-
Lonjakan kelahiran prematur di Gaza dipicu oleh kelaparan, stres berat, dan hancurnya fasilitas medis.
-
Rumah sakit kekurangan inkubator, oksigen, dan listrik untuk menyelamatkan nyawa bayi prematur yang kritis.
-
Bantuan nutrisi dan medis sangat mendesak untuk melindungi keselamatan ibu dan bayi baru lahir.
Suara.com - Kombinasi malnutrisi akut dan trauma psikologis berkelanjutan memicu lonjakan kasus kelahiran prematur yang mengancam nyawa ratusan bayi di Gaza.
Kondisi darurat ini memperparah penderitaan para ibu yang harus berjuang memulihkan kesehatan di tengah keterbatasan fasilitas medis mendasar.
Pengalaman kelam harus dialami Noor Salem (30) saat mendampingi buah hatinya, Yazan Al-Khalidi, yang terbaring lemah di dalam inkubator Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa, Deir el-Balah.

Persalinan prematur pada usia kehamilan delapan bulan membuat kondisi fisik Yazan membiru dan mengalami gangguan pernapasan berat.
Noor terpaksa menahan rindu tanpa bisa memeluk sang bayi demi menunggu kepastian medis di ruang perawatan intensif.
Rasa cemas mendalam menyelimuti Noor setelah sebelumnya kehilangan anak pertama akibat krisis pangan yang melanda wilayah tersebut pada 2025.
"Saya merasa takut sepanjang kehamilan karena sebelumnya sudah kehilangan bayi saya. Saya takut harus mengalami rasa sakit yang sama lagi," ungkap Noor, dikutip dari Al Jazeera, Senin (27/7/2026).
Rasa trauma kian memuncak saat menyaksikan kondisi fisik bayinya yang lahir tanpa merespons seperti anak normal pada umumnya.
"Ketika dia lahir dan saya melihat dia tidak bergerak atau menangis seperti bayi lainnya, saya merasa sangat ketakutan. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi padanya. Yang saya inginkan hanyalah agar dia selamat," tutur Noor.
Laporan UNICEF mengonfirmasi bahwa satu dari lima bayi baru lahir di Gaza membutuhkan perawatan inkubator intensif akibat gizi buruk ibu hamil.
Paparan bom serta evakuasi berulang memaksa tubuh wanita hamil bekerja melampaui batas ketahanan fisik dan mentalnya.
Dokter spesialis obstetri dan ginekologi, Dr. Afnan Abu Hasaballah, menggarisbawahi buruknya kondisi fisik para ibu saat tiba di fasilitas kesehatan.
"Ketakutan yang terus-menerus, pengungsian berulang, kekurangan makanan dan air bersih, serta terbatasnya akses ke perawatan antenatal semuanya meningkatkan risiko kelahiran prematur," jelas Dr. Afnan Abu Hasaballah.
Pengepungan wilayah secara menyeluruh memicu penyakit anemia parah yang menghambat pertambahan berat badan janin secara optimal.
"Banyak wanita hamil selama perang tidak dapat mengakses makanan yang cukup atau seimbang, dan ini berdampak langsung pada kesehatan ibu dan bayi baru lahir," kata Dr. Afnan Abu Hasaballah.
Tekanan kerja membubung tinggi di Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa sebagai satu-satunya penyedia layanan inkubator tersisa di wilayah tengah Gaza.
"Kami bekerja di bawah tekanan yang sangat besar, dengan kekurangan inkubator, ventilator, obat-obatan, dan perlengkapan dasar, selain pemadaman listrik dan kelangkaan bahan bakar yang berulang kali memicu ancaman langsung bagi bayi di dalam inkubator," papar Dr. Afnan Abu Hasaballah.
Minimnya durasi pemantauan medis membuat bayi prematur berisiko tinggi mengalami hipotermia, hipoglikemia, hingga infeksi sistemik berbahaya.
"Sayangnya, kita mungkin kehilangan bayi-bayi yang sebenarnya bisa selamat jika mereka menerima perawatan dasar," tambah Dr. Afnan Abu Hasaballah.
Pemisahan fisik antara ibu dan anak secara mendadak menciptakan guncangan emosional berat di tengah kehancuran infrastruktur kesehatan.
"Daripada memeluk bayi mereka dan merayakannya, para ibu melihat mereka dipindahkan langsung ke inkubator atau unit perawatan intensif. Ketakutan mereka berlipat ganda karena perang telah memengaruhi segalanya, mulai dari peralatan dan perlengkapan medis hingga pemadaman listrik dan kepadatan berlebih di rumah sakit," kata Dr. Afnan Abu Hasaballah.
Petualangan medis terus berlanjut tanpa henti demi menyelamatkan nyawa generasi penerus yang berada di ambang kematian.
"Kami terus bekerja siang dan malam tanpa tidur, dan kami melakukan semua yang kami bisa untuk menyelamatkan setiap anak, tetapi dalam banyak kasus, kebutuhan bayi lebih besar daripada sumber daya yang tersedia," lanjut Dr. Afnan Abu Hasaballah.
Penderitaan keluarga tidak berhenti saat keluar dari rumah sakit karena hilangnya akses membeli susu formula serta alat sterilisasi.
"Banyak keluarga kehilangan segalanya karena pengungsian, meninggalkan para ibu tanpa pakaian bayi, popok, selimut, susu formula, atau air bersih," jelas Dr. Afnan Abu Hasaballah.
Yayasan Qutoof Al-Khair di pengungsian Nuseirat berupaya mendistribusikan suplemen serta obat-obatan mendasar bagi ibu menyusui.
Ketua Yayasan, Akram Abu Jiab, membeberkan besarnya lonjakan permintaan bantuan nutrisi khusus dari para keluarga korban perang.
"Bayi prematur membutuhkan perawatan khusus dan pemantauan medis berkelanjutan bahkan setelah keluar dari inkubator," ungkap Akram Abu Jiab.
"Namun, banyak keluarga menghadapi tantangan besar dalam memenuhi kebutuhan medis dan nutrisi dasar anak-anak mereka," tambahnya.
Ketimpangan antara ketersediaan bantuan dan kebutuhan riil di lapangan kian melebar setiap harinya.
"Skala kebutuhan jauh melebihi sumber daya yang tersedia. Kesenjangan antara kebutuhan dan dukungan terus membesar setiap hari," tutur Akram Abu Jiab.
Dukungan penuh terhadap kesehatan ibu dan anak menjadi fondasi mutlak demi menjamin keberlanjutan hidup generasi Gaza masa depan.
"Di balik setiap bayi yang lahir di Gaza ada seorang ibu yang mencoba melindungi anaknya dalam kondisi yang luar biasa. Mendukung para ibu dan anak pada tahap ini bukanlah sebuah kemewahan; ini adalah sebuah keharusan untuk melindungi kehidupan generasi berikutnya," tegas Akram Abu Jiab.
Krisis kesehatan maternal dan neonatal di Gaza memuncak sejak berlanjutnya eskalasi militer dan krisis kemanusiaan setelah 7 Oktober 2023.
Blokade total menyebabkan kelumpuhan pasokan bahan bakar, obat-obatan, serta malnutrisi sistemik yang merusak fasilitas kesehatan secara masif.