-
Polisi Singapura mengumpulkan sampel DNA keluarga untuk membantu identifikasi sembilan warga yang hilang.
-
Korban tewas bencana banjir gletser Nepal-Tibet melampaui 1.000 jiwa dengan ribuan orang hilang.
-
Tim krisis dan ahli DVI Singapura dikirim ke Nepal untuk membantu operasi pemulihan.
Suara.com - Polisi Singapura resmi mengumpulkan sampel DNA dari pihak keluarga untuk mengidentifikasi sembilan warga negara Singapura yang masih hilang di Nepal. Langkah medis ini menjadi bagian penting dalam mendukung otoritas lokal mempercepat proses verifikasi jenazah korban banjir bandang di perbatasan Nepal dan Tibet.
Upaya pencarian dan penyelamatan terus dipacu walau genap sepekan pascabencana meluluhlantakkan kawasan pegunungan Himalaya tersebut. Lebih dari seribu orang dipastikan tewas, sementara ribuan warga lainnya masih terjebak di area terisolasi.
Penyelidikan intensif dan koordinasi lintas negara terus berjalan ketat demi kepastian nasib para korban. Otoritas Singapura mengirimkan personel khusus untuk memastikan penanganan identifikasi berjalan cepat dan akurat.

Mengenai langkah pengambilan sampel genetik tersebut, Kepolisian Singapura memberikan pernyataan resminya pada Rabu (2/9).
"Sampel-sampel ini dapat membantu dalam identifikasi korban, dan merupakan bagian dari upaya Singapura untuk mendukung otoritas Nepal dalam operasi pemulihan bencana dan identifikasi korban yang sedang berlangsung," ujar pihak Kepolisian Singapura, dikutip dari CNA.
Pihak kepolisian menegaskan bahwa proses pengumpulan data medis ini masih berjalan bersama keluarga terdampak tanpa membeberkan perincian teknis lebih lanjut. Di sisi lain, sembilan nama warga Singapura yang hilang telah terdata resmi oleh pemerintah Nepal.
Sembilan warga tersebut adalah Shubakshi Rawla, Sumit Rawla, Estee Loeh, Ghosh Aditi, dan Ng Kit Kuen. Selain itu, nama Rajesvaran Ayyavoo, Rengarajan Prabu, Shalinny Deavy Elan Sozan, serta Subramaniam Diraviam juga masuk dalam daftar pencarian.
Sebagai langkah konkret di lapangan, tim khusus yang membidangi identifikasi korban bencana atau DVI telah diberangkatkan menuju Nepal sejak Senin. Kementerian Luar Negeri Singapura juga mendirikan tim tanggap krisis di lokasi bencana sejak 27 Agustus untuk memberikan bantuan konsuler secara langsung.
Meski demikian, kecemasan mendalam masih menyelimuti pihak keluarga yang menanti kepastian di rumah. Putri dari pasangan Shubakshi dan Sumit Rawla mengaku belum menerima kabar terbaru mengenai proses pencarian orang tua mereka.
Petualangan para relawan dan tim SAR di medan berat Himalaya masih menyisakan harapan di tengah situasi krisis. Mereka terus membedah reruntuhan serta menyisir jalur air walau akses darat terputus total.
Fokus pencarian kini tertuju pada ratusan pekerja yang terperangkap di dalam saluran bawah tanah proyek pembangkit listrik. Lebih dari 600 pekerja hidroelektrik diduga kuat masih bertahan di dalam terowongan di utara kota Bidur.
Pemerintah setempat memperkirakan ratusan buruh lainnya juga terjebak pada 11 proyek pembangkit listrik di wilayah Rasuwa dan Nuwakot. Dua wilayah tersebut menjadi titik terparah yang menghambat pergerakan alat berat.
Bencana mematikan ini dipicu oleh luapan air danau gletser di kawasan Himalaya yang membobol tanggul alami hingga memicu banjir bandang dahsyat. Luapan air dalam volume raksasa menerjang permukiman dan infrastruktur di sepanjang perbatasan Nepal dan Tibet tanpa peringatan dini.
Badan Penanggulangan dan Pengurangan Risiko Bencana Nasional Nepal mencatat jumlah korban jiwa telah melampaui angka 1.000 orang. Sebanyak 987 jenazah berhasil diekstraksi, sementara 3.916 orang terdata hilang dan 11.814 warga berhasil dievakuasi selamat dari maut.