-
Yordania berhasil menembak jatuh delapan rudal Iran sebelum menghantam target pangkalan militer AS.
-
Iran meluncurkan rudal dan drone sebagai aksi balasan atas gempuran AS di Pulau Larak.
-
Konflik AS-Iran terus memanas akibat perselisihan navigasi Selat Hormuz dan kegagalan kesepakatan damai.
Suara.com - Angkatan Bersenjata Yordania berhasil melumpuhkan 8 rudal balistik Iran yang melintasi wilayah udara nasional mereka pada Senin pagi. Langkah penindakan cepat ini menghentikan potensi bahaya besar sebelum proyektil menembus zona pemukiman warga.
Penghancuran seluruh rudal di udara memastikan keselamatan masyarakat sipil serta aset infrastruktur di darat tetap terjaga. Aksi militer Yordania ini menjadi benteng pertahanan vital di tengah gempuran konflik kawasan.
Eskalasi senjata ini terpicu oleh langkah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) yang meluncurkan serangan balasan tajam. IRGC menyasar Pangkalan Udara AS King Hussein dan Azraq yang berdiri di wilayah Yordania.
![Ketegangan di Timur Tengah kembali memuncak setelah Iran dan Amerika Serikat saling menuduh melanggar kesepakatan gencatan senjata. [Istimewa]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/06/28/71017-rudal-iran.jpg)
Operasi udara Teheran mengombinasikan rudal balistik dan armada drone untuk menghancurkan fasilitas penempatan jet tempur AS. Pihak Iran mengklaim gempuran tersebut telah menimbulkan kerusakan parah pada infrastruktur militer lawan.
Langkah ofensif Iran ini merupakan respons langsung atas aksi militer Amerika Serikat di Pulau Larak sebelumnya. Pada hari Minggu, jet tempur AS melancarkan tembakan mematikan ke dua titik peluncur rudal milik Iran.
Seorang pejabat Amerika Serikat mengonfirmasi kepada Axios bahwa serangan ke Pulau Larak adalah tindakan pencegahan. Washington menduga peluncur tersebut sedang disiapkan untuk menembakkan roket pembawa ranjau laut ke Selat Hormuz.
Pihak IRGC melaporkan bahwa pengeboman AS di Pulau Larak mengakibatkan korban jiwa dan luka-luka dari kalangan prajurit maupun warga sipil. Teheran langsung bersumpah akan membalas setiap tetes darah yang tumpah akibat aksi tersebut.
Insiden berdarah di Pulau Larak mencatatkan sejarah baru sebagai gempuran perdana AS ke tanah Iran sejak akhir Juli. Situasi keamanan di kawasan Teluk pun seketika berada di titik nadir.
Ketegangan membara antara Teheran dan Washington sejatinya terus memuncak semenjak perang pecah pada akhir Februari lalu. Hubungan diplomasi kedua negara terus memburuk tanpa ada tanda-tanda mereda.
Upaya damai sebenarnya sempat diusahakan melalui penandatanganan kerangka kesepakatan pada Juni dengan mediasi Pakistan dan Qatar. Namun, kesepakatan diplomasi tersebut runtuh akibat perselisihan sengit terkait hak navigasi di Selat Hormuz.
Dampaknya, Amerika Serikat menggelar kampanye pengeboman masif selama dua minggu penuh pada bulan Juli. Washington juga kembali memberlakukan blokade laut ketat yang memicu aksi saling balas hingga hari ini.