Selat Hormuz Makin Panas Meski Donald Trump Batalkan Serangan ke Iran

Pebriansyah Ariefana

Senin, 03 Agustus 2026 | 11:26 WIB
Selat Hormuz Makin Panas Meski Donald Trump Batalkan Serangan ke Iran
Persediaan Rudal AS disinyalir menipis. (Instagram)
baca 10 detik
  • Donald Trump menunda serangan ke Iran tanpa penyelesaian konflik blokade Selat Hormuz.

  • Iran menganggap pembatalan serangan AS sekadar perang psikologis dan tetap siaga penuh.

  • Ketegangan yang berlanjut memicu krisis jalur logistik minyak dan membebankan ekonomi Iran.

Suara.com - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih membara meskipun Presiden Amerika Serikat Donald Trump memilih untuk menunda operasi militer skala besar ke wilayah Iran. Kebijakan pembatalan serangan ini ternyata belum mampu mengurai kemacetan parah armada kapal niaga yang terjebak di kawasan Selat Hormuz.

Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memegang kendali penuh atas lalu lintas maritim di koridor utara maupun selatan perairan strategis tersebut. Seluruh kapal niaga asing kini diwajibkan mengantongi izin khusus dari pasukan bersenjata Teheran untuk dapat melintasi jalur distribusi energi dunia itu.

Langkah penundaan gempuran militer ini diambil Washington setelah mengklaim adanya sinyal positif terkait kesepakatan pembukaan akses pelayaran serta penghentian ancaman nuklir. Namun, kubu militer Teheran menilai manuver retorika Washington tersebut hanyalah bagian dari taktik perang urat syaraf belaka.

Pjs Menteri Pertahanan Iran, Majid Ebn-e-Reza, menegaskan bahwa klaim penarikan ancaman dari pihak lawan disampaikan dalam konteks operasi psikologis dan perang perhitungan.

Brigadir Jenderal tersebut mengimbau seluruh angkatan bersenjata untuk tidak melonggarkan pengawasan.

“Kami tidak akan terkejut ataupun bersikap pasif.”

Komando militer Iran sebelumnya telah menebar ancaman akan menghancurkan aset-aset vital milik Amerika Serikat dan sekutunya jika infrastruktur sipil mereka diserang. Situasi pelik ini mendorong Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman melancarkan diplomasi telepon guna meredam eskalasi militer yang kian memanas.

Upaya mediasi internasional yang melibatkan Pakistan, Qatar, Oman, hingga Turki sejauh ini masih belum membuahkan hasil nyata bagi kedua belah pihak. Kegagalan kesepakatan nota kesepahaman bulan Juni lalu justru memicu kembali aksi saling serang dan pengetatan blokade di kawasan Red Sea serta Bab al-Mandeb.

Warga sipil di Teheran merespon pembatalan serangan ini dengan dingin karena sudah terbiasa dengan pola retorika politik dramatis yang kerap dilontarkan Washington. Masyarakat lokal kini lebih mengkhawatirkan dampak buruk kerusakan ekonomi domestik yang terus memburuk akibat sanksi internasional dan defisit anggaran negara.

baca juga

Seorang warga Teheran barat bernama Rana mengungkapkan ketakutannya kepada media mengenai potensi gempuran susulan.

“Saya khawatir mereka akan menghantam pusat perkotaan lagi dalam waktu dekat, tetapi kami tidak memiliki pilihan atas apa yang terjadi selanjutnya,” tuturnya.

Kondisi dalam negeri Iran sendiri makin memprihatinkan setelah krisis pembayaran gaji staf pengajar perguruan tinggi negeri mulai mencuat ke publik. Presiden Masoud Pezeshkian bahkan harus turun tangan secara langsung untuk menyelesaikan kendala pencairan dana operasional pendidikan tersebut.

Di sisi lain, Pemimpin Tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, memilih tidak menampakkan diri ke publik semenjak diangkat menggantikan ayahnya yang gugur dalam pertempuran. Keputusan menyembunyikan keberadaan pimpinan tertinggi ini diambil murni berdasarkan pertimbangan protokol keamanan tingkat tinggi.

Media lokal Hamshahri mengabarkan bahwa rekaman suara sekalipun sengaja ditahan agar pihak musuh tidak dapat menganalisis lokasi persembunyian melalui akustik ruang. Langkah isolasi ini dinilai sangat krusial guna menghindari pelacakan intelijen asing selama masa perang berlangsung.

Guna mengantisipasi ancaman pembunuhan pimpinan di masa depan, Anggota Parlemen Iran Ali Khezrian mengusulkan pembangunan fasilitas pertahanan khusus di dalam perut bumi.

