- Perubahan posisi duduk Wapres Gibran dalam Sidang Kabinet Paripurna menjadi simbol kerenggangan hubungan dengan Prabowo.
- Pengamat politik menilai Prabowo dan Gibran tidak lagi menunjukkan sinergi dalam menjalankan agenda pemerintahan strategis.
- Perbedaan orientasi politik antara Prabowo dengan Jokowi turut mempertegas jarak hubungan antara presiden dan wakil presiden saat ini.
Suara.com - Pergeseran posisi duduk Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam Sidang Kabinet Paripurna memicu spekulasi mengenai relasinya dengan Presiden Prabowo Subianto.
Jika sebelumnya kursi wakil presiden berada tepat di samping presiden, kini posisi duduk Gibran terlihat sejajar dengan para menteri kabinet.
Pengamat Politik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Zuly Qodir, menilai perubahan simbolik tersebut tidak bisa dilepaskan dari dinamika hubungan politik antara Prabowo dan Gibran selama hampir dua tahun terakhir masa pemerintahan berjalan.
Menurutnya, sejumlah indikator menunjukkan keduanya tidak lagi tampil sebagai pasangan yang bergerak dalam satu irama.
"Pertama, bahwa Gibran sama Prabowo setelah dilantik dalam waktu perjalanannya satu tahun ini tampaknya memang tidak satu gelombang di dalam soal mengurus negara ini," kata Zuly kepada Suara.com, Selasa (21/7/2026).
Hal itu bukan tanpa alasan, ia bilang selama ini banyak persoalan strategis yang lebih sering ditangani langsung oleh Presiden Prabowo tanpa keterlibatan yang terlihat dari wakil presiden.
Disampaikan Zuly, sinyal perbedaan arah politik juga terlihat dari hubungan Prabowo dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo yang merupakan ayah Gibran.
Dalam beberapa isu strategis, Jokowi dan Prabowo tidak lagi menunjukkan posisi politik yang sama seperti saat Pilpres 2024.
"Lalu kemudian yang kedua, dalam beberapa bulan terakhir, yang dulu bapaknya itu bersama-sama dengan Prabowo ternyata di tengah jalan juga berbeda pilihan dan jalan politiknya," ucapnya.
Ia mencontohkan respons Jokowi terhadap sejumlah kebijakan pemerintah seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG) maupun Koperasi Desa Merah Putih yang dinilai menunjukkan jarak dengan agenda pemerintahan saat ini.
Di saat yang sama, dukungan politik Jokowi terhadap PSI yang dipimpin putranya, Kaesang Pangarep, disebut mempertegas adanya perbedaan orientasi politik.
Selain itu, Zuly menyoroti sejumlah momen kenegaraan yang memperlihatkan Prabowo dan Gibran tidak selalu tampil berdampingan. Mulai dari upacara kenegaraan hingga sidang kabinet, keduanya beberapa kali terlihat duduk terpisah.
Pola tersebut semakin memperkuat kesan bahwa hubungan politik presiden dan wakil presiden tidak lagi berjalan dalam satu garis yang sama.
"Artinya memang bisa dikatakan ini ada indikasi antara presiden dan wakil presiden sudah tidak satu iring, satu jalan, gitu kan. Berjalan sendiri-sendiri," ucapnya.

Apalagi dominasi pengambilan keputusan saat ini sepenuhnya berada di tangan Presiden Prabowo. Sementara itu, peran Gibran dinilai tidak terlalu terlihat dalam berbagai isu strategis, mulai dari persoalan ekonomi hingga pemberantasan korupsi yang belakangan menjadi sorotan publik.
"Dan kemudian tidak melibatkan wakil presiden, apalagi wakil presiden juga berjalan sendiri. Jangan-jangan juga wakil presidennya punya agenda sendiri, itu yang membuat semakin tidak satu garis," ujarnya.
Ia menambahkan minimnya pernyataan maupun sikap politik Gibran terhadap berbagai kebijakan penting pemerintah membuat publik sulit melihat posisi wakil presiden dalam pemerintahan saat ini.
Hal ini membuat perubahan posisi kursi dalam sidang kabinet dinilai bukan sekadar soal tata letak ruangan. Melainkan dapat dibaca sebagai simbol hubungan politik yang semakin berjarak antara Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran.
"Ya jadi ya mau bagaimana lagi, saya melihatnya memang ini kelihatannya tidak seiring sejalan dalam waktu 1,5 tahun ini," tandasnya.