-
Donald Trump mengkritik Benjamin Netanyahu sebelum pertemuan diplomasi tertutup terkait konflik militer Iran.
-
Trump menyindir ketergantungan pertahanan Israel kepada Amerika Serikat dalam menghadapi ancaman nuklir Iran.
-
Benjamin Netanyahu mengklaim hasil pertemuan di Gedung Putih tetap berjalan positif dan produktif.
Suara.com - Presiden AS Donald Trump secara terbuka meluapkan kekesalannya terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu beberapa jam sebelum keduanya menggelar pertemuan tertutup di Gedung Putih. Sikap dingin Trump ini menjadi babak baru keretakan hubungan diplomasi kedua negara di tengah operasi militer bersama melawan Iran yang berlarut-larut.
Kejengkolan Washington mencuat setelah kubu Tel Aviv dituduh sengaja memanipulasi informasi intelijen untuk menyeret Amerika Serikat ke dalam perang yang semakin tidak populer di mata publik. Trump menilai bualan Netanyahu terkait situs nuklir bawah tanah Iran di Gunung Pickaxe hanyalah trik politik agar militer AS terus terlibat dalam konflik tersebut.
Suasana dingin terlihat saat Netanyahu masuk ke Sayap Barat Gedung Putih lewat pintu samping tanpa penyambutan resmi dan tanpa akses media. Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt hanya memberikan pernyataan singkat di media sosial X bahwa diskusi berlangsung positif dan produktif.
![Presiden China, Xi Jinping, diperkirakan akan menekan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terkait isu Taiwan dan perang tarif dalam pertemuan tingkat tinggi yang berlangsung di tengah memanasnya perang Iran. [istimewa]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/13/76171-donald-trump.jpg)
Netanyahu berusaha menepis kabar keretakan tersebut dengan mengklaim bahwa pembicaraannya dengan Trump berjalan sangat hangat dan mendalam.
“Ketika saya katakan luar biasa, saya tidak maksudkan itu secara dangkal,” ujar Netanyahu, dikutip dari Al Jazeera, Rabu (29/7/2026).
Kritik tajam disampaikan Trump saat diwawancarai media sebelum pertemuan di Ruang Oval berlangsung. Trump merasa tidak perlu diajari oleh Netanyahu mengenai ancaman situs nuklir bawah tanah milik Iran.
“Saya tidak butuh Bibi untuk memberi tahu saya hal itu,” kata Trump dalam wawancara dengan Fox News, menggunakan nama panggilan Netanyahu.
Trump juga mempertanyakan alasan Netanyahu mengumbar laporan intelijen tersebut ke publik ketimbang menyampaikannya secara langsung.
“Saya katakan: 'Mengapa Anda tidak katakan saja kepada saya, mengapa Anda harus mengumumkannya kepada dunia?'” katanya mengacu pada laporan tersebut.
Ia menegaskan telah memantau penuh seluruh aktivitas militer Iran di area tersebut.
“Saya tahu persis apa yang terjadi di Pickaxe. Ini bukan masalah besar,” ujar Trump.
Pertemuan ini berlangsung di tengah tekanan politik domestik AS yang menolak keterlibatan perang lebih lanjut dengan Iran. Ketegangan meningkat setelah kesepakatan jeda permusuhan yang ditandatangani Juni lalu pecah akibat ketidaksepakatan strategi.
Pemerintah Netanyahu secara konsisten menolak jalur diplomasi dan terus mendesak Washington melakukan operasi militer skala penuh untuk menggulingkan rezim Iran. Di sisi lain, Trump mulai membatasi manuver Tel Aviv yang dinilai terlalu bergantung pada bantuan pertahanan AS.
Trump menegaskan posisi tawar Amerika Serikat yang sangat krusial bagi keberlangsungan negara sekualisasinya di Timur Tengah.
“Jujur saja, kita bertindak sangat baik kepada banyak negara yang tidak akan bertahan hidup tanpa kita. Dan Anda tahu siapa yang tidak akan bertahan tanpa kita? Israel,” kata Trump.
Meskipun diwarnai perbedaan pandangan, Netanyahu tetap berupaya menjaga persepsi publik bahwa hubungan kedua negara berada dalam kondisi solid.
“Sebab saya pikir, dalam banyak hal, ini adalah keputusannya,” kata Netanyahu sebelum pertemuan. “Jika dia bisa melakukannya tanpa kembali ke pertempuran sengit militer, itu bagus. Mengapa tidak?”
Usai pertemuan usai, PM Israel kembali menegaskan adanya kesamaan pandangan terkait ancaman nuklir Tehran.
Ia menyebut percakapannya dengan Trump penuh dengan kemitraan, saling mendukung, dan pemahaman bersama atas tujuan bersama kita untuk memastikan Iran tidak pernah memperoleh senjata nuklir, beserta tujuan-tujuan lainnya.
Konflik bersenjata antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran bermula dari peluncuran operasi militer bersama pada 28 Februari lalu. Perang yang telah berlangsung selama lima bulan ini memicu eskalasi di Timur Tengah, termasuk wilayah Tepi Barat, Gaza, dan Lebanon.
Ketegangan antarwilayah sempat mereda melalui Nota Kesepahaman (MoU) pada bulan Juni yang membuka kembali Terusan Hormuz dan menghentikan blokade laut AS. Namun, dorongan ganti rezim dari Israel serta perbedaan sikap atas program jet tempur F-35 membuat strategi diplomasi Washington dan Tel Aviv kerap berseberangan.