Suara.com - Umumnya masyarakat percaya bahwa dengan memperbanyak ruang hijau merupakan solusi praktis dalam meredam gelombang panas. Padahal, membangun dan mengelola ekosistem hijau di perkotaan jauh dari kata sederhana.
Gelombang panas yang terjadi sering kali tidak disadari sehingga berpotensi meningkatkan risiko kesehatan. Di tengah kondisi tersebut, taman kota kerap dijadikan sebagai tempat berlindung. Sayangnya, tidak semua ruang hijau dapat melindungi kita dari panas.
Mengutip dari penelitian yang terbit di Energy and Buildings dengan judul Urban form and park cooling performance during extreme heat events: a case study in Melbourne, mengungkapkan bahwa meminimalisir dampak dari panas ekstrim di daerah perkotaan memerlukan lebih dari sekadar memperbanyak ruang hijau.
Dalam penelitian tersebut, para peneliti berfokus pada tata kelola kota memengaruhi kinerja pendinginan selama panas ekstrim berlangsung di Melbourne.
Para peneliti menguak fakta bahwa taman kota memberikan manfaat pendinginan yang substansial selama kondisi panas ekstrim. Akan tetapi, manfaat ini sangat dipengaruhi oleh pengelolaan perkotaan di sekitarnya dan punya manfaat yang berbeda antara siang dan malam hari.
Di tengah gelombang panas, upaya pendinginan di siang hari dinilai krusial. Namun, pendinginan di malam hari tak kalah penting, mengingat kawasan perkotaan terus menerus menyerap dan menyimpan panas sepanjang hari.
Salah satu peneliti, Profesor Madya, Elmira Jamei mengatakan bahwa penanganan panas perkotaan tidak bisa sekadar mengandalkan penambahan taman tanpa stragei yang spesifik. Ia menegaskan bahwa karakter desain taman di pusat kota yang padat harus dibedakan dari taman pinggiran kota agar distribusi udara sejuk bisa bekerja secara optimal.
“Pesan untuk para perencana kota, seharusnya Anda tidak hanya mengatakan ‘bangun lebih banyak taman’ sebagai solusi untuk mengatasi panas. Taman di pusat kota punya strategi khusus yang desainnya berbeda dengan taman di pinggiran kota,” katanya.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa daya jangkau pendinginan taman dapat bekerja lebih maksimal pada kawasan perkotaan dengan tingkat kepadatan bangunan yang rendah.
Untuk mengoptimalkannya, perancangan tata ruang disarankan lebih mengutamakan pada saluran ventilasi ke jalan terdekat, membatasi pembangunan yang mengepung batas taman, serta mengintegrasikan vegetasi pemukiman ke dalam satu jaringan hijau yang terhubung.
“Hubungan antara taman kota dan lingkungan binaan di sekitarnya sangat memengaruhi seberapa efektif taman dalam mendinginkan kota selama cuaca panas ekstrim. Ini berarti bahwa dengan meningkatkan ketahanan kota bukan hanya tentang menciptakan ruang hijau, tetai juga tentang merancang taman dan lingkungan sekitarnya agar bekerja sebagai sistem yang terintegrasi,” ujar salah satu peneliti, Maryam Norouzi.
Berdasarkan temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa desain dan lokasi taman harus disesuaikan dengan tata kelola kota dan sekitarya, agar dapat lebih mempercepat efek pendinginan udara dari taman kota.
“Para pemangku kebijakan dapat memainkan peran yang sangat berpengaruh dalam merancang kota-kota yang adaptif terhadap perubahan iklim, sehingga kenyamanan termal di luar ruangan dapat meningkat. Pada akhirnya terciptakan lingkungan perkotaan yang lebih sehat bagi generasi mendatang,” pungkas Jamei.
Penulis: Chairunisa