- BMKG melaporkan 76,5 persen wilayah Indonesia telah memasuki puncak musim kemarau pada Agustus 2026.
- Kemarau panjang menyebabkan penurunan pasokan air bersih dan menghambat aktivitas serta kesehatan masyarakat di berbagai daerah.
- Kondisi ini menunjukkan kekeringan bukan sekadar persoalan lingkungan, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan, kesejahteraan, dan aktivitas masyarakat.
Suara.com - Musim kemarau bukan hanya membuat cuaca terasa lebih panas. Di sejumlah wilayah Indonesia, kemarau panjang juga membuat akses masyarakat terhadap air bersih semakin terbatas.
Bagi warga yang tinggal di wilayah terdampak kekeringan, sumber air dapat mengering atau debitnya menurun. Tak jarang, masyarakat harus mencari sumber air lain atau membeli air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Padahal, air menjadi bagian penting dalam kehidupan. Mulai dari minum dan memasak hingga mandi, mencuci, menjaga kebersihan rumah, dan kesehatan keluarga, semuanya membutuhkan ketersediaan air yang cukup.
Kondisi tersebut menjadi semakin penting diperhatikan pada puncak musim kemarau 2026. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pada Dasarian I Agustus 2026 sebanyak 535 Zona Musim (ZOM) atau 76,5 persen wilayah Indonesia telah memasuki puncak musim kemarau. Sebanyak 169 ZOM atau 25,41 persen lainnya diperkirakan memasuki puncak kemarau pada September.
Sejumlah wilayah juga mengalami penurunan ketersediaan air dan keterbatasan pasokan air bersih, salah satunya Prabumulih, Sumatera Selatan.
Wali Kota Prabumulih H. Arlan mengatakan kemarau ekstrem tahun ini berdampak pada ketersediaan air bersih di wilayahnya.
Arlan pun merespons bantuan air bersih yang datang ke wilayahnya. Menurutnya, bantuan seperti inilah yang bisa langsung dirasakan manfaatnya oleh warga.
Kondisi ini menunjukkan bahwa kekeringan bukan sekadar persoalan lingkungan, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan, kesejahteraan, dan aktivitas masyarakat.
Hal ini seperti dikatakan Kepala Pelaksana BPBD Bantul Mujahid Amrudin, bahwa kekeringan berkepanjangan dapat semakin membatasi akses masyarakat terhadap air bersih.
“Kekeringan yang berkepanjangan dapat semakin membatasi akses masyarakat terhadap air bersih yang dibutuhkan untuk kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Bantuan air bersih datang dari pemerintah maupun pihak swasta, salah satunya Tempo Scan Group melalui program Tempo Scan Air Bersih untuk Indonesia pada Agustus hingga September 2026.
Mengusung tema “Mengalirkan Harapan, Menjaga Kehidupan”, program tersebut menyalurkan 640.000 liter air bersih ke 40 titik prioritas di Pulau Jawa dan Sumatera. Beberapa wilayah sasaran antara lain Sumatera Selatan, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan DI Yogyakarta.
Penyaluran dilakukan melalui kolaborasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk mengidentifikasi wilayah yang membutuhkan bantuan.
Winny Yunitawati, Deputy Managing Director CCHC, PT Tempo Scan Pacific Tbk, mengatakan program tersebut merupakan bentuk kepedulian perusahaan terhadap masyarakat yang menghadapi keterbatasan akses air bersih.
“Melalui Tempo Scan Air Bersih untuk Indonesia, kami ingin memberikan manfaat nyata dan berdampak langsung yang dirasakan oleh masyarakat khususnya untuk membantu memenuhi kebutuhan air bersih selama periode kekeringan,” pungkas Winny.
Pada akhirnya, ketersediaan air bersih bukan sekadar persoalan memenuhi kebutuhan dasar. Air juga menentukan kemampuan masyarakat untuk menjaga kesehatan, kebersihan, dan menjalankan aktivitas sehari-hari. Karena itu, menghadapi musim kemarau membutuhkan kolaborasi berbagai pihak agar masyarakat terdampak tetap mendapatkan akses terhadap kebutuhan penting tersebut.