-
Hampir 100 warga China dilaporkan hilang akibat banjir bandang hebat di perbatasan Nepal.
-
Kerabat korban memadati Rumah Sakit Bir Kathmandu untuk mencari kepastian nasib keluarga mereka.
-
Luapan air bah dari hulu sungai memicu kepanikan massal hingga memutus akses komunikasi warga.
Suara.com - Hampir 100 warga negara China dilaporkan hilang di wilayah perbatasan Nepal setelah banjir bandang hebat menerjang kawasan tersebut. Kedutaan Besar China di Kathmandu kini berkoordinasi intensif dengan otoritas setempat untuk memverifikasi keselamatan para korban.
“Di daerah bencana di sisi Nepal, jumlah warga negara China yang hilang hampir 100 orang,” kata juru bicara kementerian luar negeri Lin Jian kepada wartawan.
Bencana mendadak ini memicu kepanikan massal di wilayah perlintasan batas hingga memaksa evakuasi darurat puluhan ribu penduduk. Sanak keluarga korban yang cemas kini memadati lorong-lorong Rumah Sakit Bir di Kathmandu untuk mencari kejelasan nasib anggota keluarga mereka.

Subash Khatani mengungkapkan kecemasannya saat memburu keberadaan kerabat terdekatnya di tengah kesimpangsiuran data korban.
“Kakak laki-laki saya Ram Sharan Rasaili termasuk di antara mereka yang hilang di Rasuwa. Itu sebabnya kami keluar mencarinya,” kata Subash Khatani kepada kantor berita AFP.
Kepanikan senada dirasakan Chitra Bahadur Nepali yang terus melacak keberadaan sang keponakan, Yubraj Sewak, seorang pengemudi kendaraan niaga. Kontak terakhir keluarga tercatat beberapa jam sebelum aliran air bah menghantam jalur transportasi utama Rasuwa.
“Keponakan saya sedang dalam perjalanan ke Rasuwa dan berkomunikasi dengan saudara perempuan saya sampai sekitar jam 8 pagi kemarin,” katanya sambil menunjukkan foto keponakannya di ponselnya.
“Kami belum mendengar kabarnya sejak banjir. Namanya tidak ada di daftar mana pun yang kami lihat, dan anggota keluarga kami yang lain juga hilang,” ujarnya menahan haru.
Dampak terjangan air bah melumpuhkan berbagai aktivitas publik di Distrik Nuwakot, termasuk kawasan pendidikan yang berada di bantaran sungai. Para guru harus memandu murid-murid menyelamatkan diri ke tempat yang lebih tinggi dalam hitungan menit.
Gyan Deep Sapkota, siswa kelas 11 Trishuli Secondary School di Kota Bidur, mengingat momen mencekam saat air bah dari hulu Sungai Bhotekoshi tiba-tiba meluap.
“Guru-guru kami berteriak agar kami pergi,” kenangnya saat berbicara kepada Al Jazeera melalui telepon.
“beberapa dari kami mengambil jembatan tua kecil dan menyeberang ke area yang lebih aman, sementara sebagian besar siswa lari ke perbukitan. Beberapa siswa juga mengalami serangan panik dan pingsan.”
“Ini masih membuat saya merinding dan cemas,” tuturnya menutup cerita.
Kawasan perbatasan Nepal dan China memang memiliki kontur topografi curam yang sangat rentan terhadap luapan air bah secara mendadak. Cuaca ekstrem memicu arus deras dari hulu Sungai Bhotekoshi yang melintasi pemukiman serta jalur perdagangan antarnegara.
Hingga saat ini, proses pencarian dan evakuasi masih terus berlangsung dengan keterbatasan akses jalan yang rusak berat akibat luapan air.