Jika Negara Gagal Pulihkan Kepercayaan Publik, Vigilantisme Diprediksi Kian Meluas

Dwi Bowo Raharjo, Hiskia Andika Weadcaksana

Rabu, 29 Juli 2026 | 11:38 WIB
Jika Negara Gagal Pulihkan Kepercayaan Publik, Vigilantisme Diprediksi Kian Meluas
Ilustrasi main hakim sendiri. (Suara.com/tangkapan layar)
baca 10 detik
  • Sosiolog UGM Andreas Budi Widyanta memperingatkan bahwa aksi main hakim sendiri berpotensi meluas secara masif.
  • Penyebaran video kekerasan di media sosial berisiko memicu efek peniruan masyarakat sehingga kekerasan dianggap sebagai solusi penyelesaian masalah.
  • Negara harus segera melakukan pembenahan sistem hukum secara menyeluruh guna mengatasi kekecewaan publik serta mencegah konflik horizontal.

Suara.com - Aksi main hakim sendiri berpotensi meluas ke berbagai daerah apabila negara gagal memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap sistem hukum.

Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM), Andreas Budi Widyanta, mengingatkan kasus kekerasan yang terus berulang dan tersebar luas melalui media sosial dapat memicu efek peniruan hingga melahirkan lebih banyak aksi vigilantisme.

Menurut Abe sapaan akrabnya, media sosial memiliki dua sisi dalam penyebaran kasus kekerasan. Platform digital dapat menjadi ruang untuk mengungkap ketidakadilan.

Namun di sisi lain pemberitaan yang memperlihatkan aksi main hakim sendiri juga berisiko membentuk anggapan bahwa kekerasan massa merupakan cara yang dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan.

"Nah ini juga perlu diantisipasi bahwa sosial media itu juga ingin memberitakan ketidakadilan itu, tapi pemberitaan atau di sosial media tentang ketidakadilan itu bisa memberi contoh, malah jadi role model yang bisa ditiru oleh banyak orang juga," kata Abe kepada Suara.com, Rabu (29/7/2026).

Ia memperingatkan, risiko meluasnya vigilantisme akan semakin besar ketika kekerasan tidak lagi dipandang sebagai tindakan menyimpang, melainkan menjadi pola yang dianggap dapat dibenarkan.

Dalam situasi tersebut, satu kasus dapat memicu kasus lain dan membentuk rantai kekerasan yang sulit dikendalikan.

"Kalau sudah menjangkau massa yang sangat banyak dan punya pola pikir yang sama, hampir bisa dipastikan jumlah kasus itu akan bertambah semakin banyak ke depan," ujarnya.

"Apalagi kalau elit-elit politiknya hanya memikirkan perut mereka sendiri masing-masing, kepentingan mereka sendiri masing-masing," katanya menambahkan.

baca juga

Abe menyebut negara tidak cukup hanya merespons setiap kasus secara terpisah melalui penindakan hukum terhadap pelaku. Pemerintah perlu melakukan pembenahan menyeluruh terhadap sistem hukum untuk mencegah ketidakpercayaan publik berkembang menjadi kekerasan yang semakin meluas.

"Kalau tidak ada upaya sistematis dari negara untuk melakukan pembenahan secara radikal atas sistem hukum kita, ya lagi-lagi konflik horizontal lah yang kemudian akan terjadi," tandasnya.

Jika dibaca dari sudut pandang lebih luas, menurut dia, aksi main hakim sendiri merupakan gejala dari akumulasi kekecewaan masyarakat terhadap negara.

Tekanan ekonomi, menyusutnya ruang kerja, serta ketidakpuasan terhadap penegakan hukum dapat memperbesar kemarahan publik dan mendorong warga mencari saluran pelampiasan di luar mekanisme hukum.

"Implikasinya ya ini betul-betul kayak samsak. Di pengadilan jalanan yang betul-betul itu kayak dia warga ini berhadapan dengan samsak yang bisa jadi tempat pelampiasan untuk membuang seluruh kekesalannya terhadap negara yang tidak hadir," tuturnya.

Menurutnya, vigilantisme berkaitan dengan represi psikologis yang menumpuk akibat persoalan struktural yang tidak diselesaikan.

"Ini bukan soal lalu kemudian mereka enggak punya rasa kemanusiaan ya. Ini kan mentalitas yang sebetulnya sudah penuh dengan kegilaan, represi psikis yang sangat serius," tandasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Dari Pencurian Ayam hingga Bentrok Jalanan: Mengapa Amuk Massa Terus Berulang?

