- Arsid, seorang masyarakat adat Baduy Luar di Lebak, mulai memasarkan kain tenun serta kerajinan tradisional melalui platform e-commerce Shopee sejak tahun 2021.
- Ia harus berjalan kaki sejauh tiga kilometer setiap hari menuju Terminal Ciboleger untuk mendapatkan sinyal internet guna mengelola toko online miliknya.
- Pemanfaatan platform digital tersebut berhasil meningkatkan omzet bulanan hingga mencapai Rp10 juta dan memperluas jangkauan penjualan ke berbagai wilayah di Indonesia.
Suara.com - Perjalanan Arsid membawa kain tenun dan kerajinan masyarakat adat Baduy dari pedalaman Lebak ke pembeli di berbagai penjuru Indonesia melalui teknologi e-commerce Shopee.
.
Pagi di Kampung Gajeboh begitu sunyi. Tak ada suara kendaraan yang bersahutan seperti di tengah ibu kota. Hanya suara jangkrik yang perlahan menghilang berganti dengan kicauan burung di pepohonan sekitar kampung.
Arsid tidak punya banyak waktu untuk menikmati suasana itu. Tas berisi paket pesanan pelanggan sudah berada di tangannya. Dengan telepon seluler (ponsel) di genggaman, ia mempercepat langkah menyusuri jalan setapak menuju Terminal Ciboleger. Ia harus tiba sebelum kurir ekspedisi pergi.
“Kalau kesiangan nanti kurir ekspedisi keburu pergi. Harus cari sinyal juga buat cek pesanan di Shopee,” kata Arsid saat berbincang dengan Suara.com, Kamis (20/8/2026).
Arsid tinggal di Kampung Gajeboh, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak. Ia merupakan masyarakat adat Baduy Luar yang tetap menjalankan kehidupan berdasarkan tradisi leluhur. Di tanah adat tempatnya tinggal, sinyal internet tidak menjangkau permukiman, akses listrik juga tidak tersedia.
Bagi sebagian orang, membuka toko online cukup dengan menyentuh layar ponsel kapanpun dan dimanapun. Bagi Arsid, untuk sekadar memeriksa notifikasi di etalase digitalnya, ia harus berjalan sekitar tiga kilometer menuju Terminal Ciboleger, tempat terdekat untuk mendapatkan sinyal internet.
Jalan yang dilaluinya bukan jalan datar. Jalan setapak membelah perbukitan dengan tanjakan dan turunan yang harus dilewati dengan berjalan kaki. Pepohonan masih tumbuh rapat di kiri-kanan jalan. Sesekali di sela rimbunnya pepohonan terlihat huma atau ladang yang digunakan masyarakat Baduy untuk bertani.
Perjalanan tiga kilometer itu merupakan bagian dari rutinitas Arsid sejak menjalankan toko online. Sesampainya di Terminal Ciboleger, ia harus mencari titik dengan sinyal yang cukup untuk memeriksa notifikasi, memastikan pesanan, sekaligus menyerahkan paket kepada kurir.
Namun, tiga kilometer itu bisa terasa lebih jauh ketika kurir tidak datang mengambil paket. Arsid harus mencari ojek dan mengantarkan sendiri pesanan menuju titik pengiriman terdekat yang berjarak sekitar 20 kilometer. Ongkosnya sekitar Rp30 ribu sekali jalan.
Arsid memang telah memiliki etalase digital yang dapat diakses pembeli dari berbagai daerah. Namun, untuk terhubung dengan etalase itu, ia tetap harus meninggalkan rumah dan mencari sinyal.
Pasar digital telah membawanya menemukan pembeli jauh di luar Baduy. Menurut Arsid, etalase tersebut bukan sekadar tempat menjual kain dan kerajinan Baduy. Dari sana, ia berusaha menjaga agar warisan industri kreatif kampungnya tetap berkelanjutan, sekaligus membawa cerita tentang Baduy kepada masyarakat yang lebih luas.
