-
Tim SAR mencari lebih dari 20 orang hilang pasca-banjir bandang di Grand Canyon.
-
Sebanyak 62 pendaki berhasil dievakuasi dari kawasan Phantom Ranch tanpa laporan korban luka.
-
Kerusakan jembatan dan bahaya puing memicu penutupan total rute pendakian serta Sungai Colorado.
Suara.com - Petugas National Park Service terus bergerak cepat menyisir kawasan terdampak banjir bandang yang menerjang area dalam Grand Canyon. Fokus utama operasi saat ini tertuju pada pengumpulan data dan penelusuran puluhan pengunjung yang terpisah di jalur ekstrim tersebut.
Upaya pencarian terpusat di sepanjang koridor Bright Angel Creek setelah gelombang air bah mendadak menerjang kawasan terpencil tersebut pada Sabtu sore. Otoritas setempat memprioritaskan keselamatan para penjelajah yang sempat mencatatkan reservasi perkemahan di area lintasan tersebut.
"Layanan Taman Nasional (National Park Service/NPS) meminta masyarakat memberikan informasi mengenai lebih dari 20 orang yang mungkin hilang atau belum diketahui keberadaannya," kata lembaga tersebut, dikutip dari Anadolu, Senin (31/8/2026).

Langkah penyelamatan ini memadukan kekuatan darat dan udara melalui kolaborasi ketat antarlembaga keselamatan publik. Sinergi ini difokuskan untuk mengamankan area terdampak yang memiliki medan sangat sulit dijangkau.
Petugas Taman Nasional Grand Canyon di wilayah tenggara AS saat ini berkoordinasi dengan Departemen Keselamatan Publik Arizona untuk melakukan evakuasi dan mencari kemungkinan keberadaan korban.
Proses evakuasi gelombang pertama berhasil menyelamatkan puluhan orang yang terjebak di titik-titik krusial lintasan bawah. Hingga saat ini tim penolong mengonfirmasi belum ada laporan mengenai korban yang mengalami luka berat.
Hingga Minggu pagi, sebanyak 62 orang telah berhasil dievakuasi dari Phantom Ranch dan bagian bawah North Kaibab Trail. Berdasarkan data terbaru yang tersedia, otoritas mengatakan belum menemukan adanya korban luka.
Kerusakan fisik di sepanjang lintasan pendakian tergolong sangat masif akibat hantaman material banjir berkecepatan tinggi. Putusnya sarana penyeberangan utama membuat akses mobilitas di dalam ngarai lumpuh total.
Daya hancur air bah melumat habis hampir seluruh jembatan penyeberangan yang membentang di atas Bright Angel Creek. Kondisi ini memutus jalur utama pendaki yang ingin menyeberangi anak sungai Colorado tersebut.
Penutupan akses secara luas terpaksa diberlakukan guna mencegah risiko bahaya susulan bagi para pengunjung. Pengelola memblokir seluruh titik perkemahan dan rute penjelajahan di kawasan terdampak.
Langkah pengamanan ketat diambil dengan membatasi akses menuju fasilitas penginapan dan area berkemah populer. Seluruh aktivitas pendakian di rute North Kaibab dihentikan sementara hingga batas waktu yang belum ditentukan.
Akses melintasi aliran air utama juga ditutup demi menghindari potensi bahaya dari struktur bangunan yang rusak. Jembatan ikonik Black Bridge dan Silver Bridge kini sepenuhnya steril dari aktivitas manusia.
Ancaman keselamatan di sepanjang aliran Sungai Colorado meningkat tajam akibat tumpukan puing material. Pihak berwenang melarang keras segala bentuk navigasi maupun kegiatan air di sungai tersebut.
Bahaya laten masih mengintai area ngarai mengingat prakiraan cuaca menunjukkan potensi hujan susulan yang cukup tinggi. Pengunjung imbau ekstra waspada terhadap ancaman tanah longsor dan pergerakan batuan mendadak.
NPS memperingatkan bahwa badai petir tambahan dan hujan lebat masih mungkin terjadi hingga Senin, yang berpotensi memicu aliran material puing dan longsoran batu lebih lanjut.
Kawasan Bright Angel Canyon dan Phantom Ranch merupakan jantung destinasi wisata ekstrim di pedalaman Grand Canyon yang sangat diminati pendaki dunia. Karakteristik topografi ngarai terjal membuat wilayah ini sangat rentan terhadap luapan air mendadak saat curah hujan tinggi terjadi di bagian hulu.
Insiden banjir bandang pada Sabtu sore langsung memicu krisis infrastruktur karena jembatan-jembatan penghubung di sepanjang Bright Angel Creek hancur dihantam bah. Kombinasi ancaman cuaca buruk berkelanjutan dan hancurnya akses fisik memaksa pengelola menutup total seluruh fasilitas penjelajahan utama demi keselamatan publik.