-
AS membombardir Iran selama 13 malam berturut-turut dan menyebabkan empat orang tewas di Ahvaz.
-
Menlu Iran mengkritik keras pembekuan aset negara karena dinilai menciptakan preseden global yang berbahaya.
-
Eskalasi militer dan gangguan pelayaran Laut Merah memicu lonjakan tajam harga minyak dunia.
Suara.com - Gempuran rudal Amerika Serikat kembali merobek langit Iran selama 13 malam berturut-turut. Laporan resmi mengonfirmasi jatuhnya korban jiwa dan luka-luka di sejumlah provinsi terdampak.
Serangan fajar teranyar langsung menyasar kawasan vital pesisir selatan hingga jantung ibu kota Tehran. Sistem pertahanan udara di kawasan timur Tehran terpaksa diaktifkan demi mencegat gempuran tersebut.
Empat warga sipil tewas dan 5 lainnya luka-luka akibat hantaman rudal AS di dekat Ahvaz, Provinsi Khuzestan. Sementara itu, 2 orang dilaporkan terluka di Khorramabad dan 2 korban lain jatuh di kota pelabuhan Bandar Abbas.
![Amerika Serikat kembali melancarkan serangan militer ke wilayah Iran dengan menargetkan sebuah lokasi militer di Bandar Abbas, kota pelabuhan strategis yang berada di dekat Selat Hormuz. [Istimewa]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/28/53634-as-serang-bandar-abbas-iran.jpg)
Rentetan ledakan hebat mengguncang setidaknya 6 provinsi utama, termasuk wilayah strategis Pulau Qeshm dan Jask. Kota Jask memegang peran geostrategis amat krusial karena berhadapan langsung dengan Selat Hormuz.
Eskalasi militer ini makin memperkeruh stabilitas kawasan pesisir yang menjadi jalur navigasi energi dunia. Bentrokan udara tanpa henti ini mengancam keselamatan warga sipil di pemukiman padat penduduk.
Kota-kota besar seperti Khorramabad, Ahvaz, dan Bandar Abbas terus menjadi sasaran tembak armada tempur AS. Dentuman keras memicu ketakutan meluas di tengah aktivitas warga yang lumpuh total.
Pemerintah Iran mengecam keras tindakan sepihak Amerika Serikat yang dinilai melanggar kedaulatan wilayah. Ketegangan diplomatik pun merembet ke ranah finansial dan perekonomian global.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyampaikan peringatan keras terkait penyitaan dana segar milik negara. Ia menilai upaya memanfaatkan aset negara yang dibekukan untuk menyelesaikan klaim masa depan adalah tindakan berbahaya.
"Menggunakan aset negara yang dibekukan untuk menyelesaikan klaim masa depan menetapkan preseden global yang berbahaya," tegas Araghchi sembari menggambarkan praktik tersebut sebagai hal yang "memicu perselisihan."
Di sisi lain, gejolak geopolitik ini langsung menggoyang pasar minyak mentah internasional. Meskipun sempat terkoreksi tipis pada hari Jumat, harga minyak Brent tetap bertahan pada level tinggi $99,97 per barel.
Minyak jenis WTI juga berada di angka $91,49 per barel menyusul ketakutan atas pasokan energi. Gangguan pelayaran di Laut Merah dan terhentinya jalur pipa di Kazakhstan kian memperparah lonjakan harga mingguan.
Di tengah situasi darurat, aktivitas diplomatik antarnegara tetangga terus diupayakan demi meredam krisis. Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi baru saja menyelesaikan kunjungan resminya ke Tehran.
Dalam kunjungan tersebut, Al-Zaidi menggelar dialog tingkat tinggi bersama jajaran pejabat senior Iran. Kedua negara resmi menyepakati sejumlah perjanjian penting di bidang transportasi dan pembangunan infrastruktur.
Rentetan serangan udara AS ini merupakan kelanjutan dari eskalasi militer yang meningkat drastis dalam beberapa pekan terakhir. AS mengklaim penyerangan ditujukan ke titik strategis, namun dampak fatal tetap menimpa area pemukiman warga.
Konflik terbuka ini terus memicu keprihatinan internasional akan potensi perang skala penuh di kawasan Timur Tengah.