“Saya meneruskan warisan dari kakek, melestarikan industri kreatif Kampung Gajeboh. Toko online ini yang banyak membantu saya,” kata Arsid.
Pagebluk Menjadi Titik Balik Usaha Digital

Sebelum pagebluk Covid-19, pembeli datang langsung ke Baduy untuk mendapatkan kain tenun, tas koja dan berbagai kerajinan yang dibuat masyarakat adat. Kedatangan wisatawan secara langsung ini menjadi jalur utama bagi produk-produk dari para penenun Baduy untuk sampai ke konsumen.
Situasi berubah drastis saat pagebluk menghentikan mobilitas masyarakat. Tidak ada lagi wisatawan yang datang ke Baduy dan membeli produk kerajinan masyarakat adat.
Di tengah penjualan yang merosot, Arsid tetap berkeliling ke lima kampung di sekitar Gajeboh untuk mengambil dan membayar hasil tenun dari 30 penenun binaannya. Ia juga memasok benang dan bahan baku yang dibutuhkan para penenun untuk terus bekerja.
Dalam tradisi masyarakat Baduy, laki-laki berperan menyediakan berbagai alat dan bahan untuk menenun, sementara perempuan sebagai penenun kainnya.
"Laki-laki yang menyediakan benangnya atau membuat tas koja. Kalau yang menenun kain harus perempuan," kata Arsid.
Para penenun yang bekerja sama dengan Arsid tidak setiap hari menenun. Mereka hanya menenun di sela aktivitas bertani di ladang. Dalam satu musim, seorang penenun bisa menghasilkan paling banyak enam lembar kain berukuran 2x1 meter.
Bagi masyarakat Baduy, menenun bukan sekadar aktivitas untuk mendapatkan penghasilan. Menenun menjadi bagian dari tradisi yang diwariskan lintas generasi dan terus dijalankan agar tidak hilang dari kehidupan masyarakat Baduy.
Anak-anak di Baduy sudah mulai menenun sejak berusia sembilan tahun, diawali dengan menenun selendang berukuran kecil. Ketika beranjak dewasa, mereka mulai menenun kain berukuran besar.

Hal itulah yang membuat Arsid tetap membeli kain dan produk kerajinan Baduy lainnya meski penjualan lesu selama pagebluk. Arsid tidak ingin terputusnya pasar membuat aktivitas produksi para penenun ikut berhenti.
Jika ia berhenti membeli hasil tenun, maka rantai produksi kain akan ikut berhenti. Lebih jauh lagi, tradisi menenun yang selama ini dijaga bisa ikut terputus.
"Proses menenun ini tetap harus berlanjut, kalau sampai berhenti nanti tidak ada lagi penenun dari Gajeboh, tidak ada uang yang masuk ke mereka. Jadi tetap saya beli,” kata Arsid.
Arsid masih ingat betul, pada 2021 rumahnya dipenuhi stok barang kerajinan Baduy. Salah satu yang paling banyak tersisa adalah tas koja dengan stok mencapai 2.000 buah.
Di titik itu, Arsid mulai memutar otak mencari jalan untuk menjual produk-produk tersebut. Sampai suatu hari, seorang pelanggan dari Jakarta yang sebelumnya sering berkunjung ke Baduy menyarankan Arsid membuka toko online. Tujuannya agar penjualan tetap berjalan di tengah pembatasan mobilitas. Dari sanalah perjalanan baru Arsid dimulai.
Keputusan Arsid beralih ke ruang digital terjadi ketika perilaku belanja masyarakat di berbagai belahan dunia juga berubah. UN Trade and Development (UNCTAD) mencatat rata-rata proporsi pengguna internet yang melakukan pembelian secara daring meningkat dari 53 persen pada 2019 menjadi 60 persen pada 2020-2021.
