- Lima mahasiswa UGM mengembangkan sistem pembayaran digital biometrik sidik jari bernama PolPay untuk mengatasi masalah transaksi.
- PolPay menggunakan sensor sidik jari pada perangkat EDC, enkripsi AES-256, dan edge computing demi keamanan data pengguna.
- Alat yang dibuat sejak Februari 2026 ini masih berupa purwarupa dan ditargetkan dapat terhubung dengan perbankan nasional.
Suara.com - Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan inovasi sistem pembayaran digital berbasis biometrik sidik jari bernama PolPay. Teknologi ini dirancang agar masyarakat dapat bertransaksi tanpa kartu maupun telepon genggam dengan mengutamakan keamanan, kecepatan, privasi, dan kenyamanan.
PolPay dikembangkan lima mahasiswa UGM yang tergabung dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang Karsa Cipta (KC).
Tim tersebut terdiri dari Tiara Ramadhani sebagai koordinator, M. Rakhma Aifil Indira pada bagian desain dan media sosial, Marcelino Budi Prakasya pada pengembangan perangkat lunak, Muhammad Fakhri Ghonim Setyanda pada bagian elektronis, serta Al Farabi Obiansyah yang menangani perancangan alat dan desain 3D.
Berawal dari 10 Ide
Koordinator tim PolPay, Tiara Ramadhani, mengatakan tim tersebut terbentuk dari pertemuan para anggota dalam ospek mahasiswa baru di UGM. Setelah terbentuk pada September 2025, mereka mulai mengumpulkan berbagai gagasan untuk mengikuti PKM.
Tim tersebut kemudian mengidentifikasi sejumlah persoalan yang dapat dijawab melalui sebuah alat inovatif.
"Jadi kita mengkaji dulu sebenarnya masalah apa sih yang ada terutama di pembayaran," kata Tiara ditemui UGM, Selasa (1/9/2026).
Awalnya tim sempat mengumpulkan sekitar 10 gagasan sebelum akhirnya menemukan konsep pembayaran menggunakan biometrik.
"Ide terakhir itu kita tuh nggak sengaja banget pas dari salah satu teman kita ngomong ke kita kayak, 'eh kayaknya keren deh kalau misalnya kita buat pembayaran kita nggak pakai QRIS tapi cuma pakai sidik jari' gitu," ucap Fakhri.
Ide tersebut lantas diteruskan ke dosen pendamping dan kakak tingkat (kating) di kampus. Ternyata ide tersebut disambut baik dan akhirnya dilanjutkan.

Berangkat dari Masalah 3K
Tim PolPay kemudian membangun konsep berdasarkan tiga persoalan utama dalam transaksi digital, yakni keamanan, kecepatan, dan kenyamanan. Mereka melihat penggunaan QR maupun kartu masih memiliki sejumlah ketergantungan dan risiko yang ingin mereka jawab melalui biometrik.
Rakhma menjelaskan salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah ketergantungan transaksi berbasis QR terhadap koneksi internet.
Kondisi jaringan yang tidak merata dinilai dapat memengaruhi pengalaman pengguna saat melakukan pembayaran, terutama di wilayah dengan kualitas jaringan yang tidak stabil.
"Jadi kalau misal kita ngomongin problem, itu ada tiga utama yang pertama terkait dengan tadi ada 3K: keamanan, kecepatan, dan juga kenyamanan," kata Rakhma.