- Rapat Paripurna DPR RI secara resmi menyetujui hibah satu unit kapal induk ITS Giuseppe Garibaldi dari Pemerintah Italia.
- Persetujuan hibah tersebut merujuk pada surat Menteri Pertahanan RI tertanggal 7 Juli 2026 untuk memperkuat pertahanan laut Indonesia.
- Penerimaan kapal eks-Italia ini sempat menuai kritik mengenai transparansi prosedur serta kekhawatiran terkait beban biaya operasional jangka panjang.
Suara.com - Rapat Paripurna DPR RI resmi menyetujui penerimaan hibah alat peralatan pertahanan dan keamanan (Alpalhankam) berupa satu unit kapal induk ITS Giuseppe Garibaldi dari Pemerintah Italia.
Keputusan ini diambil secara bulat setelah melalui pembahasan di Komisi I DPR.
Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Budi Djiwandono, menegaskan bahwa seluruh fraksi menyetujui usulan tersebut.
“Komisi I DPR RI secara bulat dan sepakat menyetujui penerimaan hibah Alpalhankam dari luar negeri,” ujarnya dalam rapat.
Ia menjelaskan bahwa persetujuan itu merujuk pada surat Menteri Pertahanan RI bernomor B/1845/M/VII/2026 tertanggal 7 Juli 2026.
Dalam surat tersebut, pemerintah mengajukan penerimaan hibah satu unit kapal induk dari Italia.
Meski akhirnya disepakati, proses menuju persetujuan tidak berjalan mulus.
Sejumlah pihak sempat melontarkan kritik terkait prosedur yang dinilai mendadak dan kurang transparan.
Selain itu, kekhawatiran juga muncul terkait beban biaya operasional dan pemeliharaan kapal induk yang dikenal sangat besar.
Hal ini dinilai berpotensi membebani anggaran pertahanan dalam jangka panjang.
Namun demikian, pemerintah menilai hibah ini sebagai peluang strategis untuk memperkuat kemampuan pertahanan laut Indonesia.
Spesifikasi Kapal Induk ITS Giuseppe Garibaldi
Kapal penjelajah Giuseppe Garibaldi menjadi tonggak penting dalam sejarah militer laut Eropa.
Direkonstruksi pada akhir 1950-an, kapal ini menjelma sebagai salah satu kapal pertama yang mengusung teknologi rudal modern.
Awalnya dibangun pada 1930-an di galangan Italia, Garibaldi seperti dikutip dari Ministero Della Difesa, merupakan evolusi terakhir dari kelas Condottieri.
Desainnya saat itu dianggap sebagai salah satu yang terbaik di kelas kapal penjelajah ringan.
Transformasi besar dilakukan di Arsenal La Spezia pada periode 1957 hingga 1962.
Proyek ini mempertahankan struktur dasar kapal, namun mengubah total sistem persenjataan dan teknologi di dalamnya.
Salah satu inovasi utama adalah pemasangan empat peluncur rudal balistik Polaris di bagian buritan.
Sistem ini dirancang untuk peluncuran panas, berbeda dengan metode dingin yang umum digunakan pada kapal selam.
Namun, ambisi tersebut terhenti karena faktor politik.
Italia akhirnya tidak jadi mengoperasikan rudal Polaris, meski seluruh sistem peluncurnya telah selesai dibangun dan diuji coba.
Meski begitu, Garibaldi tetap mencatat sejarah sebagai kapal pertama di Eropa yang mengoperasikan sistem rudal Terrier.
Kapal ini juga dilengkapi radar canggih, termasuk sistem pemantauan udara tiga dimensi yang mampu mendeteksi target jarak jauh.
Dari sisi performa, kapal ini memiliki bobot hingga lebih dari 11.000 ton dan mampu melaju hingga 30 knot.
Dengan tenaga mencapai 100.000 HP, Garibaldi menjadi salah satu kapal tercepat di kelasnya pada masa itu.
Selain sebagai kapal tempur, Garibaldi juga berfungsi sebagai pusat komando armada.
Kapal ini aktif dalam berbagai latihan militer di kawasan Mediterania hingga operasi lintas samudra.
Setelah 33 tahun bertugas, Giuseppe Garibaldi resmi dipensiunkan pada Januari 1971.
Meski memiliki teknologi canggih, kapal ini juga memiliki keterbatasan operasional.
Ukuran yang relatif kompak membatasi kapasitas dan fleksibilitasnya dibanding kapal induk modern.
Keterbatasan tersebut kemudian mendorong Angkatan Laut Italia mengembangkan kapal generasi baru.