Indonesia ikut mengalami pergeseran aktivitas usaha ke ruang digital. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat adanya kenaikan jumlah usaha e-commerce dari 2,4 juta usaha pada 2020 menjadi 4,4 juta usaha di tahun 2024. Artinya, dalam empat tahun belakangan iini jumlah usaha e-commerce Indonesia tumbuh signifikan sekitar 86 persen.
Meski demikian, membuka toko online tidak semudah yang dibayangkan Arsid. Ia berkali-kali mengalami hambatan teknis karena masih gagap menggunakan teknologi. Rekannya membantu membuat akun Shopee sekaligus mengajarkan berbagai hal yang sebelumnya tidak pernah ia lakukan, mulai dari mengambil foto produk yang menarik, memeriksa pesanan, mencetak label hingga mengemas barang sebelum diserahkan kepada ekspedisi.
"Saya kan gaptek. Rekan saya dari Jakarta itu bantu buatin akun Shopee, ngajarin upload produk, cek pesanan," kata Arsid.
Arsid memberikan nama Batara Baduy Fashion Shop untuk toko online-nya. Perlahan etalase digital itu mulai menemukan pembelinya. Produk yang sebelumnya menunggu wisatawan datang ke Baduy itu mulai di kirim ke berbagai wilayah Indonesia, termasuk Kalimantan, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi hingga Papua.
Stok ribuan tas koja yang semula menumpuk di rumahnya perlahan habis. Penjualan yang sempat jatuh ketika wisatawan berhenti datang kembali bergerak melalui jalur yang sama sekali berbeda, yakni lewat layar ponsel.
Omzet Arsid mencetak rekor tertinggi mencapai Rp10 juta per bulan. Padahal, biasanya ia hanya bisa mengantongi sekitar Rp2 jutaan dari penjualan langsung.

Namun, memperluas pasar melalui ruang digital tidak serta-merta membuat aktivitas jualan Arsid menjadi mudah. Sebagai pelaku usaha yang tinggal di pedalaman, ia harus menemukan caranya sendiri untuk tetap terhubung dengan pembeli dan pesanan yang masuk.
Setiap pagi Arsid harus berjalan ke Terminal Ciboleger yang berjarak tiga kilometer dari rumahnya untuk mendapatkan sinyal internet. Tak jarang, setelah berjalan jauh dan menunggu seharian, ia pulang tanpa mendapatkan pesanan.
Persoalan lain muncul ketika produk yang diterima pembeli tidak persis sama dengan barang yang sebelumnya mereka lihat. Arsid menjelaskan, setiap batch pembuatan kerajinan terkadang memiliki perbedaan warna karena bergantung pada ketersediaan benang yang digunakan para penenun.
Ketika pembeli tidak menerima perbedaan tersebut dan pesanan dibatalkan, Arsid harus mengambil barang yang diretur di hub Rangkasbitung. Untuk perjalanan itu, ia harus mengeluarkan sekitar Rp60 ribu untuk ongkos ojek pulang-pergi.
“Karena gak standby setiap saat chat pembeli, jadi kalau ada miskomunikasi dan pesanan dibatalkan, jadi rugi,” ujar Arsid.
Digitalisasi Membuka Jalan ke Pasar Lebih Luas

Perpindahan dari pasar fisik ke ruang digital memang tidak selalu berjalan mulus, seperti yang dialami Arsid. Namun, etalase digital memberinya sesuatu yang sebelumnya sulit dijangkau dari Baduy: kesempatan menawarkan kerajinan kepada pembeli yang tidak pernah datang langsung ke tanah adat.
Pengalaman Arsid menjadi bagian kecil dari besarnya potensi digitalisasi UMKM di Indonesia. Data Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mencatat sekitar 30,2 juta unit UMKM nonpertanian serta 29,3 juta unit UMKM pertanian dan perikanan per 31 Desember 2025.
