Sumatra Dikepung 2.894 Hotspot! Prabowo Turun ke Riau Pimpin Penanganan Karhutla

Muhamad Yasir, Novian Ardiansyah

Senin, 24 Agustus 2026 | 09:59 WIB
Sumatra Dikepung 2.894 Hotspot! Prabowo Turun ke Riau Pimpin Penanganan Karhutla
Presiden Prabowo Subianto meninjau langsung lokasi kebakaran lahan di Desa Arang Limbung, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat (Kalbar), Sabtu (22/8/2026). [Suara.com/ Maria]
baca 10 detik
  • Presiden Prabowo akan meninjau langsung penanganan karhutla di Riau.
  • Kementerian Kehutanan mencatat 2.894 titik panas dan 36.047 hektare lahan terbakar di Sumatra.
  • Pemerintah memperluas operasi pemadaman terpadu serta menginstruksikan penegakan hukum pada area konsesi korporasi.

Suara.com - Presiden Prabowo Subianto akan meninjau langsung penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatra, khususnya Riau, pada Senin (24/8/2026).

Kunjungan tersebut dilakukan saat ribuan titik panas terdeteksi di sejumlah wilayah Sumatra.

Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mengatakan kunjungan Prabowo ke Riau merupakan bagian dari upaya memastikan penanganan karhutla berjalan cepat, terpadu, dan efektif.

"Kunjungan ini akan menjadi bagian dari komitmen Presiden untuk memastikan negara hadir dan memberikan perlindungan kepada masyarakat yang terdampak karhutla dan kabut asap," kata Pras kepada wartawan, Senin (24/8/2026).

Berdasarkan data SiPongi Kementerian Kehutanan, terdapat 2.894 hotspot yang terdeteksi di 10 provinsi di Sumatra.

Sumatra Selatan menjadi wilayah dengan titik panas terbanyak, yakni 1.410 titik, disusul Riau 480 titik dan Jambi 425 titik.

Luas lahan terbakar di 10 provinsi di Sumatra sepanjang 2026 juga telah mencapai 36.047,64 hektare.

Kondisi tersebut membuat pemerintah memperluas fokus penanganan karhutla setelah sebelumnya Prabowo meninjau penanganan kebakaran di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah pada Sabtu (22/8/2026).

Dari kunjungan tersebut, pemerintah mempercepat penanganan melalui penambahan armada water bombing, pengerahan personel darat dari TNI, Polri, dan Manggala Agni, serta penyiagaan fasilitas kesehatan bagi masyarakat terdampak.

baca juga

Prabowo juga menginstruksikan penegakan hukum terhadap pihak yang diduga menyebabkan atau lalai menjaga area konsesi hingga terbakar. Sejumlah area konsesi korporasi telah mulai diselidiki aparat penegak hukum.

"Fokus penanganan kini akan diperluas ke Sumatra, khususnya Riau, Jambi, dan Sumatra Selatan," ungkap Pras.

Pemerintah juga menggelar operasi terpadu melalui pemadaman darat, patroli, pengerahan personel, water bombing, hingga Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

Penanganan tidak hanya diarahkan untuk memadamkan api, tetapi juga mencegah munculnya titik panas baru serta mengurangi dampak kabut asap terhadap masyarakat.

Fokus Lahan Gambut dan Penegakan Hukum

Lahan gambut menjadi salah satu perhatian utama pemerintah karena kebakaran dapat menjalar di bawah permukaan tanah dan kembali muncul.

Kondisi itu membuat proses pemadaman harus dilakukan secara berulang melalui pembasahan dan penyisiran.

Pras menegaskan seluruh unsur pemerintah, mulai dari pemerintah daerah, BNPB dan BPBD, Kementerian Kehutanan, TNI, Polri, Manggala Agni hingga masyarakat, diarahkan bergerak dalam satu komando.

Pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kecamatan Kerumutan, Kabupaten Pelalawan terus dilakukan tim gabungan. [Ist]
Pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kecamatan Kerumutan, Kabupaten Pelalawan terus dilakukan tim gabungan. [Ist]

Belum Ada Nota Protes Negara Tetangga

Di tengah meluasnya karhutla, pemerintah juga mengantisipasi kemungkinan dampak kabut asap lintas batas. Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI mengklaim hingga kini belum menerima nota protes resmi dari negara-negara tetangga.

