-
Lalu lintas kapal di Selat Hormuz anjlok 66 persen akibat blokade AS dan larangan Iran.
-
Penghentian armada pengangkut minyak mentah mengancam pasokan seperlima kebutuhan energi dunia.
-
Analis memperingatkan harga minyak global berpotensi tembus 100 dolar per barel jika konflik berlanjut.
Suara.com - Perang antara Amerika Serikat dan Iran melumpuhkan pergerakan kapal tanker di Selat Hormuz. Pemilik armada global memilih menghentikan pelayaran guna menghindari risiko serangan pada jalur vital tersebut.
Langkah sepihak Tehran melarang aktivitas pelayaran komersial makin memperkeruh situasi keamanan di Teluk. Penurunan drastis lalu lintas kapal terjadi secara serentak berdasarkan pemantauan berbagai lembaga data maritim.
Data Lloyd's List Intelligence mencatat pergerakan kapal melintasi selat hanya tersisa 53 unit pekan lalu. Angka tersebut merosot tajam hingga 66 persen dibandingkan periode sebelumnya yang mencapai 157 kapal.
![Kapal-kapal di Selat Hormuz dekat pantai Bandar Abbas, Iran, pada 21 Juni. [West Asia News Agency/via Reuters]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/06/27/92283-selat-hormuz.jpg)
Penurunan paling ekstrem terjadi pada sektor pengangkut minyak mentah dan gas alam cair. Jumlah perlintasan kapal tanker anjlok drastis dari 90 pelayaran menjadi hanya 30 armada.
Pemantauan Kpler menunjukkan intensitas harian kapal merosot hingga ke angka satu digit. Kondisi stagnan ini menghancurkan tren pemulihan aktivitas maritim yang sempat membaik pertengahan Juni lalu.
Mogoknya lalu lintas maritim mengancam stabilitas distribusi seperlima konsumsi minyak mentah dunia. Para pengusaha pelayaran kini bersikap ekstra hati-hati sebelum melintas.
"Hal-hal telah melambat secara signifikan sejak ketegangan kembali menyala," kata Bridget Diakun, analis risiko senior di Lloyd's List Intelligence, dikutip dari CNBC Internasional, Selasa (21/7/2026) sore.
"Itu tidak mengejutkan - orang-orang mundur dan menilai kembali, seperti yang Anda duga."
Meski begitu, lalu lintas komersial di koridor energi tersebut tidak sepenuhnya terhenti total. Pergerakan kapal masih terlihat meski dalam jumlah yang sangat terbatas.
"Setiap orang memiliki selera risiko yang berbeda," kata Diakun.
"Kami masih melihat kapal tanker melintas masuk dan keluar, itu belum berhenti sama sekali."
Diakun memprediksi pergerakan armada komersial akan terus naik turun menyesuaikan dinamika keamanan wilayah. Pemilik kapal hanya memanfaatkan celah waktu aman sebelum kembali menarik armadanya.
Catatan S&P Global merekam rerata perlintasan harian kapal kini hanya menyisakan 13 armada. Sebagian besar kapal yang berani melintas diduga memiliki keterkaitan khusus dengan pihak Iran.
Mayoritas pemilik kapal internasional memilih menahan diri dari risiko kehancuran armada. Harapan pembukaan kembali akses Selat Hormuz secara cepat kini dinilai tidak realistis.
"Eskalasi terbaru menunjukkan bagaimana ekspektasi pembukaan cepat Selat itu terlalu dini," kata Saul Kavonic, kepala riset energi di MST Marquee.
Kavonic menyebut volume distribusi energi di Selat Hormuz kini tersisa 15 persen dari kondisi normal. Ia memperingatkan harga minyak mentah dunia berisiko menembus angka 100 dolar AS per barel.
"Permusuhan dan penerapan kembali blokade mengembalikan konflik ke lintasan eskalasi," katanya.
Kondisi ini diprediksi memburuk jika infrastruktur energi kawasan mulai diserang secara terbuka.
Anjloknya arus pelayaran ini merupakan buntut panjang dari blokade resmi Amerika Serikat sejak minggu lalu. Ketegangan militer dua negara menghentikan proses diplomasi yang sebelumnya sempat memberi harapan perdamaian.