Perdagangan elektronik juga terus berkembang. Merujuk Survei E-Commerce BPS, jumlah usaha e-commerce meningkat dari 2,36 juta pada 2020 menjadi 4,40 juta pada 2024. Sebanyak 97 persen usaha e-commerce tersebut merupakan UMKM.
Bagi produk kreatif yang membawa identitas daerah, perluasan pasar digital memiliki arti lebih dari sekadar bertambahnya jumlah pembeli. Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya mengatakan, adopsi teknologi seperti kecerdasan artifisial (AI) dapat menciptakan ekosistem ekonomi kreatif yang lebih tangguh, inovatif dan adaptif.
“Dengan penguasaan digital, UMKM diharapkan mampu menembus pasar yang lebih luas tanpa kehilangan identitas karya Indonesia,” kata Riefky dalam keterangannya.
Peluang tersebut tercermin dalam riset Institute for Development of Economics and Finance (Indef) pada 2024. Sebanyak 33,86 persen UMKM yang sebelumnya berjualan secara offline kemudian memperluas bisnis secara online, sementara 61,02 persen lainnya menjalankan bisnis secara offline dan online sejak awal untuk mengembangkan usaha.
Riset yang sama mencatat Shopee menjadi platform digital yang paling banyak digunakan UMKM untuk mengembangkan usaha, yakni 50 persen. Sebanyak 66,28 persen UMKM yang berjualan menggunakan platform digital juga mengalami peningkatan omzet, dengan rata-rata kenaikan tahunan hingga 50 persen.

Temuan tersebut sejalan dengan upaya Shopee memperluas pasar produk lokal melalui ekosistem digitalnya. Shopee memiliki kanal Shopee Pilih Lokal yang menampilkan dan mengkurasi produk dari berbagai brand lokal. Pada 2025, penjualan produk lokal melalui platform tersebut meningkat hingga 55 persen.
Head of Corporate Affairs Shopee Indonesia Satrya Pinandita mengatakan UMKM dan produk lokal memiliki peran penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi digital Indonesia. Shopee terus mengembangkan program dan fitur untuk membantu pelaku usaha mengembangkan bisnis secara berkelanjutan, baik di pasar lokal maupun global.
“Melalui inisiatif dan program UMKM seperti Kampus UMKM Shopee dan Program Ekspor Shopee, kami ingin membuka lebih banyak akses, peluang, dan dukungan bagi UMKM untuk meningkatkan daya saing produk lokal serta menjangkau pasar yang lebih luas,” kata Satrya.
Dukungan tersebut juga menyasar peningkatan kapasitas pelaku usaha. Melalui Kampus UMKM Shopee, Shopee mencatat telah memberikan lebih dari 350.000 jam pelatihan kepada jutaan UMKM melalui berbagai materi pengembangan usaha.
Peluang memperluas pasar juga diarahkan hingga ke luar negeri. Berdasarkan data per Desember 2025, Shopee telah memasarkan lebih dari 90 juta produk UMKM ke berbagai negara di Asia Tenggara, Asia Timur, dan Amerika Latin. Malaysia, Singapura dan Filipina menjadi tiga destinasi ekspor teratas.
Peluang inilah yang ingin ditangkap Arsid dari pedalaman Baduy. Meski untuk sekadar membuka etalase digital ia harus berjalan tiga kilometer mencari sinyal internet, kini ia mulai membayangkan produk kerajinan dari kampungnya menempuh perjalanan yang jauh lebih panjang.
Selama ini, wisatawan mancanegara yang datang langsung ke Baduy menjadi salah satu pembeli hasil kerajinan tanah adat tersebut. Namun, Arsid ingin cerita tentang Baduy tidak berhenti pada wisatawan yang datang berkunjung. Ia ingin orang dari tempat yang jauh sekalipun dapat mengenal budaya dan kerajinan Baduy melalui etalase digital.
“Saat ini belum ada penjualan ke luar negeri. Semoga besok bisa masuk ke pasar ekspor,” kata Arsid.