Serikat dalam posisi siaga tempur penuh di Timur Tengah.
Suara.com - Komando Sentral Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan keberhasilan operasi pengeboman besar-besaran terbaru ke wilayah Iran. Gempuran masif ini sengaja menyasar pusat kekuatan pertahanan dan logistik militer Teheran.
Langkah agresif Washington menjadi sinyal kuat bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah telah memasuki fase baru yang lebih mematikan. Amerika Serikat kini tidak lagi sekadar bertahan, melainkan aktif menghancurkan aset vital lawan.
Operasi udara gabungan ini melibatkan jet tempur, pesawat tanpa awak (drone), serta armada kapal perang. Seluruh alutsista canggih tersebut dikerahkan untuk memastikan kehancuran target operasi secara presisi.

"Pasukan AS, termasuk jet tempur, drone udara, dan kapal perang, meluncurkan amunisi presisi yang menghantam puluhan target militer Iran seperti situs pengawasan pantai dan pertahanan udara, infrastruktur logistik militer, dan kemampuan maritim," begitu pernyataan CENTCOM, dikutip dari Al Jazeera, Jumat pagi.
Serangan beruntun ini menunjukkan komitmen penuh Gedung Putih dalam menekan pergerakan militer Iran di kawasan regional.
"Ini adalah malam keenam berturut-turut serangan AS terhadap Iran."
Operasi terstruktur ini berdampak langsung pada penurunan drastis kemampuan taktis militer Teheran di sepanjang jalur pesisir. Penghancuran radar pantai dan sistem pertahanan udara membuat ruang udara Iran kini menjadi lebih rentan.
Presiden Donald Trump menginstruksikan langsung operasi ini sebagai bentuk respons tegas terhadap stabilitas keamanan kawasan. Langkah ini diambil guna memberikan efek jera terhadap tindakan provokatif di perairan internasional.
"Atas arahan Panglima Tertinggi [Presiden AS Donald Trump], CENTCOM semakin menurunkan kemampuan militer Iran dan meminta pertanggungjawaban Iran atas serangan baru-baru ini terhadap pengapalan komersial."
AS juga memastikan bahwa kesiapan tempur personel mereka di Timur Tengah berada pada level tertinggi. Puluhan ribu tentara telah disiagakan untuk mengantisipasi segala bentuk balasan.
"Lebih dari 50,000 anggota layanan AS beroperasi di seluruh Timur Tengah dan tetap waspada, mematikan, dan siap."
Konflik bersenjata ini berakar dari serangkaian insiden sabotase dan serangan terhadap kapal-kapal tanker komersial di jalur laut strategis. Washington menuding Teheran sebagai aktor utama di balik gangguan keamanan pelayaran tersebut.
Sebagai respons, Pentagon terus melipatgandakan jumlah personel dan armada tempur mereka di pos-pos strategis Timur Tengah. Malam keenam pengeboman ini menjadi bukti nyata kompromi keamanan tidak lagi berlaku bagi Amerika Serikat.