-
Sebanyak 55 warga Malaysia dilaporkan hilang kontak akibat banjir bandang di Rasuwa, Nepal.
-
Kerusakan infrastruktur dan matinya jaringan komunikasi menyulitkan proses pencarian serta pemetaan para korban.
-
Pemerintah Malaysia mengaktifkan posko darurat di Putrajaya dan mendaulat bantuan personel dari Dhaka.
Suara.com - Jumlah warga negara Malaysia yang hilang kontak pasca banjir bandang di Distrik Rasuwa, Nepal, melonjak tajam menjadi 55 orang. Jumlah ini melonjak signifikan setelah pihak berwenang menerima pembaruan laporan dari pihak keluarga serta agen perjalanan.
Krisis komunikasi dan terputusnya aliran listrik di lokasi bencana menjadi pemicu utama sulitnya melacak keberadaan para korban. Kendati demikian, pemerintah memastikan belum ada laporan resmi terkait korban jiwa dari pihak warga negaranya.
“Pada tahap ini, kementerian belum menerima konfirmasi resmi mengenai korban jiwa yang melibatkan warga negara Malaysia,” ungkap Kementerian Luar Negeri Malaysia, dikutip dari The Star, Kamis (27/8/2026).

Temuan 55 orang hilang ini menjadi eskalasi dramatis dari laporan awal Kedutaan Besar Malaysia di Kathmandu yang semula hanya mencatat 11 orang. Luapan Sungai Bhote Koshi yang mengamuk hebat menghancurkan akses jalan utama dan jembatan hingga mengisolasi seluruh kawasan.
Otoritas Nepal kini mengerahkan unit helikopter khusus untuk menerobos titik pemukiman yang terputus dari jalur darat. Operasi udara menjadi satu-satunya tumpuan karena kerusakan infrastruktur menutup total akses kendaraan darat.
Diplomat dari Kedutaan Besar Malaysia di Kathmandu terus berkoordinasi intensif dengan tim SAR lokal, Badan Pariwisata Nepal, dan jaringan rumah sakit utama. Langkah terpadu ini diambil demi memastikan keselamatan serta memetakan lokasi keberadaan seluruh warga yang terjebak.
Kerusakan fisik di Distrik Rasuwa tergolong sangat parah dan melumpuhkan berbagai sektor vital publik. Kerusakan meluas menghantam jaringan jalan raya, jembatan penyambung, hingga fasilitas komunikasi darat.
“Operasi pencarian dan penyelamatan sedang berlangsung, namun akses ke daerah-daerah yang terdampak masih sangat terbatas,” jelas pihak kementerian.
Menanggapi krisis yang membesar, Putrajaya langsung mengirim bantuan personel tambahan dari Komisi Tinggi Malaysia di Dhaka, Bangladesh. Diplomat perbantuan tersebut ditugaskan memperkuat operasional tim kedutaan di Kathmandu dalam menangani darurat bencana.
Kementerian Luar Negeri juga telah mengaktifkan ruang operasi khusus di Putrajaya sejak Kamis siang sebagai pusat krisis. Fasilitas ini berfungsi memvalidasi arus informasi sekaligus menjadi saluran komunikasi langsung bagi keluarga korban.
Pemerintah meminta pihak keluarga segera menyetorkan dokumen identitas diri lengkap dari kerabat yang berada di lokasi bencana. Data yang dibutuhkan mencakup nama terang, nomor paspor, rencana perjalanan, lokasi terakhir, hingga nomor telepon aktif.
“Anggota keluarga yang memiliki informasi mengenai warga Malaysia yang terlibat dapat menyerahkan rinciannya, termasuk nama lengkap, nomor paspor, rencana perjalanan, lokasi terakhir yang diketahui, dan nomor telepon, kepada Kedutaan Besar Malaysia di Kathmandu untuk memfasilitasi koordinasi,” tulis pernyataan resmi tersebut.
Wisma Putra mengimbau seluruh warga Malaysia di Nepal, khususnya yang berada di sekitar area bencana, untuk mengutamakan keselamatan jiwa. Warga diminta mematuhi semua instruksi otoritas lokal serta memperbarui data diri secara berkala melalui portal e-Konsular.
Pemerintah menegaskan akan terus memantau perkembangan situasi lapangan dan siap menyampaikan pembaruan informasi berkala kepada publik.
Distrik Rasuwa di Nepal merupakan wilayah pegunungan yang kerap menjadi destinasi jalur pendakian internasional. Tingginya curah hujan ekstrem memicu banjir bandang dari luapan Sungai Bhote Koshi yang menghancurkan sarana pemukiman dan transportasi di sepanjang aliran sungai.
Kondisi geografis yang curam ditambah hancurnya infrastruktur komunikasi menjadikan kawasan Rasuwa rawan terisolasi total saat bencana alam melanda. Hal ini menyulitkan pemetaan posisi wisatawan maupun warga asing yang sedang berada di area tersebut.