Juru Bicara Kemlu RI Vahd Nabyl A. Mulachela mengatakan komunikasi dan koordinasi dengan negara-negara di kawasan terus dilakukan, termasuk melalui mekanisme ASEAN dan Agreement on Transboundary Haze Pollution.

Pemerintah Indonesia juga terus berbagi informasi mengenai perkembangan karhutla dan dampaknya dengan negara-negara kawasan.

“Hingga saat ini, pemerintah Indonesia masih belum menerima penyampaian keberatan secara resmi dari negara-negara tetangga terkait perkembangan karhutla dan kabut asap,” kata Nabyl dikutip dari ANTARA.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Negara Tetangga Belum Kirim Nota Protes Meski Karhutla Kian Meluas

Negara Tetangga Belum Kirim Nota Protes Meski Karhutla Kian Meluas

News | Senin, 24 Agustus 2026 | 09:41 WIB

17 Pesawat dan 1.500 Prajurit Tambahan Dikerahkan Tangani Karhutla Kalimantan

17 Pesawat dan 1.500 Prajurit Tambahan Dikerahkan Tangani Karhutla Kalimantan

News | Senin, 24 Agustus 2026 | 07:43 WIB

BNPB Minta Malaysia dan Singapura Tak Saling Salahkan soal Asap Karhutla

BNPB Minta Malaysia dan Singapura Tak Saling Salahkan soal Asap Karhutla

News | Minggu, 23 Agustus 2026 | 21:57 WIB

Terkini

Dubes RI Soroti Potensi Energi Surya Indonesia, Bisa Jadi Salah Satu yang Terbesar di Dunia

Dubes RI Soroti Potensi Energi Surya Indonesia, Bisa Jadi Salah Satu yang Terbesar di Dunia

News | Senin, 14 September 2026 | 21:23 WIB

Pertamina NRE Dorong Pengembangan Bioetanol Berbasis Multi-Feedstock dan Multi-Generation

Pertamina NRE Dorong Pengembangan Bioetanol Berbasis Multi-Feedstock dan Multi-Generation

Bisnis | Senin, 14 September 2026 | 21:22 WIB

Catat Tanggalnya! Diskon 20% Kuliner Korea Palgakdo Khusus Nasabah BRI

Catat Tanggalnya! Diskon 20% Kuliner Korea Palgakdo Khusus Nasabah BRI

Bri | Senin, 14 September 2026 | 21:20 WIB

KPK Dikabarkan OTT di BPN Kabupaten Bogor, Sejumlah Pihak Diamankan?

KPK Dikabarkan OTT di BPN Kabupaten Bogor, Sejumlah Pihak Diamankan?

Bogor | Senin, 14 September 2026 | 21:12 WIB

Pria di Indragiri Hulu Diduga Sebabkan Karhutla 200 Hektare, Ada Bibit Sawit

Pria di Indragiri Hulu Diduga Sebabkan Karhutla 200 Hektare, Ada Bibit Sawit

Riau | Senin, 14 September 2026 | 21:05 WIB

Saat Karhutla Mengancam Sumsel, Generasi Muda Lintas Agama Diajak Turun Tangan

Saat Karhutla Mengancam Sumsel, Generasi Muda Lintas Agama Diajak Turun Tangan

Sumsel | Senin, 14 September 2026 | 21:02 WIB

Penunjukkan Suahasil Nazara Sebagai Menkeu Sudah Tepat

Penunjukkan Suahasil Nazara Sebagai Menkeu Sudah Tepat

Bisnis | Senin, 14 September 2026 | 21:00 WIB

Wacana CFD Jakarta Sabtu-Minggu, Gubernur Pramono Minta Dikaji Lagi

Wacana CFD Jakarta Sabtu-Minggu, Gubernur Pramono Minta Dikaji Lagi

Video | Senin, 14 September 2026 | 21:00 WIB

Borong Pastry Favorit di FLOR Jakarta! Nikmati Cashback Rp100 Ribu Pakai BRImo

Borong Pastry Favorit di FLOR Jakarta! Nikmati Cashback Rp100 Ribu Pakai BRImo

Bri | Senin, 14 September 2026 | 20:58 WIB

Belajar Rupiah dari Anak-Anak: Nilainya Berbeda, Bangganya Harus Sama

Belajar Rupiah dari Anak-Anak: Nilainya Berbeda, Bangganya Harus Sama

Kalbar | Senin, 14 September 2026 | 20:54 WIB

×