-
Robotik Tiongkok mulai menguasai gudang ritel Inggris untuk meningkatkan efisiensi pemrosesan barang secara signifikan.
-
Adopsi otomatisasi berbasis robotik menjadi solusi atas krisis tenaga kerja dan produktivitas logistik Inggris.
-
Ekosistem komponen kendaraan listrik Tiongkok mempercepat pertumbuhan manufaktur robotik untuk ekspor pasar global.
Suara.com - Penggunaan armada robot China kini merevolusi kecepatan pemrosesan pesanan ritel daring di seluruh Inggris. Langkah otomatisasi ini menjadi jawaban instan atas permasalahan kelangkaan tenaga kerja serta rendahnya pertumbuhan produktivitas nasional.
Perusahaan raksasa China, Geek+, berhasil menempatkan ribuan unit autonomous mobile robots pada berbagai gudang retail besar seperti Tesco, Asda, dan Next. Skema pergerakan robot pintar berbasis pemindai kode QR ini memangkas jarak tempuh manual pekerja manusia serta mengoptimalkan kapasitas ruang penyimpanan.
Pengadopsian teknologi ini memberikan fleksibilitas tinggi tanpa memerlukan perubahan infrastruktur permanen seperti sistem ban berjalan tradisional. Efisiensi operasional tercapai berkat pengangkatan rak barang secara otomatis langsung menuju tempat pemrosesan staf gudang.

Laporan OECD bertajuk SME Technology Adoption in the United Kingdom menyoroti kelemahan adopsi otomatisasi manufaktur Inggris yang tertinggal dibanding negara maju lainnya. Kondisi tersebut membuka celah ekspansi masif bagi penyedia teknologi robotik luar negeri untuk menggarap pasar logistik Britania.
Melalui mitra lokal MotionTech, Geek+ telah mengoperasikan lebih dari 2.000 unit robot di 10 lokasi gudang strategis di Inggris. Barry Pemberton, Account Director MotionTech, mengungkapkan:
"Pelanggan menginginkan solusi yang dapat dideploy dengan cepat. Mereka menginginkan volume tinggi, penyimpanan tinggi, pengambilan cepat... pada akhirnya pada jejak yang lebih kecil dengan pengurangan jumlah karyawan."
"Saat ini kita tampaknya memiliki kekurangan tenaga kerja yang sangat besar di Inggris. Teknologi ini sangat penting untuk menjaga bisnis tetap berkembang dan memenuhi permintaan."
Federasi serikat buruh TUC yang mewakili hampir 6 juta pekerja Inggris menekankan pentingnya pelibatan tenaga kerja dalam proses otomatisasi gudang. Organisasi tersebut mendorong peningkatan keahlian pekerja ketimbang semata-mata melakukan pemangkasan biaya tenaga kerja secara drastis.
"Bekerja sama dengan ahli teknologi, pekerja, dan serikat pekerja dapat membantu mengarahkan penelitian dan inovasi Inggris menuju prioritas pekerja untuk otomatisasi... menghindari otomatisasi pemangkasan lapangan kerja yang berproduktivitas rendah," tulis TUC dalam laporannya.
Presiden Xi Jinping menempatkan industri robotik sebagai prioritas strategis nasional dalam kerangka penggerak kekuatan produktif kualitas baru China. Strategi ini memanfaatkan susutan populasi usia kerja untuk mengamankan dominasi manufaktur global melalui otomatisasi sistemik.
Riset Brookings Institution mengungkapkan bahwa lompatan industri robotik China sangat ditopang oleh kematangan ekosistem komponen kendaraan listrik (EV) domestik. Kyle Chan, peneliti Brookings Institution, mengamati:
"Kisah robotik dibangun langsung di atas ekosistem kendaraan listrik China."
"China secara sengaja mencoba membangun beberapa kekuatan tersebut. Saat China menjangkau area-area baru, dari robot humanoid hingga robot industri hingga robot pengiriman."
Produsen mobil listrik China XPeng turut memelopori integrasi teknologi ini dengan meluncurkan robot humanoid bernama Iron. Pendiri XPeng, He Xiaopeng, menyatakan:
"Kami ingin XPeng menjadi perusahaan teknologi tinggi. Di masa depan, perusahaan mobil mana pun akan bertransformasi menjadi perusahaan mobil dan robotik."
Target pengembang robotik China kini beralih menuju otomatisasi penuh seluruh alur kerja gudang dari pemindahan, pemilahan, hingga pengemasan barang. Pabrikan seperti AgiBot dan Unitree terus menggelontorkan investasi besar untuk menyempurnakan kemampuan operasional robot humanoid.
Kendati demikian, penggunaan robot humanoid di area kerja gudang dinilai masih bertahap dan berfungsi sebagai pelengkap armada robot beroda yang sudah ada. Barry Pemberton menambahkan:
"Saya tidak berpikir [humanoid] akan mengubah lanskap jenis teknologi atau otomatisasi yang akan diterapkan. Mereka pasti akan saling melengkapi."
Sektor e-commerce Inggris merupakan salah satu yang terbesar di Eropa, namun mayoritas operasional gudangnya masih berada pada tahap awal otomatisasi. Tekanan efisiensi biaya dan krisis pekerja pasca-pandemi mendorong percepatan adopsi teknologi robotik impor. China memanfaatkan keunggulan rantai pasok komponen EV untuk memproduksi robot murah berkualitas tinggi secara massal.
Meskipun menghadapi hambatan berupa kebijakan pembatasan impor teknologi dari Amerika Serikat atas alasan keamanan nasional, pasar Inggris tetap menjadi basis pengujian utama ekspor teknologi otomatisasi China di Eropa.