- Sebby Sambom mengklaim kelompoknya menembak empat aparat militer Indonesia di Kabupaten Yahukimo pada Jumat, 28 Agustus 2026.
- TPNPB menuding pemerintah Indonesia mengerahkan pasukan militer menggunakan pesawat sipil ke wilayah Yahukimo pada Sabtu, 29 Agustus 2026.
- Sebby mengancam akan mengeksekusi mati pesawat dan pilot sipil yang terbukti melayani kebutuhan aparat militer Indonesia di Papua.
Suara.com - Juru Bicara TPNPB-OPM, Sebby Sambom, mengklaim kelompoknya menembak empat aparat militer Indonesia yang disebutnya sebagai anggota Marinir dalam operasi gabungan di Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan.
Sebby menyebut penembakan itu terjadi di Jalan KPU dan wilayah Kali Biru, Distrik Dekai, Yahukimo, pada Jumat (28/8) lalu.
Klaim tersebut disampaikan Sebby dalam pernyataan yang mengatasnamakan Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB. Ia mengatakan laporan mengenai kejadian itu diterima dari Komandan Operasi TPNPB Kodap XVI Yahukimo, Mayor Kopitua Heluka.
"Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB telah menerima laporan resmi dari Komandan Operasi TPNPB Kodap XVI Yahukumo, Mayor Kopitua Heluka dari medan perang di Yahukumo bahwa kami berhasil menembak 4 aparat militer Indonesia dalam operasi gabungan di Jalan KPU dan wilayah Kali Biru, Distrik Dekai, Kabupaten Yahukumo pada hari Jumat, 28 Agustus 2026," kata Sebby dalam keterangannya, Senin (31/8/2026).
Sebby menyebutkan bahwa operasi tersebut dipimpin Mayor Kopitua Heluka dan Dejang Heluka bersama pasukan TPNPB Kodap III Ndugama-Derakma dari Batalyon WSM di bawah pimpinan Mayor Nabianus Gerebea, Asbrak Koranue, serta pasukan TPNPB Kodap XVI Yahukumo dari Batalyon Yamue.
Atas klaim tersebut, Sebby mengatakan TPNPB siap bertanggung jawab dan meminta Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto serta Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin mengumumkan korban dalam insiden tersebut.
"Kami siap bertanggung jawab penuh sehingga kami menyampaikan kepada Panglima TNI Agus Subyanto dan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin agar segera menggumumkan seluruh korban yang telah tewas dalam medan perang di Yahukimo," ucapnya.
Tak hanya soal penembakan, Sebby juga menyoroti pergerakan aparat militer Indonesia ke Yahukimo sehari setelah insiden tersebut.
Menurutnya, pada Sabtu (29/8) kemarin telah terjadi pengerahan pasukan militer menggunakan pesawat sipil ke wilayah Yahukimo.
Ia menyebutkan bahwa aparat militer Indonesia telah secara sembunyi-sembunyi dipindahkan dari pesawat ke beberapa mobil rantis dengan peralatan tempur dan langsung dibawa ke Markas Militer untuk melakukan operasi dari kampung ke kampung di daerah terpencil yang susah terjangkau dengan jaringan telepon dan internet.
"Sehingga mohon di pantau bersama terkait situasi dan kondisi warga sipil," pintanya.

Sebby menuding penggunaan pesawat sipil untuk kepentingan pengerahan militer berpotensi menyeret penerbangan sipil ke dalam konflik bersenjata di Papua.
Ia meminta pemerintah Indonesia menghentikan penggunaan maskapai penerbangan sipil untuk kepentingan militer, khususnya untuk mengangkut pasukan dan logistik militer di Papua.
"Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB juga menegaskan kepada pemerintah Indonesia agar hentikan menggunakan maskapai penerbangan sipil demi kepentingan militer di Papua terutama pendoropan militer dan logistik militer harus di hentikan dan menjunjung tinggi hukum humaniter dalam konflik bersenjata di Tanah Papua," ujarnya.
Sebby menyampaikan kecaman terhadap pesawat dan pilot sipil yang menurutnya diketahui melayani kebutuhan aparat militer Indonesia di Papua.
"Dan kami juga telah kedapatan bahwa banyak maskapai penerbangan sipil yang melayani aparat militer Indonesia di Tanah Papua sehingga seluruh pesawat dan pilot kami siap eksekusi mati kapanpun dan di mana pun jika kedapatan. Hal ini menjadi perhatian serius oleh pemerintah Indonesia serta seluruh pilot yang bertugas," kata Sebby.
Sementara itu, klaim TPNPB mengenai empat aparat militer yang ditembak serta tudingan penggunaan pesawat sipil untuk mengangkut pasukan tersebut masih memerlukan konfirmasi dari pihak TNI dan otoritas terkait.