- Perdana Menteri Anwar Ibrahim mengungkap dugaan penipuan dan manipulasi laporan keuangan oleh startup Indonesia eFishery terhadap KWAP Malaysia.
- KWAP menyalurkan investasi sebesar RM163,4 juta pada Juli 2023 akibat laporan keuangan yang diduga dimanipulasi pihak eFishery.
- Pengadilan Negeri Bandung menghukum penjara pendiri eFishery Gibran Huzaifah pada April 2026 atas kasus penggelapan.
Suara.com - Kasus investasi Dana Pensiun Malaysia (KWAP) di perusahaan startup asal Indonesia, eFishery, menjadi sorotan setelah Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengungkap adanya dugaan penipuan dan manipulasi laporan keuangan.
Dalam keterangannya di Parlemen Malaysia, Anwar Ibrahim menyebut KWAP diduga menjadi korban penipuan terencana dan manipulasi laporan keuangan yang membuat lembaga tersebut menyalurkan dana sekitar RM200 juta atau setara Rp874,6 miliar kepada eFishery.
Namun, KWAP kemudian memberikan rincian bahwa nilai investasi sebenarnya pada Juli 2023 mencapai RM163,4 juta atau sekitar Rp700 miliar.
Anwar yang juga menjabat Menteri Keuangan Malaysia kemudian dikaitkan dengan kegagalan investasi tersebut.
Berikut empat fakta penting kasus eFishery, startup yang didirikan oleh Gibran Huzaifah.

Investasi Awal Pada Juli 2026
KWAP dalam pernyataan resminya pada 18 Juli 2026 menjelaskan bahwa investasi sebesar RM163,4 juta dilakukan pada Juli 2023.
Dikutip dari Astroawani, dana tersebut memberikan KWAP kepemilikan sekitar 2,51 persen saham eFishery.
Putaran investasi itu juga diikuti sejumlah investor internasional, di antaranya Temasek, SoftBank, 42XFund, dan Northstar.
Persoalan muncul setelah eFishery diduga melakukan manipulasi laporan keuangan.
Pendapatan perusahaan disebut dilaporkan jauh lebih tinggi dibandingkan kondisi sebenarnya.
Kasus tersebut kemudian berujung pada proses hukum terhadap sejumlah petinggi eFishery.
Pada April 2026, Pengadilan Negeri Bandung menjatuhkan hukuman penjara kepada pendiri eFishery, Gibran Huzaifah, serta dua mantan pejabat senior perusahaan dalam perkara yang berkaitan dengan penggelapan dan pencucian uang.
Peran Anwar Ibrahim Dipertanyakan
Status Anwar sebagai Menteri Keuangan Malaysia turut memunculkan pertanyaan mengenai sejauh mana keterlibatannya dalam keputusan investasi tersebut.