Dari Pencurian Ayam hingga Bentrok Jalanan: Mengapa Amuk Massa Terus Berulang?

News | Selasa, 28 Juli 2026 | 21:21 WIB

Amnesty International: Kejahatan Harus Dilawan dengan Hukum, Bukan Penghakiman Massa

Amnesty International: Kejahatan Harus Dilawan dengan Hukum, Bukan Penghakiman Massa

News | Selasa, 28 Juli 2026 | 18:56 WIB

Sosiolog UGM: Aksi Main Hakim Sendiri Cermin Brutalitas Elite dan Krisis Hukum

Sosiolog UGM: Aksi Main Hakim Sendiri Cermin Brutalitas Elite dan Krisis Hukum

News | Selasa, 28 Juli 2026 | 16:53 WIB

Polisi Tetapkan 5 Tersangka Pengeroyokan Pria yang Diduga Curi Ayam di Tabanan

Polisi Tetapkan 5 Tersangka Pengeroyokan Pria yang Diduga Curi Ayam di Tabanan

News | Senin, 27 Juli 2026 | 14:50 WIB

Terkini

Industri Telekomunikasi Diminta Perkuat Kolaborasi, Kepercayaan Publik Jadi Taruhan

Industri Telekomunikasi Diminta Perkuat Kolaborasi, Kepercayaan Publik Jadi Taruhan

Tekno | Selasa, 15 September 2026 | 17:19 WIB

Di Mana Nusron Wahid? Absen Rapat DPR Usai Pejabat Kementerian ATR Kena OTT KPK

Di Mana Nusron Wahid? Absen Rapat DPR Usai Pejabat Kementerian ATR Kena OTT KPK

News | Selasa, 15 September 2026 | 17:19 WIB

Review Film Agensi Rumah Tangga: Saat Isu Kerasnya PHK Dibalut Komedi Segar

Review Film Agensi Rumah Tangga: Saat Isu Kerasnya PHK Dibalut Komedi Segar

Your Say | Selasa, 15 September 2026 | 17:18 WIB

Media Asing Sorot Perasaan Purbaya Dipecat Prabowo, Singgung Krisis Kepercayaan Investor

Media Asing Sorot Perasaan Purbaya Dipecat Prabowo, Singgung Krisis Kepercayaan Investor

News | Selasa, 15 September 2026 | 17:17 WIB

Hari ke-8 Pencarian Rombongan Jurnalis: Kabut Tebal, Ombak 2,5 Meter dan Bahaya Erupsi Krakatau

Hari ke-8 Pencarian Rombongan Jurnalis: Kabut Tebal, Ombak 2,5 Meter dan Bahaya Erupsi Krakatau

News | Selasa, 15 September 2026 | 17:13 WIB

IHSG Makin Anjlok Setelah Purbaya Dicopot dari Menkeu, Betah di Level 6.400

IHSG Makin Anjlok Setelah Purbaya Dicopot dari Menkeu, Betah di Level 6.400

Bisnis | Selasa, 15 September 2026 | 17:09 WIB

Kementan Targetkan Ekspor 10.000 Ton Beras ke Palestina

Kementan Targetkan Ekspor 10.000 Ton Beras ke Palestina

Bisnis | Selasa, 15 September 2026 | 17:06 WIB

Aksi Bobol Toko Terpantau CCTV HP, Pencuri di Probolinggo Tewas Dihajar Massa

Aksi Bobol Toko Terpantau CCTV HP, Pencuri di Probolinggo Tewas Dihajar Massa

Jatim | Selasa, 15 September 2026 | 17:06 WIB

Liburan di Luar Negeri Diskon Jutaan, Begini Cara Klaim Diskon BRI di Avia Tour!

Liburan di Luar Negeri Diskon Jutaan, Begini Cara Klaim Diskon BRI di Avia Tour!

Bri | Selasa, 15 September 2026 | 17:05 WIB

Target Revitalisasi Tambak Pantura 20.000 Hektare, Pemerintah Baru Siapkan 6.000 Hektare

Target Revitalisasi Tambak Pantura 20.000 Hektare, Pemerintah Baru Siapkan 6.000 Hektare

Bisnis | Selasa, 15 September 2026 | 17:05 WIB

×