Mengapa Rencana Memindahkan Pusat Data AI ke Luar Angkasa Picu Kekhawatiran Ilmuwan?

Bimo Aria Fundrika

Selasa, 21 Juli 2026 | 16:35 WIB
Mengapa Rencana Memindahkan Pusat Data AI ke Luar Angkasa Picu Kekhawatiran Ilmuwan?
Pusat data AI pindah ke luar angkasa malah bikin memperparah lingkungan (dok.Unsplash/NASA)

Suara.com - Perusahaan teknologi dunia kini berlomba memindahkan pusat data Artificial Intelligance (AI) ke luar angkasa. Namun, para ilmuwan memperingatkan bahwa langkah tersebut bisa menimbulkan masalah lingkungan baru.

Jutaan peluncuran roket ke luar angkasa dapat meningkatkan emisi karbon, merusak lapisan ozon, hingga menghasilkan puing-puing antariksa.

Sebagian besar rencana pembangunan pusat data orbital itu bergantung pada keberhasilan Starship, roket pengangkut berat punya SpaceX. Setiap Starship yang diluncurkan ke luar angkasa bisa membakar lebih dari 1.000 metrik ton metana cair sekaligus melepas 80.000 metrik ton karbon dioksida (CO).

Di samping itu, emisi jelaga (black carbon) di atmosfer atas punya efek pemanasan lebih dari 500 kali lebih intens dibandingkan emisi yang sama saat di permukaan tanah. Seperti yang diketahui bahwa jelaga dari roket dapat mengurangi lapisan ozon stratosfer yang menjadi pelindung bumi dari sinar ultraviolet.

Sementara itu, pusat data di luar angkasa turut menghadapi tantangan dari segi teknis. Tidak adanya udara dan air di luar angkasa ini dapat mengakibatkan chip AI mengalami panas berlebih. Untuk mengatasi kondisi tersebut diperlukan radiator berukuran besar yang berisi ammonia (zat pendingin).

Dengan penambahan bagian tersebut, beban yang dipikul menjadi semakin banyak sehingga membutuhkan lebih banyak bahan bakar untuk mencapai orbit.

Saat di luar angkasa, panel surya menjadi lebih mengalami penurunan akibat radiasi. Demikian pula pada microchip yang akan lebih rentan mengalami bit flipping — gangguan yang terjadi saat partikel berenergi tinggi mengubah data secara acak. Perangkat keras yang terkena gangguan ini jadi rusak dan membutuhkan biaya yang sangat tinggi untuk mengembalikannya ke bumi.

Masifnya jumlah satelit yang saling terhubung oleh laser berpotensi menambah risiko yang dialami. Jika salah satu dari sekitar satu juta satelit tersebut terlepas dari penghubungnya sehingga memicu tabrakan dengan satelit lain. Risiko ini hanya akan menciptakan tabrakan-tabrakan lain dan menghasilkan lebih banyak puing di luar angkasa.

Fenomena ini dikenal dengan sebutan sindrom Klesser. Para ilmuwan mengkhawatirkan puing-puing orbital dapat mengganggu aktivitas manusia di luar angkasa untuk jangka waktu yang lama.

baca juga

Pengembangan pusat data orbital turut berpotensi dalam meningkatkan konsumsi air. Biasanya pelabuhan di antariksa membutuhkan sekitar 2 juta liter air untuk setiap peluncuran. Kebutuhan ini dimaksudkan untuk menekan debu beracun serta melindungi landasan dari panas ekstrem.

Namun, SpaceX beberapa kali dinilai telah melanggar aturan lingkungan. Peluncuran Starship telah mencemari air di perairan yang dilindungi di lepas pantai Texas.

Lembaga hukum lingkungan nirlaba terbesar di Amerika Serikat, Earthjustice menilai bahwa usulan-usulan tersebut gagal untuk mengakui dampak lingkungan secara kompeten. Mereka mendesak untuk melakukan peninjauan secara lebih komprehensif.

“Ini bukan hanya perencanaan yang buruk dan kesempatan yang terlewatkan, tetapi juga melanggar hukum federal,” katanya.

Meskipun begitu, Chief Executive Officer (CEO) SpaceX, Elon Musk menilai bahwa pusat data di luar angkasa sebagai jalan keluar untuk meningkatkan kapasitas pusat data AI.

“Di luar angkasa itu selalu cerah, jelas ini merupakan satu-satunya cara untuk meningkatkan skala,” katanya.

Pandangan mengenai pemanfaatan luar angkasa sebagai sumber energi ternyata bukan hal baru. Sebelumnya pada tahun 1970-an, NASA pernah mengajukan pembangunan listrik tenaga surya di luar angkasa saat terjadi krisis minyak di Iran.

