- Pembicara di Jatim Media Summit 2026 sepakat media harus berhenti hanya mengejar klik dan mulai mengembalikan fokus pada jurnalisme yang kredibel dan dipercaya publik.
- Di tengah era AI dan post-truth, verifikasi fakta, independensi, dan kualitas konten dinilai menjadi nilai terpenting yang membedakan media dari platform lainnya.
- Pemerintah, media, kampus, dan industri didorong membangun ekosistem bersama untuk memperkuat literasi digital, pemanfaatan AI secara bertanggung jawab, dan masa depan jurnalisme.
Pandangan paling tajam disampaikan Chief Content Officer KapanLagi Youniverse, Wensesiaus Manggut. Jurnalis yang telah berkecimpung hampir tiga dekade itu menilai industri media selama sekitar 20 tahun terakhir terlalu larut mengejar trafik, klik, impresi, dan pendapatan iklan hingga perlahan meninggalkan fungsi sosial pers.
"AI justru menjadi jalan pulang jurnalisme," ujarnya.
Menurut Manggut, AI mengubah lanskap distribusi informasi secara total. Jika sebelumnya Google dan Meta mengirimkan trafik ke media, kini AI menyajikan jawaban langsung kepada pengguna tanpa harus mengarahkan mereka membuka situs berita.
Akibatnya, media, influencer, hingga kreator konten menghadapi tantangan yang sama karena karya mereka menjadi sumber data bagi AI.
Dalam kondisi tersebut, ia menegaskan nilai terpenting bukan lagi sekadar banyaknya klik, melainkan kualitas dan kepercayaan.
"Content is the king. Trusted is the king. Independensi adalah raja. Di era AI, kepercayaan menjadi aset paling mahal," tegasnya.
Ia juga mengkritik model bisnis media digital yang selama ini bergantung pada jumlah pembaca sehingga mendorong media memproduksi konten sensasional ketimbang berita yang benar-benar dibutuhkan masyarakat.
Menurutnya, berita penting seperti inflasi, ekonomi, atau kebijakan publik sering kalah oleh gosip selebritas karena lebih mudah mendatangkan trafik. Padahal, kata dia, justru berita-berita berkualitas itulah yang memiliki nilai sosial terbesar bagi masyarakat.
Jatim Media Summit 2026 pun ditutup dengan optimisme bahwa Jawa Timur berpeluang menjadi barometer ekosistem media nasional apabila kolaborasi antara pemerintah, akademisi, industri media, dan pelaku ekonomi kreatif terus diperkuat di tengah disrupsi teknologi kecerdasan buatan. (Dimas Angga Perkasa)
Kontributor : Dimas Angga Perkasa