- Volkswagen berencana merestrukturisasi bisnis demi efisiensi dengan mengancam penutupan lima pabrik dan pemangkasan puluhan ribu karyawan.
- Pemerintah Lower Saxony mendesak manajemen segera mencari solusi terbaik agar operasional pabrik dan stabilitas ekonomi wilayah tetap berjalan.
- Dewan pengawas dan serikat pekerja menolak rencana tersebut karena dinilai hanya fokus memangkas hak karyawan tanpa kejelasan visi.
Suara.com - Rencana restrukturisasi besar-besaran tengah membayangi raksasa otomotif asal Jerman yakni Volkswagen. Sebanyak lima pabrik milik perusahaan tersebut kini berada dalam posisi terancam ditutup demi efisiensi bisnis. Situasi ini memicu reaksi cepat dari pemerintah negara bagian Lower Saxony yang meminta manajemen segera mencari solusi terbaik agar operasional pabrik tetap berjalan.
Perdana Menteri Lower Saxony Olaf Lies menekankan pentingnya sektor otomotif bagi stabilitas ekonomi wilayahnya. Ia berkomitmen menjaga daerah tersebut agar tetap menjadi pilar utama industri kendaraan di Jerman.
“Lower Saxony adalah wilayah otomotif dan ini harus tetap demikian,” katanya dikutip dari Reuters, Jumat 28 Agustus 2026.
Pernyataan tersebut muncul menjelang pertemuan krusial antara jajaran direksi dengan para pekerja. Momen ini akan menjadi kesempatan bagi karyawan untuk meminta kejelasan langsung kepada CEO Volkswagen Oliver Blume terkait kebijakan pemangkasan biaya yang sangat agresif.
Sebelumnya Blume mengungkapkan perlunya pengurangan sekitar 50.000 posisi pekerjaan tambahan agar perusahaan kembali kompetitif. Langkah ini diambil untuk menghadapi tekanan persaingan dari produsen mobil asal China serta beban tarif di Amerika Serikat yang mencapai nilai miliaran dolar.
Namun upaya penghematan tersebut tidak berjalan mulus karena mendapat hambatan internal. Dewan pengawas Volkswagen dilaporkan telah memblokir sejumlah poin utama dalam rencana restrukturisasi tersebut. Di sisi lain serikat pekerja secara tegas menolak adanya penutupan pabrik maupun pemutusan hubungan kerja secara sepihak.
Ketua dewan pekerja Volkswagen Daniela Cavallo mengakui tantangan berat yang tengah dihadapi perusahaan. Meski demikian ia mengkritik pendekatan manajemen yang dianggap terlalu fokus pada pemangkasan hak karyawan.
“Program untuk masa depan tidak bisa dibuat atau dipertahankan hanya dengan membicarakan pengurangan biaya tenaga kerja, pemangkasan karyawan, dan mempertanyakan kelangsungan suatu lokasi,” katanya.
Cavallo juga mempertanyakan visi jangka panjang perusahaan setelah kebijakan restrukturisasi tersebut diterapkan. Saat ini pemerintah Lower Saxony mendesak adanya kesepakatan bersama antara manajemen dan pekerja untuk menyelamatkan masa depan lima pabrik yang sedang terancam tersebut.