“Kita harus mampu menjaga para pemimpin dan pejabat tetap aman di bawah tanah dan di perut gunung agar tidak terbunuh,” tegasnya.

Isu blokade Selat Hormuz dan penundaan serangan militer AS berakar dari pembatalan kesepakatan tukar guling fasilitas pelayaran dengan pencabutan sanksi minyak pada Juli lalu. Kegagalan kompromi tersebut menyebabkan Selat Hormuz kembali menjadi area panas pertempuran maritim yang mengancam stabilitas pasokan energi global.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Suplai Rudal Patriot Kritis, Pertahanan Udara Ukraina Bobol Hingga Makan Korban Jiwa

Suplai Rudal Patriot Kritis, Pertahanan Udara Ukraina Bobol Hingga Makan Korban Jiwa

News | Senin, 03 Agustus 2026 | 10:20 WIB

Minyak Dunia Semakin Murah, Harga BBM Gimana?

Minyak Dunia Semakin Murah, Harga BBM Gimana?

Bisnis | Senin, 03 Agustus 2026 | 09:37 WIB

Harga Minyak AS Melesat 5 Persen Setelah Gagalkan Serangan Iran

Harga Minyak AS Melesat 5 Persen Setelah Gagalkan Serangan Iran

Video | Minggu, 02 Agustus 2026 | 16:05 WIB

Terkini

Panik di KRL Rangkasbitung-Tanah Abang: Tas Penumpang Tiba-tiba Berasap Pekat, Ini Penyebabnya!

Panik di KRL Rangkasbitung-Tanah Abang: Tas Penumpang Tiba-tiba Berasap Pekat, Ini Penyebabnya!

News | Kamis, 17 September 2026 | 11:25 WIB

"Penghuni Rumah Warisan", SMARTFREN Perkenalkan Unlimited 5G Melalui Web Series

"Penghuni Rumah Warisan", SMARTFREN Perkenalkan Unlimited 5G Melalui Web Series

Riau | Kamis, 17 September 2026 | 11:25 WIB

SMARTFREN Perkenalkan Unlimited 5G Dengan Web Series Horor Komedi "Penghuni Rumah Warisan"

SMARTFREN Perkenalkan Unlimited 5G Dengan Web Series Horor Komedi "Penghuni Rumah Warisan"

Sumut | Kamis, 17 September 2026 | 11:21 WIB

3 Rekomendasi Sunscreen Korea untuk Flek Hitam, Wajah Kusam Ikut Teratasi

3 Rekomendasi Sunscreen Korea untuk Flek Hitam, Wajah Kusam Ikut Teratasi

Lifestyle | Kamis, 17 September 2026 | 11:19 WIB

5 Sepatu Lari Terbaik untuk Penderita Sakit Lutut dan Sendi, Ini yang Perlu Diperhatikan

5 Sepatu Lari Terbaik untuk Penderita Sakit Lutut dan Sendi, Ini yang Perlu Diperhatikan

Lifestyle | Kamis, 17 September 2026 | 11:19 WIB

Layanan Onshore Power Supply dari Pelindo Diramalkan Bakal Dorong Transformasi Green Port

Layanan Onshore Power Supply dari Pelindo Diramalkan Bakal Dorong Transformasi Green Port

Bisnis | Kamis, 17 September 2026 | 11:17 WIB

LRT Kelapa Gading - Manggarai Beroperasi, DPRD DKI Minta Mikrotrans Merambah Perkampungan

LRT Kelapa Gading - Manggarai Beroperasi, DPRD DKI Minta Mikrotrans Merambah Perkampungan

News | Kamis, 17 September 2026 | 11:17 WIB

Review Film Love of Your Life: Terlalu Banyak Kesedihan dalam Satu Paket

Review Film Love of Your Life: Terlalu Banyak Kesedihan dalam Satu Paket

Your Say | Kamis, 17 September 2026 | 11:15 WIB

Indonesia Diprediksi Hadapi Lonjakan Kebutuhan Listrik, Mengapa Menambah Pembangkit Saja Tak Cukup?

Indonesia Diprediksi Hadapi Lonjakan Kebutuhan Listrik, Mengapa Menambah Pembangkit Saja Tak Cukup?

News | Kamis, 17 September 2026 | 11:15 WIB

Pertama di Dunia! Amerika Serikat Pasang Senjata di Luar Angkasa

Pertama di Dunia! Amerika Serikat Pasang Senjata di Luar Angkasa

News | Kamis, 17 September 2026 | 11:13 WIB

×