-
Universitas Islam Internasional Malaysia resmi memecat profesor linguistik Solehah Yaacob dari posisinya.
-
Pemecatan dipicu klaim sejarah tidak logis, seperti orang Melayu kuno bisa terbang.
-
Solehah membalas langkah kampus dengan mengajukan gugatan ke Pengadilan Industrial Malaysia.
Suara.com - Pemecatan mengejutkan menghantam profesor linguistik Solehah Yaacob dari Universitas Islam Internasional Malaysia akibat serangkaian teori sejarah Melayu yang dianggap tak masuk akal. Langkah tegas institusi ini diambil untuk menjaga nama baik serta standar keilmuan perguruan tinggi dari narasi pseudosains.
Keputusan ekstrem kampus memicu perlawanan hukum langsung dari akademisi senior tersebut ke Pengadilan Industrial Malaysia. Fenomena ini memperlihatkan batas tegas antara kebebasan berpendapat akademis dengan kewajiban menjaga validitas ilmiah.
Dunia sains dan sejarah menilai narasi kontroversial yang disebarkan dapat menyesatkan pemahaman publik secara luas. Pihak otoritas kampus akhirnya memilih memutus hubungan kerja demi menghentikan distorsi sejarah yang berlarut-larut.
Pihak manajemen kampus menegaskan pencabutan seluruh hak kelembagaan yang melekat pada mantan pengajarnya tersebut.
"Dia bukan lagi profesor dan tidak berhak mengeklaim hubungan apa pun dengan universitas," demikian pernyataan IIUM, dikutip dari SCMP, Rabu (26/8/2026).
Langkah ini diambil demi menjaga reputasi publik serta objektivitas keilmuan yang selama ini dibangun institusi.
"IIUM berharap klarifikasi ini akan membantu menghindari kesalahpahaman dan menjunjung tinggi integritas serta kedudukan akademik universitas," lanjut IIUM.
Solehah membuat kemarahan publik setelah menyebut masyarakat Melayu purba mampu terbang dan mengajari teknik tersebut ke masyarakat Tiongkok. Tak berhenti di situ, ia juga menyatakan bangsa Romawi kuno berguru teknik perkapalan kepada pelaut lokal Melayu.
Klaim unik lain mencakup asal-usul bijih besi di Kedah yang ia sebut berasal dari hantaman meteorit. Bahkan, ia mengaitkan Siti Khadijah dengan kawasan Melayu serta mengkritik pengaruh Hindu-Buddha pada masa lalu.
Kredo akademisnya makin disorot lantaran artikel ilmiah terbitan 2018 milik Solehah kedapatan menyitir media humor The Onion sebagai referensi resmi. Komunitas pakar sejarah menilai deretan pernyataan tersebut sangat melenceng dari logika ilmu pengetahuan.
Di sisi lain, Solehah merasa diperlakukan tidak adil oleh pihak rektorat dan memilih membawa kasus ini ke jalur hukum. Ia mengklaim sanksi pemecatan dikeluarkan secara sepihak tanpa memberi ruang klarifikasi.
"Saya dipecat dalam waktu 24 jam setelah dianugerahi penghargaan Malaysia Research Assessment oleh Kementerian Pendidikan Tinggi dan tidak diizinkan mengajukan banding. IIUM ingin membayar saya setara dengan enam bulan gaji tapi saya menolak," ucapnya.
Isu ini berakar dari maraknya gelombang teori konspirasi sejarah lokal yang ramai diperbincangkan di jejaring media sosial Malaysia. Solehah Yaacob kerap menjadi figur sentral dalam perdebatan tersebut karena memanfaatkan latar belakang akademisnya untuk memvalidasi klaim-klaim tak teruji.
Puncak kekecewaan para peneliti terjadi ketika kutipan media satire ditemukan dalam karya tulis ilmiahnya, yang dinilai merusak nilai integritas riset. Manajemen IIUM akhirnya mengambil tindakan drastis guna menyaring narasi sejarah agar tetap berbasis data valid empiris.