- Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto meluncurkan gerakan Millennium Public Pulse 28 di Lenteng Agung pada Selasa 28 Juli 2026.
- Hasto menyatakan program Makan Bergizi Gratis pemerintah dapat disetarakan dengan konsep kedaulatan pangan Mustika Rasa era Soekarno.
- Pengelola gerakan tersebut didorong untuk aktif turun langsung ke lapangan guna menyerap keresahan nyata generasi muda masyarakat.
Suara.com - Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan (PDIP), Hasto Kristiyanto, resmi meluncurkan gerakan intelektual muda progresif yang diberi nama "Millennium Public Pulse 28".
Peluncuran itu dilakukan di Sekolah Partai PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, pada Selasa (28/7/2026).
Hasto menjelaskan, bahwa penamaan tersebut mencerminkan visi anak muda yang harus futuristik namun tetap berpijak pada solusi nyata bagi persoalan masyarakat lapis bawah.
Ia menekankan pentingnya membangun narasi strategis melalui kepemimpinan intelektual.
"Kita harus merumuskan The Story-nya. Bagaimana narasi-narasi yang kita bangun, strategic communication dari anak-anak muda sehingga mampu mengubah dunia melalui intellectual leadership yang berkarakter," kata Hasto.
Salah satu poin krusial yang disoroti Hasto dalam forum tersebut adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG) milik pemerintah saat ini.
Hasto membandingkannya dengan buku resep kuliner legendaris nusantara berjudul Mustika Rasa yang disusun pada era Bung Karno.
Hasto menyebut Mustika Rasa sebagai konsep MBG versi Soekarno yang berbasis pada kedaulatan pangan dan pemberdayaan rakyat, bukan melalui proyek terpusat yang membebani anggaran sektor lain.
"Mustika Rasa ini mengandung knowledge. Ini adalah MBG versi Soekarno. Tetapi bukan dengan proyek nasional dengan mengalihkan dana pendidikan, no! Tetapi dengan membangun kesadaran rakyat, menyajikan data informasi bahwa kalau kita makan daun kelor, daun pepaya, umbi-umbian, kita akan sehat. Di sini sudah dikaji dengan cara MBG yang memberdayakan rakyat Indonesia," terangnya.
Menurutnya, kandungan gizi dalam pangan lokal seperti umbi-umbian telah dirancang secara ilmiah oleh Badan Teknologi Makanan kala itu, yang kini potensial dikembangkan lebih jauh menggunakan teknologi Kecerdasan Buatan (AI).
Hasto juga meminta agar Millennium Public Pulse 28 tidak hanya menjadi wadah diskusi di ruang tertutup.
Ia mendorong para pengelolanya untuk aktif turun ke lapangan (go to the field) guna menyerap keresahan nyata generasi muda di warung kopi, pasar, hingga pusat kebudayaan.
"Public Pulse ini nanti akan mengangkat kisah inspiratif dan best practices dari tokoh-tokoh kalangan rakyat biasa, budayawan, seniman, dan artis yang berjuang dengan jatuh bangun demi membuat legacy bagi masa depannya di luar batas-batas geografis maupun sekat partai politik," pungkasnya.