Suara.com - Aparat keamanan Maroko membiarkan dan mengarahkan gelombang imigran untuk melintasi wilayah perbatasan menuju Ceuta, kawasan kantong milik Spanyol di Afrika. Pengakuan sejumlah migran menyingkap adanya instruksi langsung dari petugas lapangan saat eksodus massal terjadi secara mendadak.
Kesaksian warga yang menyeberang memperlihatkan kontras tajam dengan penanganan aparat yang sebelumnya sempat melepaskan gas air mata dan semprotan air untuk membendung massa. Dugaan pembiaran ini memicu lonjakan drastis arus migrasi ilegal yang menembus garis batas kedua negara dalam waktu singkat.
Akses masuk yang mendadak terbuka tanpa penjagaan ketat dimanfaatkan puluhan ribu pemuda yang mencari peluang hidup baru di Eropa. Fenomena ini menciptakan krisis kemanusiaan baru di wilayah perbatasan Afrika Utara yang selama ini dijaga ketat.

Sejumlah pencari suaka menegaskan bahwa petugas di garis batas tidak melarang pergerakan massa menuju daratan Spanyol.
"Mereka membuka perbatasan dan membolehkan semuanya lewat begitu saja," kata Ajoub El-Arrot, seorang imigran, saat membicarakan otoritas Maroko, dikutip oleh The New York Times.
Petugas lapangan Maroko bahkan aktif memberikan petunjuk arah kepada rombongan warga yang merangsek mendekati gerbang Ceuta.
Seorang migran lain, Youssef Alaoui, mengatakan bahwa saat rombongannya mendekat Ceuta, personel kepolisian Maroko diduga mengarahkan mereka ke jalan yang benar, lantas berkata "Pergi ke sana, pergi ke sana."
Informasi mengenai terbukanya jalur penyeberangan ini menyebar cepat di platform media sosial hingga memicu pergerakan massa yang lebih besar.
Seorang penyeberang mengaku mendapat dorongan langsung dari aparat penegak hukum setempat saat berada di area perbatasan.
Mohammed Ahmidho, kepada The New York Times, menyebut dirinya mengetahui serbuan imigran ke Ceuta dari media sosial.
Ia juga mengeklaim bahwa saat ia mendekati perbatasan Spanyol, petugas penegak hukum Maroko diduga mengatakan padanya untuk "datang ke Spanyol."
Namun keterbatasan fasilitas dan bantuan dasar di lokasi tujuan memaksa sebagian warga untuk memutar balik arah perjalanan.
Akan tetapi, Ahmidho memutuskan kembali ke Maroko karena ia tidak berhasil mendapat makanan, air, atau tempat tinggal di Ceuta, menurut laporan itu.
Gelombang pemuda Maroko terus berkumpul di area perbatasan sebelum akhirnya ratusan di antaranya berhasil menerobos masuk ke Ceuta.
Eskalasi lonjakan arus penyeberangan ini mencatatkan rekor penyeberangan terbesar dalam waktu singkat di wilayah perbatasan Afrika-Eropa.
Wali Kota Ceuta Juan Jesus Vivas mengonfirmasi bahwa terdapat 60.000 orang yang masuk ke wilayahnya dari Maroko hanya dalam kurun satu hari.
Peristiwa eksodus massal ini memakan korban jiwa sedikitnya 57 imigran yang tewas dalam upaya menyeberangi jalur berbahaya tersebut.
Sebagian besar rombongan kini telah dipulangkan, dengan sekitar 48.300 orang di antaranya tercatat sudah kembali ke wilayah Maroko.
Insiden ini menambah panjang ketegangan geopolitik dan pengelolaan krisis imigrasi antara otoritas Spanyol dan Maroko di perbatasan Afrika.