Dikira Enak Hidup di Spanyol, Migran Maroko Pilih Balik Kanan karena Kelaparan di Enklave Ceuta

Pebriansyah Ariefana

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 14:04 WIB
Dikira Enak Hidup di Spanyol, Migran Maroko Pilih Balik Kanan karena Kelaparan di Enklave Ceuta
Puluhan ribu migran Maroko memilih pulang akibat terancam kelaparan dan krisis tempat tinggal di Ceuta. (Anadolu)

Suara.com - Harapan manis hidup di Eropa berubah menjadi keputusasaan massal setelah puluhan ribu warga Maroko mendapati kenyataan pahit di wilayah enklave Spanyol, Ceuta. Ancaman kelaparan, ketiadaan tempat beralas untuk tidur, hingga lumpuhnya fasilitas publik memaksa sedikitnya 48.300 orang memilih balik kanan ke tanah air mereka.

Fenomena kepulangan sukarela dalam jumlah fantastis ini membalikkan narasi migrasi yang biasanya didominasi oleh kegigihan menembus perbatasan Eropa. Pilihan untuk mundur justru diambil demi bertahan hidup di tengah krisis pangan parah yang melanda wilayah perbatasan tersebut.

Realitas di lapangan menghancurkan ekspektasi para pencari kerja yang mendapati seluruh pertokoan tutup dan jalanan kota dipadati puluhan ribu pendatang baru. Dari sekitar 60.000 jiwa yang menembus benteng perbatasan dalam beberapa hari terakhir, mayoritas tak sanggup bertahan lebih dari satu malam.

Sebanyak 57 orang tewas saat puluhan ribu migran mencoba menerobos wilayah eksklave Spanyol di Ceuta dari Maroko sepanjang pekan ini.  (Faro TV)
Sebanyak 57 orang tewas saat puluhan ribu migran mencoba menerobos wilayah eksklave Spanyol di Ceuta dari Maroko sepanjang pekan ini. (Faro TV)

Ayoub, pemuda 29 tahun asal Larache, mengaku hanya sanggup bertahan sehari semalam setelah melintasi garis batas Ceuta. Ia tak menyangka kondisi di wilayah administrasi Spanyol itu jauh lebih krisis dari bayangannya.

"Bagian tersulit adalah tidak bisa mengamankan kebutuhan paling mendasar," ujar Ayoub, dikutip dari Anadolu.

"Saya bahkan tidak bisa menemukan sepotong roti, jadi saya memutuskan untuk kembali ke negara saya. Lebih baik pulang ke rumah, makan sepotong roti dan bersyukur kepada Tuhan."

Ia menggarisbawahi bahwa pengalaman kelam ini menjadi pelajaran berharga bagi siapa pun yang bermimpi bermigrasi secara ilegal ke Eropa. Ketiadaan penampungan memaksa mayoritas migran terlunta-lunta dan tidur beralaskan aspal jalanan.

Rasa frustrasi serupa dirasakan Othmane Assou yang menyeberang bersama sepuluh rekannya sebelum akhirnya memutuskan mundur. Pekerja tani asal Moulay Bousselham ini awalnya tergiur mengadu nasib karena upah harian di desanya tak lagi mencukupi.

“Seratus dirham sehari tidak cukup untuk hidup, dan itulah mengapa saya berpikir untuk bermigrasi,” kata Assou.

baca juga

Namun, nihilnya akses makanan dan tutupnya toko-toko di Ceuta langsung memadamkan niat mereka untuk melanjutkan perjalanan. Assou menggambarkan ribuan migran yang masih bertahan di dalam enklave tersebut dalam kondisi tersesat tanpa kepastian masa depan.

Sementara itu, gelombang manusia masih terus berdatangan dan memicu ketegangan hebat di kota perbatasan Fnideq, Maroko. Pasukan keamanan memperketat penjagaan untuk mencegah kerumunan besar mendekati pagar pembatas kedua negara.

Aksi pembakaran kendaraan sempat mewarnai bentrokan antara kelompok migran dan aparat sebelum akhirnya berhasil dibubarkan. Pihak berwenang Maroko hingga kini masih menyiagakan personel skala besar di sekitar kawasan Fnideq.

Tragedi ini juga memakan korban jiwa setelah otoritas Spanyol berhasil mengevakuasi 57 jenazah di wilayah perbatasan mereka. Sebagian korban tewas akibat tenggelam saat mencoba berenang, sementara yang lain terinjak-injak dalam kerusuhan di pagar pembatas.

Wilayah Ceuta dan Melilla merupakan dua enklave milik Spanyol yang terletak di pantai utara Maroko. Kedua wilayah ini menjadi sangat strategis karena merupakan satu-satunya perbatasan darat langsung antara Uni Eropa dan benua Afrika.

Kondisi ekonomi yang sulit membuat puluhan ribu warga Maroko nekat menerobos perbatasan demi menuju Eropa. Namun, ketiadaan infrastruktur penampungan di Ceuta kini justru memicu krisis kemanusiaan baru di wilayah perbatasan tersebut.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

57 Orang Tewas Terobos Eksklave Spanyol di Ceuta dari Maroko

57 Orang Tewas Terobos Eksklave Spanyol di Ceuta dari Maroko

News | Sabtu, 01 Agustus 2026 | 07:33 WIB

18 Orang Tewas Tenggelam Berenang dari Maroko ke Ceuta Spanyol, Terobos Perbatasan dengan Ilegal

18 Orang Tewas Tenggelam Berenang dari Maroko ke Ceuta Spanyol, Terobos Perbatasan dengan Ilegal

News | Jum'at, 31 Juli 2026 | 17:16 WIB

Perbatasan Ceuta Jebol, Migran Maroko Berenang ke Spanyol

Perbatasan Ceuta Jebol, Migran Maroko Berenang ke Spanyol

News | Jum'at, 31 Juli 2026 | 14:06 WIB

Terkini

Pemain Ini Dianggap Biang Kerok Kekalahan Memalukan Manchester United dari Chelsea

Pemain Ini Dianggap Biang Kerok Kekalahan Memalukan Manchester United dari Chelsea

Bola | Minggu, 01 November 2026 | 16:42 WIB

Membaca Jongot: Hutan Warisan Suku Musi yang Menawarkan Harapan di Tengah Krisis Iklim

Membaca Jongot: Hutan Warisan Suku Musi yang Menawarkan Harapan di Tengah Krisis Iklim

Sumsel | Minggu, 01 November 2026 | 16:41 WIB

5 Retinol Serum untuk Usia 40 Tahun ke Atas, Atasi Kerutan dan Flek Hitam

5 Retinol Serum untuk Usia 40 Tahun ke Atas, Atasi Kerutan dan Flek Hitam

Lifestyle | Minggu, 01 November 2026 | 16:21 WIB

Mengungkap Asal-usul Teror Boneka Terkutuk dalam Film The Doll Ghawiah

Mengungkap Asal-usul Teror Boneka Terkutuk dalam Film The Doll Ghawiah

Your Say | Minggu, 01 November 2026 | 16:15 WIB

Viva Face Tonic Boleh Dipakai Umur Berapa? Simak Hal yang Perlu Diketahui

Viva Face Tonic Boleh Dipakai Umur Berapa? Simak Hal yang Perlu Diketahui

Lifestyle | Minggu, 01 November 2026 | 16:13 WIB

Karhutla Sumsel Berulang, 43 Perusahaan Pemegang Konsesi Didorong Pulihkan Gambut, Siapa Mengawasi?

Karhutla Sumsel Berulang, 43 Perusahaan Pemegang Konsesi Didorong Pulihkan Gambut, Siapa Mengawasi?

Sumsel | Minggu, 01 November 2026 | 16:12 WIB

Jejak Kontroversi Willie Salim: dari Rendang Hilang, Giveaway Settingan hingga Viral di Bundaran HI

Jejak Kontroversi Willie Salim: dari Rendang Hilang, Giveaway Settingan hingga Viral di Bundaran HI

Entertainment | Minggu, 01 November 2026 | 16:05 WIB

Super Gemas! 5 Lip Scrub Kemasan Jar Mungil untuk Bibir Halus dan Lembap

Super Gemas! 5 Lip Scrub Kemasan Jar Mungil untuk Bibir Halus dan Lembap

Your Say | Minggu, 01 November 2026 | 16:00 WIB

Kiky Saputri Ngenyek Rakyat Jelata dari Jet Pribadi Viral Lagi, Windah Basudara Serukan Rumbling

Kiky Saputri Ngenyek Rakyat Jelata dari Jet Pribadi Viral Lagi, Windah Basudara Serukan Rumbling

Entertainment | Minggu, 01 November 2026 | 16:00 WIB

Tak Semua Pasien Kanker Payudara Harus Jalani Mastektomi, Ada Pilihan Operasi Lain

Tak Semua Pasien Kanker Payudara Harus Jalani Mastektomi, Ada Pilihan Operasi Lain

Health | Minggu, 01 November 2026 | 15:57 WIB

×