- Presiden Donald Trump menegur Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Gedung Putih pada 28 Juli akibat kebocoran informasi nuklir Iran.
- Kebocoran intelijen mengenai fasilitas nuklir Iran tersebut memicu ketegangan hubungan dan perbedaan pendekatan antara kedua pemimpin di Amerika Serikat.
- Kedua pemimpin tetap membahas kelanjutan Abraham Accords serta upaya Perdana Menteri Israel memperkuat posisi politik dalam negeri menjelang pemilu.
Suara.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan menunjukkan ketidaksenangannya terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu setelah isi pembahasan terkait Iran bocor ke publik.
Ketegangan ini mencuat jelang pertemuan penting kedua pemimpin di Gedung Putih, 28 Juli waktu setempat.
Dalam wawancara di program Fox & Friends, Trump secara terbuka mempertanyakan sikap Netanyahu.
“Mengapa dia tidak menyampaikannya langsung kepada saya? Kenapa harus diumumkan ke seluruh dunia?” ujar Trump dengan nada kesal.
Kebocoran tersebut berkaitan dengan dugaan informasi intelijen Israel mengenai aktivitas nuklir Iran di kawasan yang disebut Gunung Pickaxe.
![Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir melakukan tindakan provokasi dengan memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur. [Tangkap layar X]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/13/63609-tamar-ben-gvir-dan-benjamin-netanyahu.jpg)
Media AS melaporkan Netanyahu berencana mengungkap detail soal ekspansi fasilitas nuklir Iran yang dinilai mengancam stabilitas kawasan.
Meski Gedung Putih melalui juru bicara Karoline Leavitt menyebut pertemuan Trump dan Netanyahu berlangsung positif dan efektif, insiden ini mengindikasikan adanya ketegangan terselubung.
Reuters menilai hubungan kedua pemimpin masih diwarnai perbedaan pendekatan, khususnya terkait Iran dan dinamika Timur Tengah.
Sebelumnya, Trump juga disebut beberapa kali menahan langkah agresif Israel terhadap target di Lebanon yang berkaitan dengan kelompok Hizbullah.
Bahkan, keduanya dilaporkan sempat terlibat percakapan telepon yang tegang pada Juni lalu.
Di tengah situasi tersebut, Netanyahu disebut berkepentingan memperkuat posisinya di dalam negeri menjelang pemilu.
Pertemuan dengan Trump diharapkan bisa meningkatkan citra politiknya di hadapan publik Israel.
Selain isu Iran, kedua pemimpin juga membahas kelanjutan Abraham Accords, yaitu kesepakatan normalisasi hubungan antara Israel dan sejumlah negara Arab yang dimediasi oleh Amerika Serikat.
Sementara itu, hubungan Trump dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky justru menunjukkan tren positif.
Zelensky menyebut pertemuannya dengan Trump di Gedung Putih sebagai pertemuan yang baik dan membahas kerja sama pertahanan.
“Kami berbicara tentang produksi rudal pencegat untuk sistem Patriot dan juga soal diplomasi. Penting untuk terus mendorong jalur diplomatik,” kata Zelensky melalui pernyataan resminya.