-
Sengketa wilayah Ceuta dan Melilla memicu ketegangan diplomatik antara Spanyol dan Maroko.
-
Mayoritas penduduk enklave memilih bertahan di bawah kedaulatan Spanyol karena alasan kesejahteraan.
-
Maroko terus mengupayakan pengembalian wilayah enklave meski klaim hukum internasionalnya dinilai lemah.
Suara.com - Kehadiran wilayah enklave Spanyol di pesisir utara Afrika terus memicu friksi diplomatik yang intens dengan Maroko. Ketegangan berlanjut lantaran Rabat pantang menyerah menuntut pengembalian kawasan strategis tersebut ke kedaulatannya.
Kota Ceuta dan Melilla bersama gugusan pulau kecil Plazas de Soberanía menjadi sisa-sisa terakhir pengaruh imperium Eropa di benua Afrika. Garis perbatasan darat di wilayah tersebut kini berfungsi sebagai benteng terdepan Uni Eropa.
Akar keberadaan kawasan ini membentang jauh sebelum pembentukan negara Maroko modern. Jejak kolonialisme masa lalu mengunci status hukum kedua kota tersebut di bawah naungan Madrid.

Sejarah Panjang Enklave Spanyol dan Kekuasaan Spanyol
Pemerintah Spanyol memegang kendali atas Ceuta sejak abad ke-16 setelah menerima pengalihan kekuasaan dari Portugal. Sementara itu, wilayah Melilla telah ditaklukkan oleh bangsawan Spanyol sejak akhir abad ke-15.
Dominasi historis tersebut menjadi fondasi utama bagi Madrid untuk mempertahankan hak kepemilikannya hingga hari ini. Narasi sejarah kejayaan masa lalu terus dipelihara sebagai simbol kebesaran bangsa.
Antropolog dari IMF-CSIC di Barcelona, Yolanda Aixelà Cabré, memberikan pandangannya terkait nilai strategis wilayah tersebut bagi pemerintah kolonial.
“Spanyol mencapai wilayah terluasnya di Amerika Latin, dan dengan lepasnya Kuba, Kosta Rika, dan Filipina pada tahun 1898, Spanyol mengalihkan pengaruhnya ke Afrika, meskipun sebagian besar kekuatan kolonial Eropa telah membaginya di antara mereka sendiri,” kata Cabré dikutip dari Al Jazeera.
Gengsi sejarah masa lalu membuat Pemerintah Spanyol enggan melepas kendali atas tanah perbatasan tersebut. Cabré menilai ada nilai ideologis mendalam yang terus dipertahankan oleh otoritas Madrid.
“Bagi Spanyol, mempertahankan enklave-enklave ini [di pantai utara Afrika] sangat mendasar pada tingkat simbolis karena memperkuat keagungan Spanyol, masa lalu kekaisarannya yang terus dianggap oleh Negara sebagai pembawa peradaban yang berlawanan dengan kebiadaban, sebuah gagasan yang terangkum sempurna oleh wacana berulang bahwa [Christopher] Columbus, yang mewakili Raja Katolik, ‘menemukan’ Amerika,” tuturnya.
Di sisi lain, posisi tawar Maroko untuk merebut kembali kawasan tersebut terbentur oleh realitas sejarah. Peneliti sejarah Afrika Utara, Selim Balouati Lakhloufi, menjelaskan asal-usul keberadaan enklave tersebut.
“Wilayah-wilayah tersebut merupakan enklave yang telah diduduki selama berabad-abad,” ujar Lakhloufi.
Strategi Bertahap Pemerintah Maroko
Pasca-merdeka dari Prancis pada 1956, Maroko menetapkan klaim atas Ceuta, Melilla, dan Plazas de Soberanía sebagai agenda nasional. Namun, langkah diplomasi Rabat di tingkat internasional dinilai kurang agresif pada masa-masa awal dekolonisasi.
Pakar kebijakan luar negeri Maroko, Samir Bennis, membeberkan pertimbangan taktis yang diambil oleh para pemimpin Maroko kala itu.