-
Harga minyak dunia melandai akibat meredanya ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran.
-
Donald Trump menegaskan serangan terhadap Iran telah menghancurkan fasilitas militer di Selat Hormuz.
-
Aktivitas kapal komoditas di Selat Hormuz menurun di tengah pengetatan aturan oleh Iran.
Suara.com - Pasar minyak dunia mulai bergerak melandai akibat ketidakpastian dampak serangan militer susulan antara Amerika Serikat dan Iran, Kamis (3/9/2026). Penurunan ini dipicu oleh kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi terganggunya jalur distribusi energi dari kawasan Timur Tengah.
Kontrak berjangka Brent merosot 43 sen atau 0,45 persen menuju posisi 95,2 dolar AS per barel pada pukul 00.29 GMT. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) asal AS terkoreksi 24 sen atau 0,26 persen ke level 90,77 dolar AS.
Koreksi harga terjadi setelah volatilitas tinggi pada sesi sebelumnya, di mana kedua patokan sempat melonjak hingga 2 dolar AS sebelum jatuh 1 dolar AS per barel. Lonjakan tersebut bahkan sempat membawa harga Brent dan WTI menyentuh titik tertinggi sejak 24 Juli lalu.
![Ilustrasi harga minyak dunia. [Unsplash]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/06/05/54068-ilustrasi-harga-minyak-dunia.jpg)
Pelepasan tekanan harga minyak ini dipicu oleh indikasi awal meredanya ketegangan militer di lapangan. Analis pasar mencatat tidak ada laporan baku tembak baru sejak Rabu siang waktu Sydney.
Konfrontasi bersenjata terbaru ini menjadi baku tembak paling intensif antara Washington dan Teheran sejak Juli lalu. Isu keamanan ini terus membayangi pasar karena perang telah memasuki bulan ketujuh.
Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa operasi militer intensif terhadap sistem radar dan rudal Iran tidak akan berlangsung terlalu lama. Namun, pihak AS menegaskan kesiapan mereka untuk melakukan tindakan serupa kapan saja.
"Kami mengambil semua peralatan baru yang coba mereka bangun di sepanjang Selat Hormuz - beberapa bersifat defensif, beberapa ofensif ... Ini adalah serangan yang sangat berat semalam, dan kami siap melakukan serangan lainnya kapan saja kami mau," kata Trump, dikutip dari reuters.
Pihak analis menilai stabilitas pengiriman minyak sangat bergantung pada konsistensi penghentian kontak senjata tersebut. Jika situasi membaik, lalu lintas kapal tanker di area rawan diperkirakan bakal kembali normal seperti pekan lalu.
"Jika peredaan itu bertahan, dan itu adalah pengandaian yang besar, tidak akan lama sebelum minyak yang bergerak keluar dari Selat melalui transit kapal gelap dan transfer antar-kapal kembali ke tingkat yang kita lihat di akhir pekan lalu," kata anali IG Tony Sycamore.
Data pelayaran awal memperlihatkan penurunan aktivitas lalu lintas kapal komoditas di jalur vital perdagangan energi tersebut. Hanya ada empat kapal komoditas yang melintasi Selat Hormuz, jauh di bawah rata-rata 10 harian sebanyak 13 kapal.
Di sisi lain, pemerintah Iran memperketat aturan pelayaran di wilayah perairan yang mereka kuasai. Teheran menambah daftar kapal yang dianggap melanggar hukum dan terancam denda, penyitaan, hingga penahanan jika nekat melintas.
Meski demikian, pihak Amerika Serikat mengklaim volume pengiriman energi sempat mencatatkan rekor tertinggi dalam beberapa hari terakhir. Sebanyak 17 juta barel minyak dilaporkan sukses melintasi Selat Hormuz pada hari Senin.
Jumlah tersebut diklaim sebagai volume harian terbesar yang berhasil melewati Selat Hormuz sejak konflik bersenjata dimulai. Dinamika ini memperlihatkan betapa sensitifnya jalur navigasi tersebut terhadap pergerakan pasokan minyak global.
Latar belakang ketegangan ini berakar dari perang yang melibatkan AS, Israel, dan Iran yang telah berlangsung selama tujuh bulan terakhir. Konflik tersebut berulang kali mengancam keamanan Selat Hormuz, jalur perairan terpenting dunia yang mengalirkan porsi signifikan dari total pasokan minyak global.