- Presiden Prabowo Subianto menyinggung pihak bermental Londo Ireng dalam pemberitaan media saat Harlah PKB, Kamis (23/7/2026).
- Istilah Londo Ireng merujuk pada tentara asal Afrika Barat yang direkrut kolonial Belanda dalam KNIL abad ke-19.
- Ribuan serdadu Afrika Barat ditempatkan di Jawa dan keturunannya membentuk identitas unik yang dikenal sebagai Belanda Hitam.
Di diskusi dengan tema “Verhalen uit diverse culturen die verbinden” itu, Londo Ireng merupakan ria-pria Afrika Barat yang direkrut untuk bergabung dalam Koninklijk Nederlands-Indisch Leger (KNIL) pada abad ke-19.
Mereka didatangkan dari wilayah yang kini dikenal sebagai Ghana dan Burkina Faso, lalu ditempatkan di berbagai garnisun di Jawa seperti Batavia, Semarang, dan Solo.
Sejarah mencatat, sekitar 3.000 pria muda dari Afrika Barat didatangkan ke Nusantara antara 1831 hingga 1872.
Mereka direkrut dari wilayah Elmina, yang kini masuk Ghana, untuk memperkuat Koninklijk Nederlands-Indisch Leger (KNIL) setelah Belanda kekurangan pasukan akibat berbagai perang.
Sebagian dari mereka direkrut secara sukarela, namun tidak sedikit yang berasal dari sistem yang menyerupai perbudakan.
Mereka bahkan harus menebus kebebasan dengan gaji militer yang diterima setelah bergabung sebagai tentara.
Dalam konteks lokal, masyarakat Jawa menyebut mereka sebagai Londo Ireng.
Dari hubungan mereka dengan perempuan pribumi, lahirlah keturunan yang dikenal sebagai Zwarte Hollanders atau Belanda Hitam, sebuah identitas unik dalam sejarah kolonial.
Komunitas ini bertahan hingga awal abad ke-20, dengan tradisi militer yang diwariskan antar generasi.
Namun, setelah kemerdekaan Indonesia, sebagian besar keturunannya berpindah ke Belanda dan membentuk diaspora yang masih terhubung hingga kini.
Sejarawan dan penulis turut mengangkat kisah ini dalam berbagai karya.
Novel De zwarte met het witte hart (1997) karya Arthur Japin serta buku Zwarte huid, Oranje hart (2014) oleh Griselda Molemans menjadi referensi penting dalam mengenalkan sejarah kelompok ini kepada publik luas.
Tak hanya melalui literatur, kisah Belanda Hitam juga dihadirkan lewat instalasi seni dan arsip keluarga pada diskusi publik tersebut.
Salah satunya adalah Het familie Toelanie Archief, yang menampilkan perjalanan keluarga keturunan Belanda Hitam dari masa kolonial hingga era modern.
Ritie Toelanie, yang menelusuri sejarah keluarganya, menyusun kisah tersebut dalam buku Familieverhaal van drie culturen 1850–2016.
“Ini adalah bagian dari identitas kami yang selama ini kurang mendapat perhatian,” ujarnya.