-
Serangan AS di Iran menewaskan 18 orang termasuk warga sipil pada acara pesta pernikahan.
-
PBB mengecam keras jatuhnya korban sipil dan mendesak penghentian segera seluruh aksi militer.
-
Ancaman Iran di Selat Hormuz mengganggu jalur distribusi 20 persen minyak dunia.
Suara.com - Serangan udara Amerika Serikat di wilayah pesisir Selat Hormuz menghantam sebuah acara pesta pernikahan dan menewaskan empat orang serta melukai puluhan warga. Eskalasi militer terbaru ini kembali menyedot perhatian dunia akibat melonjaknya angka kematian masyarakat sipil.
Menteri Kesehatan Iran mengonfirmasi sebanyak 18 orang tewas dan 108 lainnya luka-luka akibat gempuran AS pada Selasa malam. Di saat bersamaan, organisasi Bulan Sabit Merah Iran melaporkan 67 warga mengalami luka berat dan ringan di lokasi pesta pernikahan tersebut.
Aksi militer ini langsung memicu ketegangan baru di seluruh kawasan Timur Tengah setelah Iran meluncurkan balasan. Tehran mengarahkan tembakan rudal serta drone ke fasilitas militer AS di Bahrain, Yordania, Kuwait, dan Irak.

Pertempuran sengit ini meletus kembali setelah sempat mereda sejak pertukaran serangan terakhir pada Juli lalu. Negosiasi perdamaian yang berjalan stagnan membuat Presiden AS Donald Trump mengancam bakal mengerahkan kekuatan tempur yang jauh lebih besar.
Langkah ofensif Trump terus menuai penolakan publik domestik AS karena memicu lonjakan harga bahan bakar minyak. Di pihak lain, pemerintah Iran menegaskan sikap pantang menyerah meski harus menanggung kehancuran ekonomi dan kerugian militer yang masif.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres menyatakan keprihatinan mendalam atas jatuhnya korban dari kalangan masyarakat non-kombatan. Melalui juru bicaranya Stephane Dujarric, PBB mendesak seluruh pihak untuk segera menghentikan aksi militer.
Dujarric menegaskan pimpinan PBB mengutuk keras segala bentuk penyerangan yang menyasar penduduk sipil.
"Sekretaris Jenderal mengutuk semua serangan terhadap warga sipil. Ia mengingatkan bahwa semua pihak harus menghormati kewajiban mereka di bawah hukum humaniter internasional, termasuk prinsip-prinsip pembedaan, proporsionalitas, dan kehati-hatian," kata Dujarric, dikutip dari Reuters, Kamis (3/9/2026).
Laporan lembaga hak asasi manusia independen HRANA mencatat total kematian di Iran telah mencapai 3.636 jiwa per 7 April. Sebanyak 1,701 korban di antaranya merupakan warga sipil yang tidak terlibat pertempuran.
Di kubu lawan, militer Amerika Serikat mengonfirmasi sebanyak 18 prajurit mereka tewas dan lebih dari 750 personel mengalami luka-luka. Militer AS membantah tuduhan sengaja membidik kawasan pemukiman warga dalam operasi udara tersebut.
"Kami menyadari adanya laporan yang berasal dari media pemerintah Iran. Militer AS tidak pernah menargetkan warga sipil, tidak seperti IRGC," ujar juru bicara Komando Pusat Militer AS, Kapten Angkatan Laut Tim Hawkins melalui surat elektronik.
Rekaman video Bulan Sabit Merah Iran memperlihatkan puing-puing bangunan hancur dengan lubang besar di bagian atap akibat ledakan. Hasil verifikasi satelit Reuters mengonfirmasi menara listrik yang tumbang berada sejauh 136 meter dari lokasi bangunan yang rusak.
Tragedi pernikahan ini membangkitkan ingatan publik atas insiden ledakan sekolah anak perempuan di Minab pada hari pertama perang. Peristiwa tragis di Minab tersebut sebelumnya telah menewaskan 160 siswi di dalam kelas.
Pentagon hingga kini belum merilis hasil investigasi resmi terkait insiden berdarah di sekolah Minab tersebut. Dua sumber internal menyebutkan serangan mematikan itu diduga kuat dipicu oleh penggunaan data target militer AS yang kadaluwarsa.
Sejumlah anggota Kongres AS dari Partai Demokrat mendesak pemerintah membuka transparansi laporan penyelidikan insiden Minab. Namun hingga saat ini, dokumen resmi hasil investigasi tersebut belum diserahkan kepada para pembuat undang-undang.
Pendukung perang di AS berkilah bahwa jatuhnya korban jiwa juga dipicu oleh tindakan keras pemerintah Iran saat menumpas demonstrasi warga. HRANA mengklaim lebih dari 7.000 demonstran tewas dalam aksi protes Desember dan Januari lalu, sebelum serangan AS-Israel dimulai pada 28 Februari.
Sebagai bentuk pembalasan, Iran kini mengancam akan mencegat seluruh kapal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz tanpa izin resmi. Ancaman ini melumpuhkan lalu lintas maritim di jalur vital yang menyalurkan 20 persen pasokan minyak dunia sebelum perang meletus.
Donald Trump menegaskan tujuan utama perang ini adalah memberi dorongan bagi rakyat Iran untuk menggulingkan rezim pemerintahannya. Selain itu, Washington bertekad menghentikan program nuklir Iran dan memutus sokongan dana bagi kelompok militan Hamas, Hizbullah, dan Houthi.