- Mahasiswa KKN-PPM UGM memasang delapan lampu penerangan jalan tenaga surya di Desa Wonosobo dan Rejoagung, Banyuwangi, pada Juli 2026.
- Tim mahasiswa UGM juga melatih warga mengolah limbah serabut kelapa menjadi produk briket bernilai ekonomi untuk menambah penghasilan.
- Seluruh program KKN disusun bersama warga dan pemerintah desa guna mengatasi masalah penerangan serta pengelolaan limbah organik.
Suara.com - Jalan-jalan yang sebelumnya gelap di Desa Wonosobo dan Rejoagung, Kecamatan Srono, Banyuwangi, kini mulai diterangi lampu penerangan jalan umum (PJU) tenaga surya hasil program Kuliah Kerja Nyata-Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Gadjah Mada (UGM).
Tak hanya menghadirkan penerangan, para mahasiswa juga membawa program pemberdayaan berupa pemanfaatan limbah serabut kelapa menjadi briket bernilai ekonomi.
Program tersebut merupakan bagian dari berbagai kegiatan KKN-PPM UGM yang menyasar kebutuhan masyarakat. Seluruh program disusun melalui diskusi bersama pemerintah desa dan warga.
Dengan demikian, solusi yang diberikan sesuai dengan persoalan yang dihadapi di lapangan, mulai dari minimnya penerangan jalan hingga pengelolaan limbah organik.
Delapan Titik Lampu Tenaga Surya
Anggota Tim KKN-PPM UGM Banyuwangi, M. Farkhan Fauzan, menjadi penggagas pemasangan PJU tenaga surya di wilayah tersebut. Ia menyebut ada delapan titik yang dipasang, masing-masing empat di Desa Wonosobo dan empat di Desa Rejoagung.
Salah satu lokasi berada di sekitar Lapangan Wonosobo Sport Center yang dipilih berdasarkan tingkat iradiasi matahari agar panel surya dapat bekerja optimal.
"Kalau untuk total titik yang dipasang itu ada delapan, empat di Wonosobo dan empat lagi di Rejoagung," kata Farkhan saat ditemui di lokasi, Jumat (31/7/2026).
Mahasiswa Teknologi Rekayasa Elektro Sekolah Vokasi UGM angkatan 2023 itu menjelaskan program tersebut berangkat dari kondisi jalan desa yang minim penerangan. Sejumlah ruas jalan berpotensi meningkatkan risiko kecelakaan maupun gangguan keamanan.
Dengan biaya sekitar Rp200 ribu per titik, lampu tenaga surya dipilih karena lebih praktis dipasang tanpa harus terhubung ke jaringan listrik PLN.
Lampu tersebut mampu menyala optimal selama sekitar delapan jam dan dilengkapi sensor gerak yang akan meningkatkan intensitas cahaya ketika ada orang atau kendaraan melintas.
"Pemilihan lampu tenaga surya sendiri itu berdasarkan tingkat kepraktisannya dalam menginstal... tidak membutuhkan jaringan kabel yang dihubungkan secara langsung ke grid PLN," ungkapnya.
Menurutnya, penggunaan energi surya menjadi bagian dari upaya mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya pengembangan energi bersih dan penanganan perubahan iklim melalui pemanfaatan sumber energi ramah lingkungan.
Serabut Kelapa Disulap Jadi Briket
![Pembuatan briket dari serabut kelapa di Kecamatan Srono, Banyuwangi, Jumat (31/7/2026). [Suara.com/Hiskia]](https://media.suara.com/pictures/original/2026/07/31/20246-pembuatan-briket-dari-serabut-kelapa.jpg)
Selain pembangunan infrastruktur, mahasiswa juga mengembangkan program pengolahan limbah serabut kelapa menjadi briket. Koordinator program tersebut, Layla Oktavia, mengatakan pemilihan briket didasari melimpahnya komoditas kelapa di Desa Wonosobo yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal.
"Saya lihat di sini tuh komoditasnya kelapa. Jadi mungkin daripada serabut kelapanya itu cuma dibuang, sebenarnya serabut kelapa ini bisa dipakai yang lebih bermanfaat," ujar Layla.
Layla menuturkan briket memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan arang kayu, mulai dari bentuk yang seragam sehingga panasnya lebih merata, waktu pembakaran yang lebih lama, hingga abu yang tidak mudah beterbangan.
Dalam proses pembuatannya, serabut kelapa yang telah dibakar dicampur menggunakan tepung kanji sebagai perekat sebelum dicetak menjadi briket.
"Kalau briket apinya merata, habisnya bisa barengan dan lebih awet," ungkapnya.
Selain itu, kata Layla, produk briket memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi dibandingkan arang biasa mengingat proses pembuatannya yang lebih panjang.
Dengan demikian, program tersebut diharapkan dapat menjadi peluang usaha baru bagi masyarakat apabila dikembangkan secara berkelanjutan.
Warga Melihat Peluang Baru
Salah seorang warga Dusun Lembangrejo, Semi Hartati (54), menilai pelatihan pembuatan briket memberikan wawasan baru bagi masyarakat. Selama ini, serabut kelapa hanya menjadi limbah atau dimanfaatkan untuk kebutuhan lain, padahal berpotensi menjadi produk bernilai jual.
"Iya bisa jadi alternatif, siapa tahu bisa dijual, kan bisa nambah penghasilan," kata Semi.
Ia mengatakan wilayahnya baru pertama kali menjadi lokasi KKN sehingga berbagai program yang dibawa mahasiswa dinilai memberikan manfaat bagi warga.
Selain pelatihan pembuatan briket, mahasiswa juga mengadakan kegiatan pembuatan pupuk organik dan komposter bersama kelompok tani.
Program Disusun Bersama Warga
Kepala Dusun Lembangrejo, Suyut Warsito, mengatakan seluruh program mahasiswa selalu didiskusikan terlebih dahulu dengan pemerintah dusun sehingga benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.
Dari berbagai kegiatan yang dijalankan, kata dia, pemasangan lampu penerangan jalan menjadi salah satu program yang paling dirasakan manfaatnya oleh warga.
"Ya, terutama untuk lampu-lampu penerangan jalan yang sudah dipasang dan untuk lain-lainnya juga banyak bermanfaat," ungkap Suyut.
Bagian dari Gerakan Nasional KKN UGM
Direktur Pengabdian kepada Masyarakat UGM, Rustamaji, menuturkan tema besar KKN tahun ini masih berfokus pada ketahanan pangan dan adaptasi terhadap perubahan iklim.
Implementasinya sangat luas, mulai dari diversifikasi pangan, penguatan UMKM, pengelolaan sampah, penghijauan, hingga pengembangan energi ramah lingkungan seperti yang dilakukan mahasiswa di Banyuwangi.
"Tema besar KKN tahun ini sama dengan dua tahun atau tiga tahun yang lalu, yaitu ketahanan pangan dan mengantisipasi perubahan iklim," ucap Rustamaji.
"Termasuk juga di sana apabila sudah tahan pangan, tentu kita mencari sumber-sumber ekonomi baru, termasuk di sana ada pariwisata, UMKM, dan seterusnya," imbuhnya.
Secara nasional, KKN-PPM UGM tahun ini melibatkan 9.177 mahasiswa yang tersebar di 32 provinsi di Indonesia. Ia menegaskan KKN bukan sekadar membangun reputasi kampus, melainkan membangun jejaring serta menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat.