- Puluhan ribu imigran ilegal menyerbu wilayah Ceuta dari Maroko akibat pelonggaran pengawasan perbatasan.
- Serbuan migran di Ceuta dikaitkan dengan spekulasi geopolitik keterlibatan Israel dan kunjungan Spanyol ke Aljazair.
- Pemerintah Spanyol memproses pemulangan migran, sementara jumlah korban tewas penyeberangan meningkat menjadi 67 orang.
Padahal, Aljazair adalah pendukung utama kelompok Polisario Front yang terlibat sengketa sengit dengan Maroko atas perebutan wilayah Sahara Barat.
Matteo Villa, peneliti migrasi dari Italian Institute for International Political Studies, menilai bahwa pergerakan puluhan ribu manusia melintasi perbatasan mustahil terjadi tanpa adanya pelonggaran kontrol yang disengaja.
Ia menyejajarkan fenomena ini dengan krisis migrasi Mei 2021, tatkala Rabat melonggarkan penjagaan di tengah konflik diplomatik dengan Madrid.
"50.000 orang tidak datang dalam semalam ketika biasanya jumlahnya hanya ratusan per bulan. Sánchez pergi ke Aljazair adalah sesuatu yang tidak terlalu disukai Maroko,"
Menurut analisa Villa, Maroko berpotensi sengaja mengendurkan pengawasan perbatasan sebagai kartu tekan untuk membuktikan posisi tawarnya yang krusial bagi keamanan Eropa, sekaligus merespons manuver Spanyol yang kembali mendekati Aljazair.
Insiden penyeberangan massal tersebut memperlihatkan kondisi kritis di garis pantai Ceuta dan Melilla. Rekaman video yang viral memperlihatkan ribuan migran nekat mengarungi lautan menggunakan ban pelampung dari pesisir Maroko, sementara kelompok lain berupaya membobol pagar perbatasan berlapis.
Saat berhasil menembus daratan kota, sejumlah migran merayakan kedatangan mereka di hadapan awak media.
"Viva Espana! (Hiduplah Spanyol!),"
Kawasan Ceuta dan Melilla menjadi target utama karena letaknya yang berada di benua Afrika namun sepenuhnya tunduk pada hukum kedaulatan Spanyol.
Masuk ke Ceuta berarti menginjakkan kaki di wilayah resmi Uni Eropa yang menggunakan mata uang euro serta memberikan jaminan perlindungan hak asasi standar Eropa.
Laju penyeberangan juga dipicu oleh perubahan regulasi hukum internal Spanyol. Putusan Mahkamah Agung Spanyol menetapkan bahwa migran yang tiba di wilayah Ceuta atau Melilla lewat jalur laut melarang aparat melakukan pemulangan instan tanpa melalui prosedur pemeriksaan hukum yang sahih. Celah regulasi ini dimanfaatkan oleh jaringan penyelundup untuk meyakinkan ribuan orang bahwa kans mereka menetap di Eropa jauh lebih tinggi.
Besarnya skala arus masuk migrasi ilegal dari Maroko ini memantik guncangan hebat di internal Uni Eropa. Pemerintah Spanyol mencatat bahwa sebagian besar dari ribuan imigran yang tiba pada akhir Juli telah diproses untuk dikembalikan ke Maroko, sementara Kementerian Dalam Negeri Spanyol melaporkan jumlah korban tewas akibat penyeberangan berisiko tinggi ini meningkat hingga sedikitnya 67 orang.