- Jakarta mengirimkan rata-rata 7.354 ton sampah harian ke TPST Bantar Gebang sepanjang tahun 2025.
- Program PHINLA mengumpulkan 283 ton sampah dan melibatkan 2.876 anggota di berbagai wilayah Jakarta.
- Pengelolaan sampah berbasis masyarakat meningkatkan pendapatan warga serta mencegah terjadinya banjir di Jakarta Utara.
Suara.com - Persoalan sampah di Jakarta masih menjadi tantangan besar. Sepanjang 2025, rata-rata sebanyak 7.354 ton sampah dikirim ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang setiap hari atau sekitar 2,68 juta ton dalam setahun.
Di tengah besarnya volume sampah tersebut, pengelolaan sampah berbasis masyarakat dinilai menjadi salah satu pendekatan yang dapat membantu mengurangi timbunan sampah sejak dari sumbernya, yakni rumah tangga.
Salah satunya dilakukan melalui Program PHINLA (Philippines, Indonesia, Sri Lanka) yang dijalankan Wahana Visi Indonesia bersama Divers Clean Action dengan dukungan Pemerintah Jerman melalui Federal Ministry for Economic Cooperation and Development (BMZ).

Hingga saat ini, program tersebut mencatat telah mengumpulkan lebih dari 283.152 kilogram sampah atau sekitar 283 ton. Program ini juga melibatkan 2.876 anggota aktif yang tergabung dalam 24 bank sampah dengan total pendapatan lebih dari Rp100 juta dari hasil penjualan sampah yang dapat didaur ulang.
Selain itu, program tersebut membentuk 44 kelompok simpan pinjam berbasis komunitas dan melatih 80 kader advokasi di 11 desa dan kelurahan.
Program Director Wahana Visi Indonesia, Eben Ezer Sembiring, mengatakan pengelolaan sampah tidak hanya berdampak pada kebersihan lingkungan, tetapi juga kesehatan masyarakat, terutama anak-anak.
"Kami melihat banyak anak-anak di Jakarta yang masih hidup dalam kondisi yang kurang sehat karena tingginya produksi sampah di lingkungannya serta rendahnya pengelolaan sampah dari sumber. Karena itu, kami terus memperkuat kolaborasi untuk mendorong pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan melalui partisipasi masyarakat," kata Eben dalam keterangan tertulis.
Menurutnya, pengelolaan sampah yang baik juga berpotensi mengurangi risiko banjir sekaligus membuka peluang tambahan pendapatan bagi keluarga.
Sejak 2024, Program PHINLA mendampingi empat kelurahan di Jakarta Utara, dua kelurahan di Jakarta Timur, serta enam pulau di Kabupaten Kepulauan Seribu. Warga didorong memilah sampah sejak dari rumah, kemudian menyetorkannya ke bank sampah agar dapat didaur ulang sekaligus menjadi tabungan.
Program tersebut juga diintegrasikan dengan Asosiasi Simpan Pinjam untuk Kesejahteraan Anak (ASKA) untuk membantu pengelolaan keuangan keluarga, termasuk memenuhi kebutuhan pendidikan anak.
Counsellor for Development Cooperation Kedutaan Besar Jerman di Jakarta, Angelika Stauder, mengatakan keberhasilan pengelolaan sampah berbasis komunitas bergantung pada kolaborasi jangka panjang antara masyarakat, pemerintah daerah, bank sampah, dan sektor swasta.
"Melihat masyarakat secara aktif mengumpulkan dan memilah sampahnya sendiri merupakan perkembangan yang sangat positif. Namun, keberlanjutan pengelolaan sampah membutuhkan kolaborasi jangka panjang antara masyarakat, bank sampah, pemerintah daerah, dan sektor swasta," ujarnya.
Manfaat program ini juga dirasakan oleh Nurpiah, Ketua Bank Sampah di Jakarta Utara. Ia mengaku lingkungan tempat tinggalnya sebelumnya kerap dilanda banjir saat musim hujan.
"Program PHINLA mengajarkan kami memahami nilai lingkungan dan nilai ekonomi sampah. Kami belajar memilah sampah, menjualnya, lalu menabung dari hasilnya. Lingkungan kami sekarang tidak pernah banjir lagi, sementara penghasilan tambahannya membantu kebutuhan keluarga dan pendidikan anak," katanya.