NASA juga pernah menganalisis terkait penyimpanan material nuklir di bulan dan pembuangan limbah berbahaya ke matahari. Namun, rencana-rencana tersebut tidak ada yang terwujud karena terkendala oleh kondisi politik, ekonomi, dan risiko lingkungan.

Beberapa pihak menganggap bahwa rencana pemindahan pusat data orbital ini lebih dicondongkan untuk menyokong nilai bisnis SpaceX dibanding untuk memenuhi kebutuhan komputasi global.

Demikian pula, para ilmuwan mempertegas bahwa dampak lingkungan dari pemindahan infrastruktur AI ke luar angkasa belum dimengerti sepenuhnya sehingga masih memerlukan kajian yang lebih mendalam dan komprehensif.

Penulis: Chairunisa

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Indonesia Gabung Organisasi AI Dunia yang Diinisiasi China

Indonesia Gabung Organisasi AI Dunia yang Diinisiasi China

Video | Selasa, 21 Juli 2026 | 15:05 WIB

Google Ungkap 4 Kerugian Indonesia Jika Terapkan Hak Cipta AI

Google Ungkap 4 Kerugian Indonesia Jika Terapkan Hak Cipta AI

News | Selasa, 21 Juli 2026 | 15:04 WIB

Desain AI Kian Seragam dan Kaku, Apakah Estetika Visual Kita Sedang Krisis?

Desain AI Kian Seragam dan Kaku, Apakah Estetika Visual Kita Sedang Krisis?

Your Say | Selasa, 21 Juli 2026 | 11:41 WIB

Terkini

50 Nama Username TikTok Aesthetic yang Keren dan Berkelas

50 Nama Username TikTok Aesthetic yang Keren dan Berkelas

Tekno | Sabtu, 12 September 2026 | 12:35 WIB

5 Produk Skincare Terbaik untuk Flek Hitam agar Wajah Lebih Cerah

5 Produk Skincare Terbaik untuk Flek Hitam agar Wajah Lebih Cerah

Lifestyle | Sabtu, 12 September 2026 | 12:35 WIB

Gengsi di Atas Fungsi, Mengapa Kita Terobsesi dengan iPhone?

Gengsi di Atas Fungsi, Mengapa Kita Terobsesi dengan iPhone?

Your Say | Sabtu, 12 September 2026 | 12:30 WIB

Spesifikasi dan Harga GWM Wey G9 Hi4 untuk Pasar Indonesia

Spesifikasi dan Harga GWM Wey G9 Hi4 untuk Pasar Indonesia

Otomotif | Sabtu, 12 September 2026 | 12:30 WIB

Bule Geber Motor Depan Dirjen Imigrasi, Ketahuan Overstay Akhirnya Dideportasi dari Bali

Bule Geber Motor Depan Dirjen Imigrasi, Ketahuan Overstay Akhirnya Dideportasi dari Bali

Bali | Sabtu, 12 September 2026 | 12:24 WIB

Anti-Kilap Seharian! 4 Sunscreen SPF 50 Matte Finish untuk Kulit Berminyak

Anti-Kilap Seharian! 4 Sunscreen SPF 50 Matte Finish untuk Kulit Berminyak

Your Say | Sabtu, 12 September 2026 | 12:20 WIB

Harga Pangan Nasional: Cabai Rawit Rp90 Ribu, Daging Sapi Tembus Rp152 Ribu per Kg

Harga Pangan Nasional: Cabai Rawit Rp90 Ribu, Daging Sapi Tembus Rp152 Ribu per Kg

Bisnis | Sabtu, 12 September 2026 | 12:15 WIB

Antrean Panjang BBM di Bone Picu Keributan: Adu Jotos, Ada yang Bawa Badik

Antrean Panjang BBM di Bone Picu Keributan: Adu Jotos, Ada yang Bawa Badik

Sulsel | Sabtu, 12 September 2026 | 12:04 WIB

Gaya Hidup Sehat Dion Wiyoko Jadi Inspirasi Keluarga, Kini Rutin Cek Tensi dan Jantung

Gaya Hidup Sehat Dion Wiyoko Jadi Inspirasi Keluarga, Kini Rutin Cek Tensi dan Jantung

Health | Sabtu, 12 September 2026 | 12:02 WIB

Ulasan Detective Conan: Fallen Angel of the Highway, Aksi Motor Misterius

Ulasan Detective Conan: Fallen Angel of the Highway, Aksi Motor Misterius

Your Say | Sabtu, 12 September 2026 | 12:00 WIB

×