- Sebanyak 47 orang termasuk dua warga Singapura hilang akibat banjir di perbatasan Nepal-Tibet.
- Helikopter pencari gagal mendarat di lokasi bencana akibat kondisi medan yang sangat berbahaya.
- Tim penyelamat menyisir rumah sakit lokal untuk melacak keberadaan para korban yang hilang.
Suara.com - Banjir bandang dahsyat yang menerjang kawasan perbatasan Nepal dan Tibet melenyapkan rombongan pendaki berisi 47 orang. Insiden mendadak ini menyapu area tempat para wisatawan dan pemandu lokal menginap.
Dua warga negara Singapura terkonfirmasi masuk dalam daftar korban yang belum ditemukan di lokasi bencana. Tim evakuasi masih berpacu dengan waktu untuk melacak keberadaan seluruh anggota kelompok tersebut.
Petaka ini berdampak luas pada wisatawan dari berbagai negara yang sedang melintasi jalur pendakian regional. Selain warga Singapura, rombongan ini membawa 15 warga Australia, 10 warga Kanada, sembilan warga Nepal, delapan warga Amerika Serikat, dua warga Inggris, serta satu warga berkewarganegaraan ganda Rusia-Amerika.
Upaya pencarian terpusat pada fasilitas medis terdekat tempat para korban selamat kemungkinan dievakuasi. Direktur Utama Himalayan Glacier, Sanket Pandey, memberikan konfirmasi resmi terkait status terkini para pendaki.
"Saat ini mereka masih hilang," kata Sanket Pandey kepada AFP.
"Tim kami sedang memeriksa rumah sakit tempat para korban berdatangan."
Bagaimana Kondisi Lapangan dan Kendala Pencarian Korban Hilang?
Kendala cuaca dan medan ekstrem menghadang pemantauan udara langsung di lokasi terdampak paling parah. Pendiri perusahaan trekking asal AS sekaligus Presiden Asosiasi Agen Trekking Nepal, Sagar Pandey, telah menerbangkan helikopter ke titik bencana namun gagal mendarat.
Dua remaja asal Australia diyakini terjebak di antara belasan rombongan yang hilang tersebut. Kehadiran anak muda ini menambah urgensi penyisiran darat maupun udara oleh pihak berwenang.
Sebagian besar anggota kelompok melintasi dan menginap di wilayah Rasuwagadhi saat air bah menerjang. Beberapa di antaranya dilaporkan sedang melakukan perjalanan menuju pusat kota ketika banjir menghantam.
Keselamatan para pemandu lokal yang mendampingi perjalanan internasional ini juga masih membenturkan rasa cemas. Tujuh pemandu asal Nepal masuk dalam manifest korban hilang yang diterjang air bah.
Otoritas diplomatik Singapura bersama pihak agensi terus mengumpulkan data mendalam terkait perkembangan insiden. Channel NewsAsia (CNA) telah mengontak Kementerian Luar Negeri Singapura dan penyedia jasa pendakian guna mendapatkan rincian tambahan.
Kawasan Rasuwagadhi merupakan perbatasan vital yang menghubungkan wilayah utara Nepal dengan kawasan otonom Tibet di Tiongkok. Wilayah ini populer sebagai perlintasan utama bagi pendaki internasional yang melintasi Pegunungan Himalaya.
Bencana banjir bandang di perbatasan pegunungan kerap dipicu oleh curah hujan tinggi ekstrem serta luapan sungai lintas batas. Topografi yang curam membuat pemukiman dan tempat penginapan di sekitar Rasuwagadhi sangat rentan terhadap bahaya luapan air mendadak.