- Riset Yayasan Digital Resilience Indonesia menunjukkan 59,4 persen Gen Z di Indonesia kini memanfaatkan chatbot AI untuk mencurahkan perasaan.
- Generasi muda memilih AI sebagai teman curhat karena dianggap memberikan respons cepat dan ruang aman bebas dari penghakiman.
- Meskipun nyaman digunakan, mayoritas responden merasa AI gagal memahami kedalaman emosi dan tidak bisa menggantikan peran profesional kesehatan.
Suara.com - Semakin banyak generasi muda memilih chatbot berbasis artificial intelligence (AI) sebagai tempat mencurahkan isi hati.
Riset Yayasan Digital Resilience Indonesia (DiRI) menunjukkan sebanyak 59,4 persen Gen Z di Indonesia mengaku pernah curhat kepada AI.
Di balik fenomena tersebut, peneliti menilai ada persoalan yang lebih besar dibanding sekadar perkembangan teknologi.
Peneliti Yayasan Digital Resilience Indonesia (DiRI), Haris Fatwa, mengatakan AI dipilih karena mampu menghadirkan ruang yang dirasakan bebas dari penghakiman.
"Mereka rela menoleransi risiko demi mendapatkan responsivitas dan validasi instan," ujar Haris dalam keterangan di Jakarta, Jumat (17/7/2026).
Menurut Haris, banyak orang muda sebenarnya masih memiliki teman atau orang terdekat untuk jadi tempat curhat. Namun AI diposisikan sebagai alternatif pendengar yang dianggap tidak menghakimi.
Di sisi lain, 70,2 persen responden justru mengeluhkan bahwa AI sering gagal menangkap kedalaman emosi manusia.

Dalam riset juga diungkap kalau banyak responden menghabiskan lebih dari 10 menit dalam sekali percakapan dengan AI karena merasa lebih bebas berbicara dan tidak takut dihakimi.
Sementara itu, Psikolog sosial Syurawasti Muhiddin menjelaskan bahwa kenyamanan bercerita pada AI umumnya memang lahir dari rasa takut dihakimi.
Kendati begitu, ia mengingatkan bahwa AI tidak dapat menggantikan peran profesional kesehatan mental.
“AI dapat menjadi alat bantu, tapi jika seseorang membutuhkan diagnosis medis atau psikologis yang akurat, AI tidak memiliki kapasitas untuk menyediakannya,” pesannya.
Riset yang dilakukan terhadap 402 responden itu terungkap kalau topik yang paling banyak dibahas mulai dari pendidikan, percintaan, rencana masa depan, pertemanan, kesehatan hingga persoalan keluarga.